READING

Naik Gunung Ijen Saat Puasa? Kenapa Tidak!

Naik Gunung Ijen Saat Puasa? Kenapa Tidak!

Saat menjalankan ibadah puasa, beraktivitas di luar ruangan menjadi tantangan tersendiri. Seperti aktivitas pendakian gunung yang tentu memerlukan persiapan khusus. Gunung Ijen punya solusi untuk para pendaki yang ingin tetap naik saat puasa.

BANYUWANGI – Berpuasa di bulan Ramadan bukan lah penghalang bagi wisatawan yang ingin menikmati keindahan Gunung Ijen. Justru saat Ramadan tiba, pendakian gunung yang berada di wilayah Kabupaten Banyuwangi dan Bondowoso ini tergolong sepi ketimbang hari-hari biasa.

Menurut data BKSDA, kunjungan wisatawan nusantara (wisnus) saat bulan Ramadan mengalami penurunan. Dalam rentang awal puasa hingga 25 Mei 2019, jumlah wisnus yakni 1.437 jiwa dengan rata-rata puluhan orang per harinya. Angka kunjungan tersebut tentu jauh jika dibandingkan dengan bulan lain yang mencapai jumlah kunjungan ratusan hingga ribuan wisatawan per hari. “Untuk wisman (wisatawan mancanegara) relatif berangsur naik. Tapi untuk wisnus turun,” papar Kepala Resort Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Ijen, Sigit Haribowo kepada Jatimplus.id.

Penurunan kunjungan wisnus tersebut membuat Gunung Ijen terkesan lebih privat dan cocok untuk pendaki yang sedang berpuasa, sebab selain jalur pendakian yang lebih lengang, pengunjung dapat lebih selow menikmati perjalanan. Seperti penuturan Andika Rahmat, anggota Himpunan Pramuwisata Indonesia yang hampir setiap minggu naik Ijen mengantarkan tamu. “Memungkinkan sekali (mendaki Gunung Ijen) dalam keadaan puasa,” ungkapnya optimis. Andika menambahkan, persiapan mental dan fisik merupakan modal penting bagi para pendaki.

Wisatawan berpose di puncak Kawah Ijen. FOTO: JATIMPLUS.ID/Suci Rachmaningtyas.

Sebelum melakukan pendakian, ada baiknya jika membiasakan untuk rutin berolahraga agar otot tidak kaku dan tubuh tetap bugar. Olahraga seperti lari kecil atau berjalan cepat dapat membantu meregangkan otot dan sendi sebelum pendakian dimulai. “Pas pendakian itu usahakan jalannya stabil, tidak terlalu cepat. Pelan tapi pasti,” terang Andika yang telah berpengalaman membawa tamu ke Ijen sejak tahun 2011.

Menjaga pola makan saat berbuka dan sahur sebaiknya dilakukan agar keseimbangan tubuh tetap terjaga. Selain itu, persiapan logistik sebelum pendakian juga perlu diperhatikan. Pendaki sebaiknya membawa bekal makanan berserat siap santap, serta air putih yang cukup untuk persiapan sahur saat berada di puncak Gunung Ijen.

Selanjutnya, usahakan membawa barang secukupnya seperti sarung tangan, masker, jaket, kaos kaki, obat pribadi, dan sesuaikan jenis ransel sesuai kebutuhan. Disarankan agar pendaki juga menggunakan jasa para pemandu lokal seperti Andika agar dapat memberikan informasi faktual tentang kondisi Kawah Ijen.

Pendakian Gunung Ijen saat berpuasa lebih tepat dilakukan pada dini hari, yakni pada pukul 02.00 WIB. Perjalanan dimulai dari Pos Paltuding, yakni pintu gerbang utama kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Ijen. Perjalanan menuju puncak membutuhkan waktu sekitar dua jam dengan jarak tempuh 3 kilometer. Lintasan awal cukup menanjak, yakni dengan kemiringan sekitar 25 hingga 35 derajat. Pengunjung diharapkan menggunakan sepatu hiking agar tidak terpeleset. Karena selain menanjak, struktur tanah pada jalur pendakian cukup berpasir.

Meski membutuhkan perjuangan lebih, namun pemandangan gunung dengan ketinggian 2386 mdpl ini sangatlah mengagumkan. Jika berangkat dini hari, pengunjung dapat menyaksikan salah satu fenomena alam yang kemunculannya cukup langka, yaitu adanya api biru atau yang sering disebut blue fire Kawah Ijen. Di sela menyaksikan api biru dari puncak, jangan lupa menyantap bekal sahur ya.

