READING

Nasib Para Pelajar dan Santri Rantau Selama Wabah ...

Nasib Para Pelajar dan Santri Rantau Selama Wabah Corona

KEDIRI – Ada banyak instansi pendidikan di Kota Kediri. Total ada 17 perguruan tinggi baik negeri maupun swasta. Belum lagi pondok pesantren yang jumlahnya puluhan dan masing-masing menampung ribuan santri. Kota Tahu pun semakin ramai oleh para perantau dari berbagai daerah di Indonesia.

Banyaknya mahasiswa dan santri dari luar daerah membuat Pemkot Kediri terus memantau kondisi mereka di tengah wabah COVID-19 ini. Mereka yang berasal dari keluarga terdampak, mendapat bantuan dari pemerintah dengan menggandeng Bank Jatim melalui program Corporate Social Responsibility (CSR). Bantuan yang diberikan berupa paket sembako.

Ada total 450 paket bantuan yang diberikan. Setiap paket berisi 5 kg beras; 2 liter minyak goreng; dua kaleng sarden; satu kaleng sosis; 10 bungkus mie instan; 1 botol kecap manis; dan satu bungkus kerupuk mentah. Mengingat jumlah paket terbatas, para mahasiswa yang mendapat bantuan harus mendaftar secara online untuk kemudian diverifikasi oleh penyelenggara agar bantuan tepat sasaran.

“Tadinya kita ingin bantu semua tapi kayaknya nggak bisa. Saya pesan kalau ada temannya yang kesusahan tolong dibantu,” tegasnya.

Mas Abu juga mengingatkan kepada mahasiswa dan para santri untuk terus menaati protokol kesehatan yang sudah ditetapkan. Seperti menjaga jarak, selalu memakai masker, tidak membuat kerumunan dan sering mencuci tangan menggunakan sabun. “Tolong diingatkan rekan-rekannya. Harapannya bantuan ini bisa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya,” tandasnya.

Sementara itu, para mahasiswa dan santri yang terpilih sangat senang bisa mendapatkan bantuan dari Pemkot dan Bank Jatim. Pasalnya mereka memang dalam kondisi ekonomi yang tidak baik. Seperti yang dirasakan Rahyuni, salah satu mahasiswa asal NTT. Orang tuanya yang bekerja sebagai pedagang ikan mengalami penurunan pendapatan karena banyak pasar tutup.

“Saya juga tidak bisa pulang, karena mahal. Harus tes juga. Jadi tetap bertahan di sini sampai kondisi normal kembali,” terang mahasiswi semester akhir ini.

Rasa syukur juga disampaikan Bachrul Ulum, mahasiswa asal Banten yang tengah menempuh pendidikan di Universitas Kadiri. “Pastinya saya bersyukur atas bantuan ini. Dan terima kasih kepada Pemerintah karena sudah peduli dengan keadaan anak-anak rantau,” katanya.

Pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di sejumlah daerah membuat para pelajar dari perantauan ini tidak bisa pulang kampung. Otomatis selama masa karantina, mereka harus menghabiskan waktu di kamar kosan yang sempit dan tidak bisa bertemu keluarga dan sanak saudara. Meski demikian, para santri dan mahasiswa mengaku nyaman berada di Kota Kediri.

Aryido Dethan, salah satu mahasiswa asal Timor Timur bercerita bahwa tidak sulit menyesuaikan diri saat baru tinggal di Kota Kediri. Meski dirinya sempat kaget karena perbedaan budaya dan perilaku, hal itu tidak berlangsung lama karena warga sekitar ramah dan baik. “Saya dari Timor sering suaranya keras. Awalnya masyarakat di sini kaget. Tapi lama-lama kami berteman baik. Masyarakat baik. Makanan enak dan murah,” kata Aryido Dethan.

Kota Kediri yang tak terlalu besar juga menawarkan suasana yang tenang dan tidak bising. Sangat sesuai sebagai tempat belajar. Meski kota kecil, fasilitas yang ada cukup lengkap. Mulai dari resto makanan, kedai kopi, tempat perbelanjaan, bioskop, hingga taman kota. Banyaknya fasilitas hiburan tersebut bisa menjadi salah satu pilihan untuk refreshing ketika sedang bosan belajar.  “Lengkap, nyaman, dan murah meriah,” pungkasnya. (pro/Dina Rosyidha)

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.