READING

Mutilasi Guru Honorer Kediri Karena Amarah atau Me...

Mutilasi Guru Honorer Kediri Karena Amarah atau Menghapus Jejak?

BUDI Hartanto (28) menjadi korban pembunuhan sadis. Saat ditemukan di bawah jembatan Desa Karanggondang, Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar Rabu (3/4), jasad Budi meringkuk di dalam sebuah tas koper. Kepala warga Kelurahan Tamanan, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri terlepas dari batang lehernya.

Kepala guru honorer di salah satu sekolah dasar Kota Kediri dan memiliki hobi menari itu, hingga kini masih dalam pencarian petugas. Mengapa Budi Hartanto dihabisi?. Apa yang mendorong pelaku nekat melakukan perbuatan keji itu?. Apakah terkait dengan penguasaan harta?, atau karena persoalan asmara atau dendam lama?.

Tanpa teringkusnya pelaku, semua pertanyaan itu tentu tidak akan pernah terjawab. Namun dalam teori kriminologi setidaknya ada dua jenis dorongan yang melandasi terjadinya pembunuhan. Pembunuhan yang sengaja dilakukan atau diniatkan (intended) dan pembunuhan yang tidak diniatkan (unintended).

Pembunuhan yang diniatkan misalnya perampokan. Pelaku sengaja menghabisi korban lantaran untuk menghilangkan jejak kejahatan. Motifnya menguasai harta. Ada juga pembunuhan yang dipicu sengketa warisan, asmara, dendam atau kekuasaan. Sedangkan pembunuhan yang tidak diniatkan biasanya terkait dengan upaya pembelaan diri yang berakibat hilangnya nyawa orang lain.

Kelalaian yang berdampak lenyapnya nyawa orang lain juga digolongkan sebagai pembunuhan yang tidak diniatkan. Dalam sebuah artikel Ketua Departemen Krimonologi Universitas Indonesia Iqrak Sulhin mengatakan sadis tidaknya sebuah pembunuhan bisa dinilai secara kualitatif atau kuantitatif. Mutilasi misalnya, dikategorikan sebagai pembunuhan kualitatif.

Menurut Iqrak ada dua alasan pelaku menempuh cara mutilasi. Pertama untuk menumpahkan amarah (pelaku) kepada korban. Saking marahnya, korban dieksekusi secara sadis, yakni dengan dipotong potong. “Kedua, ada juga (mutilasi) yang bertujuan untuk menghilangkan jejak, “katanya. Dalam kasus pembunuhan intended atau yang diniatkan, nyaris tidak ada yang dilakukan oleh orang asing.

Pembunuhan berencana (intended) seringkali dipicu hilangnya mekanisme sosial yang memberi ruang perbincangan antara korban dan pelaku. Artinya antara korban dan pelaku biasanya sudah saling kenal dan telah terjadi persoalan dalam  interaksi sosial. “Adanya masalah dalam interaksi sosial berujung pada terjadinya kekerasan, “terangnya.

Belasan Orang Dekat Korban Diperiksa

Dalam kasus pembunuhan mutilasi Budi Hartanto, polisi telah memeriksa sebanyak dua belas orang. Mereka yang dimintai keterangan sebagai saksi ini berasal dari lingkungan terdekat korban, yakni keluarga dan teman temanya. “Sedikitnya ada 12 orang yang diperiksa sebagai saksi, “ujar Kasatreskrim Polres Blitar Kota AKP Heri Sugiono.

Usai diotopsi di RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar, Kamis (4/4) dini hari jenazah Budi langsung dipulangkan ke rumah duka. Meski kepalanya belum ditemukan, jasad putra sulungdari tiga bersaudara  pasangan suami istri Darmaji dan Hamidah langsung dimakamkan. Budi merupakan guru honorer di salah satu sekolah dasar di Kota Kediri.

Selain guru tari Budi juga memiliki hobi menari. Diluar aktifitasnya sebagai pendidik korban  juga memiliki usaha warung kopi di dekat stadion Joyoboyo Kota Kediri. Yang bersangkutan juga membuka usaha counter telepon selular. Pengakuan pihak keluarga, Budi pamit keluar rumah Selasa malam (2/4).  

Sehari sebelum ditemukan termutilasi korban mengendarai sepeda motor sambil membawa laptop dan sejumlah uang yang informasinya untuk persiapan sebuah kegiatan. Dalam otopsi terungkap pada lengan jasad Budi juga terdapat luka menganga seperti bekas bacokan. Saat dihabisi diduga korban sempat melawan.  

Penanganan kasus pembunuhan mutilasi ini kini diambil alih Polda Jawa Timur yang tetap melibatkan petugas gabungan Polres Blitar Kota dan Polres Kediri Kota. Karenanya pemeriksaan dilakukan di Mapolres Kediri Kota. Menurut Heri Sugiono beberapa penyidik Polres Blitar Kota juga telah dikirim ke Kediri.  

“Kami telah diminta mengirimkan penyidik ke Kediri, “kata Heri. Pengambilalihan perkara oleh Polda Jatim dibenarkan Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Frans Barung Mangera. Dalam pesan WAnya Barung beralasan kasus berlangsung di dua locus, yakni Kota Kediri selaku tempat tinggal korban dan Kabupaten Blitar sebagai lokasi penemuan mayat korban.

“Agar cepat terungkap kasus diambil alih Polda Jatim, “katanya dalam pesan WA. Pengungkapan kasus kata Barung harus segera dilakukan. Saat ini polisi sudah mengantongi beberapa hal terkait kasus yang terjadi. Namun hal itu belum bisa disampaikan ke publik karena khawatir pelaku kabur semakin jauh sekaligus menghilangkan barang bukti.

“Secepatnya (pelaku) akan kita tangkap, “janji Barung dalam pesan WAnya. (Mas Garendi)

print

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.