READING

Nafas Perjuangan HAM Munir dalam Seni Ruang Publik

Nafas Perjuangan HAM Munir dalam Seni Ruang Publik

BATU – “Ketika media advokasi HAM lainnya terbelenggu, diabaikan oleh Negara, maka saat itulah seni bicara melalui karya-karyanya,” kata Suciwati istri almarhum Munir kala ikut membuka pameran seni rupa di Kota Batu kemarin (24/6). Bertempat di Pendopo Balai Kota Among Tani, pameran bertajuk Hak Atas Kehidupan yang Layak pun bagai nafas Munir yang terus berhembus untuk memperjuangkan Hak Asasi Manusia (HAM) yang ia perjuangkan kala masih hidup. Walaupun raganya telah tiada akibat perjuangannya, namun karya seni rupa yang dipamerkan itu seperti malah memperpanjang usia perjuangannya.

Ada sekitar belasan karya seni rupa ikut dipamerkan dalam pameran ini. Karya-karya tersebut adalah dari 10 karya terbaik dan 3 finalis Kompetisi Seni Rupa Ruang Publik Omah Munir yang berlangsung sejak 23 hingga 29 Mei 2019 lalu. Karya-karya terbaik yang erat kaitannya dengan nafas perjuangan Munir itu pun telah lolos penjurian ketat dari sekitar 80 karya yang masuk. Tercatat seniman Dolorosa Sinaga hingga sastrawan Seno Gumira Ajidarma menjadi dewan juri dalam kompetisi ini. “Karya para seniman dalam pameran ini cukup penuh makna dan mengambarkan kenyataan tentang hak yang harus segera dipenuhi,” ujar Suciwati.

Ada beberapa karya yang berkesan menurut Suciwati,  di antaranya adalah patung berjudul Touch Me If You Dare karya Alfiah Rahdini dari Bandung. Karya hasil rekonstruksi patung Dewi Sunti Sunyaragi dari Babad Cirebon ini mengandung mitos berupa tuah bagi para perempuan lajang ini menghadirkan pesan Hak Asasi terkait dengan pendeskreditan peran perempuan. Ada mitos yang berkembang jika perempuan memegang patung itu bisa menjadi perawan tua dihadirkan sebagai gambaran ketakutan perempuan akan momok yang berkembang di masyarakat. “Pesan yang disampaikan cukup kuat terlebih untuk isu hak perempuan, terlebih dengan momok status perawan tua membatasi kebebasan berekspresi para perempuan itu sendiri,” terangnya.

Patung berjudul Touch Me If You Dare yang mengambarkan isu hak perempuan. FOTO: JATIMPLUS.ID/Moh. Fikri Zulfikar.

Karya lain yang menurut Suciwati tidak kalah menarik seperti seni berjudul For The Burnt Flower, I Race karya Raymond Gandayuna seniman asal Depok. Semangat memperjuangan hak atas kehidupan layak digambarkan dengan replika alat yang menyerupai pedal sepeda kayuh yang harus diputar dengan kuat hingga mengeluarkan  api yang menyimbolkan perjuangan keras. “Karya ini bagi saya menyimbolkan hak harus diperjuangkan sekuat mungkin dengan gambaran usaha mengayuh pedal itu. Dari usaha itulah bara api tercipta atas jerih payah semangat yang tak pernah padam,” ungkapnya.

Dalam kesempatan itu, Suciwati juga menjelaskan terkait rencana pembangunan museum HAM Omah Munir yang baru dan akan dipindah lokasinya ke Kelurahan Sisir, Kota Batu. Dalam perpindahan ini nama museum akan berganti menjadi Omah Papeling. Omah Papeling sendiri diambil dari bahasa Sunda yang artinya bercahaya. “Munir kan juga berarti cahaya. Itu yang melatarbelakangi nama Papeling ini,” ujar Suciwati.

Pembangunan museum baru kerjasama Pemprov Jatim dan Pemkot Batu diharapkan dimulai tahun ini. Museum Omah Papeling disiapkan menjadi pusat edukasi terkait dengan Hak Asasi Manusia bagi generasi muda. Terkait pemindahan yang tetap berada di Kota Batu, menurut Suciwati karena Batu merupakan daerah bersejarah bagi Munir. Selain lahir dan hidup di kota dingin ini, Munir memulai dan berjuang di jalur HAM juga erat kaitannya dengan Kota Batu. “Kota Batu sebagai sejarah tidak bisa terlepas dari perjuangan awal Munir,” jelasnya.

Pengunjung mengamati seni rupa yang bertemakan Hak Atas Kehidupan yang Layak. FOTO: JATIMPLUS.ID/Moh. Fikri Zulfikar.

Lebih lanjut Suciwati menjelaskan, bahwa belasan karya yang dipamerkan nantinya  akan mengisi instalasi Omah Papeling. Dalam pembangunan Museum Omah Papeling,  Yayasan Museum Omah Munir akan  melibatkan desainer dari Ikatan Arsitek Indonesia (IAI). Selain itu juga menggandeng pegiat seni rupa untuk mendesain instalasi sekaligus mengisi ornamen yang akan menghiasi museum. “IKJ (Institut Kesenian Jakarta, Red) telah bersedia menyumbang ide dan pikiran untuk mengisi museum,” tegas Dewan Pembina Yayasan Museum Omah Munir ini.

Kegiatan pameran dibuka langsung oleh Walikota Batu Dewanti Rumpoko yang mengaku cukup apresiatif melihat karya-karya seniman mengeskpresikan hak asasi yang lekat dengan Kota Batu. Dalam sambutannya Dewanti menerangkan jika Museum HAM ini telah lama dibahas bersama Yayasan Museum Omah Munir dan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indarparawansa. “Secepatnya akan dibangun sehingga museum ini nantinya bisa segera menambah pengetahuan masyarakat terkait dengan HAM,” ujarnya.

Menurut Dewanti,  pemindahan museum dari daerah Jl. Bukit Berbunga Kelurahan Sidomulyo, Kota Batu merupakan bentuk dukungan pemerintah terhadap pendidikan publik tentang HAM. Tidak hanya itu, karena Kota Batu juga dikenal sebagai Kota Wisata, pembangunan Omah Papeling ini secara tidak langsung  akan menguntungkan Pemkot Batu,  karena sebagai media pendidikan akan menjadi objek wisata baru yang sangat mengedukasi masyarakat. “Cukup bermanfaat, karena akan lebih mengenalkan nama Kota Batu dengan adanya museum HAM ini,” tegas walikota ini. (Moh. Fikri Zulfikar)

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.