READING

Membangun Asa Lima Tahun Kelud Meletus

Membangun Asa Lima Tahun Kelud Meletus

Suasana di Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri terasa mencekam. Ribuan pengungsi berdesakan di balai desa dan gedung sekolah yang disulap menjadi ruang tidur. Lantunan doa bercampur tangis ketakutan menyongsong letusan Gunung Kelud yang sebentar lagi tiba.

Kamis, 13 Februari 2014, pukul 22.50 WIB, sang Kamput benar-benar meletus. Suaranya menggelegar diiringi kilatan di langit merah. Kumandang takbir menggelora di kamp-kamp pengungsian yang dijejali manusia.

Lalu lalang ambulans dan kendaraan aparat menyeruak di tengah guyuran hujan pasir yang sangat pekat. Mereka menyisir rumah-rumah penduduk untuk memastikan tak ada seorang pun yang tertinggal. Malam itu, tak ada satupun yang memejamkan mata. Semua larut dalam bayangan masing-masing, tentang kambing, sapi, rumah, kendaraan, sawah, dan semua yang tertinggal di tempat asal.

Tak menunggu ayam berkokok, satu per satu pengungsi pria menyelinap dari tempat penampungan. Di tengah gelapnya malam, mereka menyusuri jalanan desa yang dipenuhi pasir menuju rumah. Kampung mereka benar-benar seperti desa mati. Gelap dan berpasir.

Sinar matahari yang menggulung malam menjawab kegundahan mereka. Semuanya tampak jelas. Kampung mereka telah lenyap ditimbun pasir. Tak ada yang tersisa. Tangis kembali pecah membayangkan sulitnya memulai segalanya dari nol.

Letusan Gunung Kelud tahun itu benar-benar dahsyat. Letusan setinggi 17 kilometer melempar semua material vulkanik dari perut bumi ke semua penjuru. Ketinggian debu vulkanik bahkan mencapai dua centimeter di Yogyakarta. Hujan abu Gunung Kelud telah melumpuhkan Pulau Jawa.

Tujuh bandara di Yogyakarta, Surakarta, Surabaya, Malang, Semarang, Cilacap dan Bandung ditutup. Transportasi umum di Terminal Purabaya Sidoarjo menuju selatan ditutup. Jarak pandang yang pendek serta tumpukan pasir di sepanjang badan jalan mengancam keselamatan kendaraan.

Pemerintah Kabupaten Kediri mencatat jumlah pengungsi yang meninggalkan rumah mencapai 60 ribu orang. Sebagian besar kehilangan tempat tinggal akibat tertimbun batu dan pasir gunung. Lahan pertanian yang menjadi tulang punggung hancur. Tak ada gambaran bagaimana memulai kehidupan di hari esok.

Kini, lima tahun usai peristiwa itu terjadi, kehidupan di kaki Gunung Kelud kembali berdenyut. Meski menyisakan trauma, warga bersepakat untuk tetap hidup berdampingan dengan sang Kamput. Letusan hanyalah pengingat kepada manusia untuk senantiasa menjaga alam, dan takluk pada kebesaran Illahi.

Foto : Adhi Kusumo / Naskah: Hari Tri Wasono

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.