READING

Museum Samudraraksa Borobudur, dari Madura Menuju ...

Museum Samudraraksa Borobudur, dari Madura Menuju Sisi Lain di Accra

Mengenang sebuah pelayaran megah pada 17 Agustus 2003. Mengarungi tubuh Samudera Hindia dan Samudera Atlantik dengan kapal kayu tanpa mesin, mengandalkan angin, dari Indonesia hingga Accra, Afrika. Perahu buatan orang-orang laut Madura ini menghadirkan kembali kejayaan Nusantara sebagai penjaga samudera, Samudraraksa.

MAGELANG- Setiap kali berdiri di depan kemegahan Candi Borobudur, selalu saja terbayang kisah megah pembuatan candi dan relief yang melingkupi. Sejumlah 350-an ribu wisatawan singgah di candi ini pada saat liburan. Mereka datang bersenang-senang, berfoto, namun tak sedikit yang membaca relief candi. Salah satunya, panel yang menginisiasi lahirnya Museum Samudraksa. Museum yang memamerkan replika kapal dari relief candi. Bukan hanya replika mini, namun sebuah kapal sepanjang 18,25m dengan lebar 4,5m yang sungguh-sungguh menempuh jalur kayu manis. Jalur yang ditempuh nenek moyang kita pada abad ke-8 hingga sampai Afrika.

Saya beberapa kali singgah di museum ini, bahkan ketika masih sepi meski sudah dibuka sejak 31 Agustus 2005, namun saat itu belum banyak menarik minat. Ketika berselancar di internet, banyak sekali kisah yang memikat yang menarik saya untuk kembali ke sini. Museum yang selalu memberikan kebanggaan senyap pada diri saya. Meski, museum itu kini tak lagi senyap. Anak-anak yang mau tak mau ibunya menemani, berdiri agak lama di wahana multimedia. Sebuah sinema interaktif petualangan Raka Samudraraksa yang dibuka tanggal 15 Juni 2018 itu mengubah wajah museum menjadi modern. Kisah ekspedisi laut pada abad ke-8 hingga kapal Samudraraksa terpahat di relief Candi Borobudur renyah untuk dinikmati. Anak-anak dan pengunjung senang, bisa belajar sejarah tanpa dahi mengerut.

Kapal Samudraraksa, dibuat di Madura menempuh perjalanan hingga Afrika. FOTO: JATIMPLUS.ID/Titik Kartitiani

Di sisi lain dari wajah multimedia kekinian, berdirilah sosok Samudraraksa itu. Sebuah kapal kayu berkatir pendek yang menyimpan kisah pelayaran agung pada abad ke-8. Sekaligus sebuah ekspedisi membanggakan yang diulang pada abad ke-21, tepatnya pada tanggal 17 Agustus 2003 hingga Februari 2004, The Borobudur Ship.

Kapal kayu itu rasanya masih meniupkan aroma asin Samudera Hindia dan Atlantik yang dilalui. Jalur Kayu Manis yang legendaris menjadi kompas para pelaut, 13 abad kemudian. Sejumlah 27 orang menggerakkan Samudraraksa melalui Jakarta-Seychelles-Madagaskar-Cape Town-St. Hellena-berakhir di Accra (Ghana) dengan nahkoda Kapt. TNI I Gede Putu Sedana.

Meski kapal asli sudah dibongkar ketika berlabuh di pelabuhan terakhir, lantas dikirim kembali ke Indonesia dengan peti kemas melalui Pelabuhan Tanjung Mas (Semarang), dan dirakit kembali, kapal itu masihlah kapal yang sudah menempuh perjalanan sejarah. Bagaimana para pelaut bertahan menunggang angin yang tepat, menggerakkan layar yang terkadang melawan arah kompas, hingga menyaksikan konstruksi kapal yang ditautkan satu dengan yang lain tanpa paku dan logam adalah keahlian arsitektur kuno yang masih dimiliki para panritalopi (begawan kapal) Nusantara.

Mewujudkan “Fiksi Ilmiah”

Saya mendengar kapal Samudraksa pertama kali saat mengikuti Borobudur Writers and Cultural Festival 2013 dengan tema Arus Balik: Memori Rempah dan Bahari Nusantara, Kolonialisme dan Poskolonialisme. Pada hari ke-3, 20 Oktober 2013, temanya Penjelajah dan Kapal Nusantara. Salah satu pematerinya adalah Nick Burningham, pembuat kapal Samudraraksa. Kisahnya begitu memesona.

Ia mengisahkan perjumpaannya dengan Philip Beale, seorang sejarawan pada tahun 2002. Cita-cita Philip yaitu kembali melakukan pelayaran dari Nusantara ke Madagaskar, Afrika Timur, melewati Tanjung Harapan hingga ke Ghana (Afrika Barat) sebagaimana sejarah pelaut Nusantara. Kapal yang ingin dinaikinya sama dengan kapal nenek moyang yang terukir di relief Candi Borobudur.

“Saya sebelumnya telah mengatakan kapal Borobudur sebagai fiksi ilmiah yang gaib-science fiction weird,” kata Nick Burningham, ahli merancang replika kapal layar, terutama kapal layar Nusantara. Nick menyangsikan konstruksi kapal pada relief candi mengingat katir (cadik, sayap kapal) sangat pendek dan tak sesuai dengan lambung kapal.

