READING

Nasi Goreng Tiwul Lereng Wilis, Masakan Jawa Yang ...

Nasi Goreng Tiwul Lereng Wilis, Masakan Jawa Yang Menjerat Lidah

Think Globally and Eat Locally. Berfikir boleh global. Mendunia. Namun untuk urusan lidah dan perut, tetap mengutamakan makanan lokal, khususnya masakan Jawa.

KEDIRI- Di medio 70an, 80an, bahkan hingga pertengahan 90an, pemakan nasi tiwul masih dipandang sebagai personifikasi kemiskinan. Penikmat masakan Jawa berbasis singkong itu hampir selalu dianggap golongan berstatus sosial rendah. Kaum mustadh’afin. Fakir, miskin, melarat, dhuafa.

Mereka itu biasanya berumah di pinggiran. Perbukitan. Deretan pegunungan. Bertempat di kawasan dengan situasi alam yang tidak mendukung potensi hidup. Tanah yang jauh dari subur, tandus, sulit air bersih karena sumber mata air terlalu dalam, pendidikan tidak layak, dan semua hal yang jauh dari gemerlap perkotaan.

Dari makanan merambah ke wilayah kebudayaan lainnya. Mengkaitkan makan tiwul dengan cara dandan dan gaya obrolan (berkomunikasi) yang tertinggal. Berkembang stigma ndeso, kampungan, udik dan semacamnya. Mereka dianggap tidak fashionable. Kurang berlogat sesuai standar kota.

“Dandanmu ndeso ah. Keseringan makan tiwul ya”. Atau “kamu kok tidak smart, kebanyakan makan tiwul ya”.

Di era itu, ungkapan sarkas mudah terucap dalam perbincangan. Biasanya dilontarkan dengan canda. Ringan. Tanpa beban. Guyon namun sesungguhnya serius dan menyakitkan. Meski tidak separah tiwul, ampog atau nasi jagung juga mengalami takdir sosial serupa.

Telah terjadi disparitas yang lebar antara tiwul, ampog dan beras. Beras selalu dipandang sebagai makanan utama. Dianggap sebagai menu pokok dan lebih berbudaya. Dan tiwul dan ampog hanya makanan kelas dua. Nasib tiwul mengingatkan pada perjalanan sejarah pizza di Negara Italia.

Kemunculan pizza di awal awal sebenarnya untuk menjawab situasi krisis pangan. Uniknya di negara berkembang dianggap sebagai makanan mewah. Hanya si tajir melintir yang bisa menyambangi outletnya. Padahal dulunya juga makanan “favorit” kaum mustadh’afin.

Perjalanan itu membuktikan post modernisme telah mengubah segalanya. Begitu juga dengan tiwul dan ampog. Meski masih ada yang memandang miring, faktanya kedua makanan tradisi itu kini telah naik kelas.

Yang semula berada di pinggiran, yakni di rantang si miskin, di gubuk petani, kini mulai menengah. Tiwul dan ampog banyak dijumpai di perkotaan. Masuk ke dalam daftar buku menu makanan.

Menu Andalan Kafe Lereng Wilis

Di WOW Café Sumber Podang, Desa Joho, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, tiwul dan ampog menjadi menu andalan. Nasi goreng tiwul. Tiwul digoreng. Diberi racikan bumbu seperti halnya memasak nasi goreng.

“Rasanya cukup unik, baru pertama kali ini coba,” ungkap Ria Ramadhani pengunjung café asal Jombang. Di kafe yang berlokasi di lereng Gunung Wilis itu, nasi goreng tiwul dan ampog memiliki banyak penggemar.

“Masih nasi goreng tiwulnya?. Belum habis kan nasi goreng ampognya?”, selalu menjadi pertanyaan pembuka pengunjung yang datang. Popularitas tiwul dan ampog menyisihkan menu lainnya.

Ria tampak begitu menikmati. Meski ngobrol, mulutnya tetap mengunyah. Suapannya tidak berhenti. Ria mengaku sempat merasa heran, tiwul dan ampog bisa menjadi menu nasi goreng. Setahu dia keduany sebagai makanan yang cita rasanya kurang variatif.

Hanya bisa disandingkan dengan urap urap dan ikan asin. Bagi sebagian anak muda, termasuk dirinya, dianggap sebagai menu yang aneh. Terutama untuk lidah yang terbiasa menyantap makanan cepat saji, junk food.

“Jadi setelah digoreng seperti nasi goreng ini, nasi ampog dan tiwul ini menjadi semakin lezat dan saya jadi lebih doyan,”ungkapnya. Bagi Ria tidak hanya wisata Sumber Podang yang membuatnya betah berlama lama, tidak ingin cepat pulang.

Kelezatan nasi tiwul dan ampog goreng juga sudah menjerat lidahnya. “Kalau kesini lagi sepertinya kurang afdol kalau belum menikmati nasi tiwul dan ampog goreng, “selorohnya.

Kepala Desa (Kades) Joho, Kecamatan Semen Deddy Saputra yang sekaligus pengelola kafe mengatakan tidak hanya mengembangkan wisata alam dan permainan. Berbagai masakan tradisional yang menjadi ciri khas desa, juga turut dikembangkan.

Terutama tiwul dan ampog. “Kalau berkunjung kesini, silahkan dicoba. Rasanya lebih lezat, “katanya. Tidak hanya dimakan ditempat atau dibungkus. Warung dan lapak nasi goreng tiwul dan ampog juga melayani delivery atau jasa antar.  

Cukup melalui komunikasi via selular, tidak sedikit warga Kota Kediri yang memesan.  Selain tiwul dan ampog, lereng Wilis menghasilkan beragam tanaman polo pendem yang dijual sebagai makanan ringan. Diantaranya kripik ketela, mbote, dan juga pisang.  

“Dan makanan ringan asli lereng Gunung Wilis itu juga menjadi andalan kuliner disini, ”terangnya.

Reporter : Moh. Fikri Zulfikar
Editor : Mas Garendi

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.