Keindahan matahari terbit semakin mempertegas sisi dramatis kemegahan kaldera dengan kawah yang berwarna hijau toska. Agar tak terlalu siang, setelah menikmati udara hangat mentari pagi, pengunjung dapat segera turun sebelum matahari semakin menyengat. Pemandangan indah saat turun gunung juga tak kalah menarik. Hawa sejuk Gunung Ijen membuat aktivitas turun gunung terasa lebih ringan. Dan jangan lupa untuk selalu bertanggungjawab terhadap sampah yang kamu bawa ya.

Selain menawarkan pemandangan dan kesan tak terlupakan, tiket masuk ke TWA Kawah Ijen tergolong murah, lho. Tiket wisnus hanya 5 ribu rupiah saja untuk hari aktif dan 7500 rupiah untuk akhir pekan. Sementara tiket bagi wisman yakni sebesar 100 ribu untuk hari aktif dan 150 ribu untuk akhir pekan.

OJEK TAKSI: ALTERNATIF NAIK IJEN

Selain pemandangan alam yang mempesona, Gunung Ijen sekaligus memiliki fenomena sosial yang menarik perhatian. Yakni adanya aktivitas para penambang yang hilir mudik membawa bongkahan batu belerang. Bongkahan belerang yang telah diambil dari dapur kawah kemudian diangkut menggunakan keranjang menuju puncak. Sesampainya di atas, bongkahan belerang tersebut ditaruh di sebuah troli sebelum diangkut ke bawah menuju ke Pos Paltuding.

Dalam perkembangannya, sebagian dari penambang tersebut ada yang beralih profesi sebagai penyedia jasa troli untuk penumpang. Troli yang dulunya mereka gunakan untuk mengangkut belerang, dimodifikasi sedemikian rupa agar nyaman dinaiki penumpang. Seperti tambahan busa dan kulit sintetis agar lebih empuk saat penumpang duduk dan menyandar. Selain itu, modifikasi tromol rem ditujukan agar semakin aman saat mengangkut tamu.

Wisatawan TWA Kawah Ijen mengunakan jasa ojek troli. FOTO: JATIMPLUS.ID/Suci Rachmaningtyas.

Angkutan troli di Gunung Ijen bermula dari bantuan seorang wisman asal Swiss yang menetap di Bali. Menurut Suparto Ketua Paguyuban Troli Kawah Ijen mengatakan, bule laki-laki tersebut memberikan bantuan berupa troli karena merasa iba terhadap perjuangan para penambang belerang yang begitu gigih. Sekitar tahun 2013, para penambang tersebut diberi sekitar 30 troli per bulan. Total sekitar 100 troli diberikan secara gratis untuk para penambang.

“Paguyuban Troli Kawah Ijen saat ini memiliki jumlah 40 troli dengan total 120 pengojek,” ungkap Parto, panggilan akrabnya.

Harga jasa angkut troli di Kawah Ijen cukup bervariasi. Untuk wisnus, jasa per troli dipatok dengan harga 800-600 ribu rupiah untuk pulang pergi. Untuk sekali jalan, biasanya penumpang cukup membayar jasa dengan kisaran harga 250-200 ribu saja. Sementara untuk wisman, dalam sekali angkut, ojek taksi dapat meraup rupiah hingga satu juta per troli.

Namun hasil tersebut dibagi setidaknya untuk 3 sampai 4 orang penyedia jasa untuk setiap troli, tergantung dari berat si penumpang. Setiap troli akan ditarik oleh 3 orang dengan mengikatkan tali ke bagian perut mereka yang terhubung dengan troli dan satu orang sebagai pengemudi dan pendorong laju kendali.

Parto bercerita jika dahulu awal troli pertama kali digunakan masih menggunakan ban sepeda kayuh, sehingga tidak kuat untuk membawa beban terlalu berat. Untuk menopang berat jumlah belerang yang diangkut turun, modifikasi pertama dilakukan dengan mengganti ban. Yakni mengganti dengan ban sepeda motor.

Jasa angkutan troli ini bisa menjadi alternatif untuk pengunjung yang ingin menikmati keindahan alam Gunung Ijen saat bulan Ramadan. Jika berangkat saat dini hari, jangan khawatir, para pengojek troli sudah bersiap di puncak untuk membawa pengunjung turun. Dijamin nggak bakal capek deh. (Suci Rachmaningtyas)

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.