Arsitektur kapal terdiri dari kayu yang kait mengait tanpa paku. FOTO: JATIMPLUS.ID/Titik Kartitiani

Katir pendek tak memberikan keseimbangan. Selain itu menurut Nick, katir berfungsi sebagai tempat pendayung dan penghalang serangan musuh. Satu pendayung minimal butuh ruang 1,2m untuk mengoperasikan dayung. Dengan menghitung ruang ini, maka Nick memperkirakan panjang kapal antara 15-20m. Sketsa dibuat, Nick mencari tukang pembuat kapal yang bisa mewujukan desainnya.

“Saya lebih memilih untuk membuat kapal di pulau kecil dan terpencil, karena masyarakat di pulau-pulau kecil lebih mandiri. Jika ada masalah, mereka bisa memecahkan sendiri dengan cepat dan efisien,” terang Nick.

Nick pernah membuat kapal di pulau kecil antara Sulaweis dan Flores, namun untuk membuat kapal Borobudur, ia memilih lokasi yang dekat dengan budaya Jawa sehingga pelaut akrab memakai jenis layar yang digambarkan di kapal Borobudur yaitu layar tanja.

Pagerungan Madura, Orang Bernyanyi Saat Bekerja

Mimpi itu terwujud di Pulau Pagerungan Kecil, gugusan Kepulaun Sapeken di Kabupaten Sumenep, Pulau Madura, Jawa Timur. Sebuah pulau berpasir putih yang kini juga menjadi tujuan wisata. Di sana, tinggal Assad Abdullah, pembuat kapal.

“Berbicara dengan Pak Assad beberapa menit, saya sudah yakin bahwa beliau adalah tukang pandai yang paling pantas untuk membuat kapal Borobudur,” kenang Nick. Kini Assad sudah meninggal.

Madura sesungguhnya dilahirkan oleh orang-orang laut. Perahu-perahu berlambung bulat dengan konstruksi khas, disebut lete lete, mengambang di permukaan lautnya. Khusunya di Pegerungan, Nick mendeskripsikan bahwa di sana, orang bernyanyi saat bekerja. Hal itu kontras dengan ombak besar yang ganas melintasi pulau-pulaunya. Perjalanan saya dari pelabuhan Kali Anget (Kabupaten Sumenep) menuju Pulau Raas denga kapal komersial melewati gugusan pulau Sapeken ini cukup membuat isi perut keluar. Sementara saya bersama dengan masyarakat lokal yang begitu santai diombang-ambingkan ombak seperti di belaian.

Setelah kontrak kerja dengan Nick dan Philip, Assad berjanji akan mengumpulkan bahan selama sebulan dan akan mewujudkan perahu dalam waktu 6 bulan. Ia menepati janjinya. Setelah satu bulan, kayu kesumbi untuk lunas kapal sudah menyambut kunjungan Nick. Dalam pembuatan kapal, lunas adalah sesuatu yang sakral. Makanya ada upacara sambung lunas. Menjelang sambung lunas, Asaad meminta syarat pada Nick.

“Desainmu panjang kapal 17m, saya ingin memanjangkan jadi 19m,” kata Nick menirukan kata Assad yang tentu saja sangat disetujui Nick.

Demikianlah, tepat pada waktunya, kapal sepanjang 18,2m dengan lebar 4,25, dan tinggi 18m terwujud. Pelayaran pertama ke Banyuwangi. Kemudian dilanjutkan dengan tiga pelayaran di pesisir Jawa yaitu Banyuwangi ke Surabaya, Surabaya-Semarang, dan Semarang hingga Jakarta. Masing-masing pelayaran ini sekaligus memilih pemuda lokal untuk diajak ekspedisi kapal Borobudur.

Detail perahu yang memikat. FOTO:JATIMPLUS.ID/Titik Kartitiani

Pada tanggal 17 Agustus 2003, Presiden Megawati meresmikan keberangkatan kapal yang kemudian dinamai Samudraraksa, penjaga samudera Nusantara. Hal yang membuat Nick dan kru kapal terkenang ketika Presiden ingin naik kapal. Sebab di sana tak ada tangga kapal (gangway), sementara katir menghalangi naik ke kapal.

“Buru-buru kami mengatur papan dan batang bambu sebagai pegangan. Untungnya Presiden memiliki keseimbangan yang baik,” kenang Nick. Akhirnya, kapal itu menempuh perjalanan panjang antar benua. Perjalanan yang membawa awak kapal dari berbagai latar belakang dan berbagai suku. Dari 14 orang awak yang bersama Nick pada awal pelayaran, kemudian ada yang berganti di persinggahan.

Nick kemudian menyusun catatan mulai dari ia bertemu Philip hingga usai pelayarannya dalam makalah The Borobudur Ship Nusantara Memperluas Hungga Afrika dan Berkesenian Tinggi (2013). Sebuah catatan menarik yang kemudian akan menambah kekayaan kisah Museum Samudraraksa. Meski ketika kita berselancar di internet, akan banyak sekali kisah ini dituliskan. Kisah Nick salah satu kisah yang penting dari pewujud kapal bersejarah ini (Titik Kartitiani).

Print Friendly, PDF & Email

Titik Kartitiani

sunset lover, traveler, writer, and fulltime dreamer :)

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.