READING

Munir, Setelah 15 Tahun Kasusnya Tak Terungkap

Munir, Setelah 15 Tahun Kasusnya Tak Terungkap

Sosok pria berambut hitam kemerahan itu selalu tersenyum. Kumisnya tebal, sewarna dengan rambutnya. Tahi lalat yang menyembul di sebelah hidungnya yang mbangir, menambah kharismanya.

Sayang, pria berperawakan kurus kelahiran Malang 1965 itu tak mampu lagi bergerak dan berbicara. Sosoknya hanya bisa dikenang dalam bingkai foto dan narasi cerita.

Iya, dialah Munir Said Thalib. Pria yang gencar memperjuangkan keadilan dan menyuarakan kebenaran. Munir menjadi korban pembunuhan dan 7 September 2019 adalah 15 tahun kematianya yang tidak pernah terungkap tuntas.

Seperti dilansir dari Kompas.com, para aktivis melihat pengungkapan kasus Munir hanya bersifat seremonial.

“Kami tidak melihat upaya lebih dari presiden. Apakah Presiden mengecek, mengontrol, memastikan anak buah sudah mencari dan mempelajari dokumen tersebut, ”tanya Yati Koordinator Kontras (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Kekerasan) di Kantor Kontras.

Munir dihabisi saat hendak meneruskan studinya di Belanda. Racun arsenik yang disebut mampu menamatkan dua ekor gajah itu bekerja saat dirinya berada di dalam pesawat (GA 974 Jakarta-Amsterdam) dengan ketinggian diatas 40 ribu kaki.  

Reaksi tidak nyaman itu sebenarnya mulai Munir rasakan sesaat setelah transit di Bandara Changi, Singapura. Dari keterangan para saksi mata, alumni Fakultas Hukum Universitas Brawijaya tersebut sempat ngopi di Coffee Bean.

Hasil investigasi kepolisian diperoleh nama Pollycarpus Budihari Priyanto, Ppilot Garuda yang saat itu seharusnya tidak berada di penerbangan. Pollycarpus yang diganjar 14 tahun penjara itu diketahui sempat memastikan keberangkatan Munir melalui istrinya.

Dia memastikan Munir benar-benar berangkat ke Belanda melalui penerbangan GA 974 yang dijadwalkan 06 September 2004 malam.

Dalam penyelidikan juga menyeret nama Indra Setiawan, Dirut PT Garuda Indonesia yang saat itu diketahui telah memberi surat tugas kepada Pollycarpus untuk ikut dalam penerbangan bersama Munir. Padahal saat itu Pollycarpus seharusnya sedang cuti.

Dalam kasus ini Indra hanya divonis hukuman satu tahun penjara. Dalam pledoinya di persidangan Indra mengaku ada permintaan dari Badan Intelijen Negara (BIN) untuk menempatkan Pollycarpus dalam penerbangan tersebut.

Pengadilan pun akhirnya membawa serta mantan Deputi V BIN, Muchdi PR sebagai terdakwa. Ganjilnya, hasil persidangan menyatakan Muchdi tidak cukup bukti terlibat. Kasus ini sudah berjalan 15 tahun. Namun hingga saat ini belum juga terungkap.

Pada saat masih berkuasa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pernah membentuk tim investigasi independen. Namun hingga kekuasaanya berakhir hasilnya tidak pernah dibuka ke publik. Ada dugaan kasus tersebut memang melibatkan petinggi BIN.

Setali tiga uang dengan Presiden Joko Widodo. Meski menginstruksikan kepolisian dan kejaksaan untuk terus melakukan penyelidikan, namun hasilnya juga tidak terlihat. Beragam asumsi dan spekulasi pun bermunculan. Otak pembunuhan Munir adalah “orang besar” yang bahkan presiden berikut jajarannya takut untuk menguak fakta.

Terlebih Pollycarpus yang seharusnya diganjar 14 tahun penjara, justru mendapat keringanan dan pada tahun 2014 lalu telah bebas. Begitu pula dengan vonis ringan yang dijatuhkan kepada Indra Setiawan.

Kendati demikian para pejuang HAM tidak berhenti bersuara. Bagi mereka semangat Munir harus terus bergelora.

Penulis : Dina Rosyidha

print

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.