READING

Museum HAM Munir Dibangun, Lalu Kapan Makam Tan Ma...

Museum HAM Munir Dibangun, Lalu Kapan Makam Tan Malaka?

MUSEUM HAM (Hak Asasi Manusia) Omah Munir, di Kelurahan Sisir Kota Batu, Jawa Timur akan bertransformasi menjadi gedung berlantai tiga dengan sejumlah fasilitas ramah lingkungan di dalamnya.

Pada lantai dasar akan tersedia ruang khusus untuk anak anak (kids corner). Selain menjadi wahana bermain, disana, para bocah yang bertandang juga berkesempatan mengunduh ajaran Hak Asasi Manusia.  

Munir Said Thalib merupakan tokoh HAM yang tewas dibunuh diatas pesawat Garuda Indonesia saat menuju Amsterdam, Belanda (7 September 2004). Dalam tubuh Munir yang dikenal gigih membongkar kasus Marsinah serta penculikan aktivis 1998 itu ditemukan cairan racun arsenik yang daya bunuhnya mampu menumbangkan seekor gajah.

Hadirnya ruang khusus anak anak sekaligus pembelajaran nilai HAM di museum menjadi terobosan baru. Bagaimana nilai HAM didistribusikan sejak dini yang itu selama ini tidak mereka peroleh secara khusus dalam kurikulum sekolah formal.

Yang belum jelas, bagaimana pendistribusian nilai HAM itu dikemas?. Apakah  disampaikan secara mentah atau disalurkan sesuai nalar bocah sekolah? Semisal dalam bentuk karikatur atau komik atau kekinian yang itu lebih bisa diterima tanpa beban dan penuh suka cita.

Disisi lain meski terlekat nama Munir, nilai nilai kemanusiaan yang diajarkan di museum diharapkan tidak “terperangkap” hanya pada figur Munir. Tidak berhenti pada seputar Munir sebagai sosok pejuang HAM pemberani yang itu layak diinspirasi.

Hal itu mengingat kejahatan HAM telah terjadi di masa lampau yang sama dengan kasus Munir, hingga kini tidak tuntas. Sebut saja peristiwa sepanjang tahun 1965-1968, dimana untuk tujuan pembelajaran anak bangsa, memori kelam itu layak dimuseumkan sesuai perspektif  HAM.  

Munir lahir 8 Desember 1965, di Malang Jawa Timur. Berpijak dari itu Pemerintah Provinsi Jatim mengambil momentum 8 Desember 2019 sebagai hari peletakan batu pertama pembangunan Museum HAM Munir.  

Dalam seremoni hadir Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. Disebelahnya terlihat Suciwati, istri Munir, Ketua Komnas HAM Ahmad Taufan Damanik, dan Ketua Yayasan Museum HAM Omah Munir Andi Achdian.   

Nantinya Acmad D Tardiyana selaku arsitektur bangunan, juga akan membuat ruang yang ramah bagi penyandang disabilitas. Dengan begitu kaum difabel yang berkunjung diharapkan bisa lebih mudah menangkap pesan yang ada.

Museum tiga lantai itu akan berdiri diatas tanah seluas 2.200 meter persegi yang statusnya (tanah) milik Pemkot Batu. Seluruh pembiayaan yang mencapai Rp 10 miliar bersumber dari APBD Provinsi Jatim.

Dalam waktu dua tahun pembangunan ditargetkan akan rampung. Suciwati, istri Munir menyebut Museum Munir mengusung konsep Rumah Pepeling (Rumah Pengingat).

Omah Pepeling, rumah pengingat yang itu juga bersinar. Tidak perlu pakai listrik terlalu banyak. Dan itu memang benar-benar ramah lingkungan, “kata Suciwati seperti dilansir dari Kompas.com.

Gubernur Khofifah Indar Parawansa berharap selain menjadi sarana edukasi, keberadaan Museum HAM Munir bisa meningkatkan angka kunjungan wisatawan, di Batu khususnya. Selama tahun tahun 2018, angka kunjungan wisatawan, baik dalam maupun luar negeri yang ke Batu mencapai 6,5 juta.

Khofifah juga menyampaikan, pembangunan Museum HAM Munir sebagai komitmen bersama dalam membangun kebersamaan, serta melindungi dan menjaga HAM masyarakat Indonesia.   

“Hal tersebut merupakan prinsip universal kemanusiaan yang harus terus kita diseminasikan, “ujar Khofifah seperti dikutip dari Antara.

Bergeser ke kaki Gunung Wilis, tepatnya di Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, tempat jasad pahlawan nasional Ibrahim Datuk Tan Malaka dikebumikan.

Tan meninggal dunia pada 21 Februari 1949, yang karena kecamuk politik di era rezim Bung Karno, tentara republik mengeksekusinya.

Pada tahun 2017, pihak keluarga bersama pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, sempat berusaha memindahkan jenazah Tan ke tempat lahirnya (Nagari Pandam Gadang, Suliki, Kabupaten Lima Puluh Kota). Namun upaya itu gagal.

Pemkab Kediri tidak mengizinkan dengan alasan Tan Malaka milik bangsa Indonesia. Alasan itu bisa diterima dimana pihak keluarga kemudian memutuskan hanya membawa pulang tujuh kepal tanah makamnya.  

Pada 14 April 2017, melalui upacara pemakaman resmi tujuh kepal tanah kuburan itu dibuatkan liang lahat dan menjadi makam Tan Malaka di Sumatera Barat. Meski mempertahankan jenazah agar tidak dipindah, hingga kini tidak terlihat ada upaya pembenahan yang diperlihatkan Pemkab Kediri.   

Tidak terdengar rencana pemugaran yang dibahas secara serius melalui politik anggaran. Begitu juga dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Hingga kini makam pejuang kemerdekaan itu tetap menjadi satu dengan makam warga setempat.

Satu satunya perhatian pemerintah hanya membangun jalan setapak berundak, berlapis semen, menuju area makam. Itupun baru dilakukan setelah keluarga dan pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota hendak berkunjung ke Kediri (2017).

“Tidak terlihatnya upaya pemerintah melakukan pemugaran makam menunjukkan status Tan Malaka sebagai pahlawan nasional sebenarnya belum diterima sepenuhnya, “ujar Weda, salah seorang pembaca karya Tan Malaka. (Mas Garendi)

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.