READING

Ngebut Naik Sepeda Pancal demi Ketemu Didi Kempot ...

Ngebut Naik Sepeda Pancal demi Ketemu Didi Kempot di Kediri Tahun 1990-an

Hari ini WAG saya ada yang membagikan berita seorang legenda musik meninggal. Dia adalah The Godfather of Broken Heart Didi Kempot. Terlalu banyak berita kejutan akhir-akhir ini. Ini dalah salah satu yang cukup mengejutkan. Tak berapa, WAG lain mulai mengirimkan link berita yang sama. Ditambahi beberapa video kenangan tentang almarhum. Ada yang mengirimkan single yang mungkin terakhir dirilisnya, yaitu lagu tentang ajakan menjaga jarak dan tidak mudik untuk memutus mata rantai penyebaran virus Covid-19.

Beberapa bahkan ada yang mengirimkan video rombongan mobil yang salah satunya diduga berisi jenazah sang maestro melintasi perempatan besar yang dijaga petugas kepolisian. Ada pula yang mengirimkan video jenazah yang tersenyum sedang ucapan perpisahan, yang ternyata video tokoh lain yang mirip beliau. Setidaknya ini mengindikasi bahwa beliau adalah seorang legenda. Di mana kepergiannya menimbulkan kesedihan bagi banyak orang. Kesedihan seluruh dunia. Setidaknya dunia musik di tanah air.

Saya baca-baca link berita untuk mencari informasi penyebab meninggalnya Sang Legenda. Pada zaman ini, setiap jam bahkan detik amat membedakan hasil pencarian yang kita dapatkan. Setiap orang akan meninggal. Tapi bukankah harus ada alasannya? Beliau meninggal karena kelelahan. Keluarganya mengonfirmasi tanpa gejala sakit sebelumnya. Malam sebelumnya masih berbuka puasa, main tenis meja, lalu thenger-thenger atau duduk sambil mengantuk. Sempat bangun makan sahur dan ternyata pagi harinya, pukul tujuh lebih dikonfirmasi kalau beliau sudah meninggalkan kita semua.

Meninggalnya Sang Legenda ini membawa ingatan saya pada moment ketika saya bertemu dengannya.  Waktu itu awal tahun 90-an, saya masih SMA. Saya sedang tidak enak badan dan tidak masuk sekolah. Bed rest saya menyalakan radio, saya pilih Andhika FM karena ada Didi Kempot lagi on air. Artinya dia lagi ada di Kediri. Rupanya ia sedang tour promo lagu duetnya bersama Viera Risky. Judul lagunya Bungkus Saja.

Tiba-tiba saya lupa dengan meriang saya. Saya meloncat dari tempat tidur, menyeka keringat dingin, mengenakan celana panjang lalu mengeluarkan sepeda jengki RRT dari garasi. Kebetulan lokasi studio Andika FM tidak jauh dari rumah. Bahkan masih di jalan yang sama dengan rumah saya. Sepeda itu laju seakan membawa kabur demam saya. Dalam benak saya hanya satu: ketemu artis Ibu Kota dan itu menakjubkan.

Sesampai di sana saya melihat Didi Kempot dan Viera sedang di ruang tamu dan sudah selesai siarannya. Suasana sepi,  tanpa ada penggemar karena acara itu sepertinya dadakan dan sedang jam sekolah normal. Waktu itu kunjungan artis-artis kesayangan di Kota Kediri pasti akan jadi magnet penggemarnya. Saya masih ingat, waktu Ferry Fadli dkk,  pemeran serial radio Saur Sepuh  berkunjung ke radio RWS Kilisuci, penggemar berjubel. Jangankan bersalaman, melihat sosoknyapun kesulitan.

Nah, pas Didi Kempot ini betul-betul sepi. Saya tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Saya harus mengabadikan moment langka ini sebelum Didi Kempot pergi. Saya tidak ingat bagaimana saya memintanya, yang jelas saat itu kebetulan sedang ada fotografer komersial yang datang dan rumahnya ternyata juga tidak jauh dari studio. Jekrek, jadilah kami difoto. Tapi tidak langsung jadi seperti sekarang. Foto itu harus menunggu rol film penuh dan dicetak. Kira-kira saya harus menunggu satu minggu untuk melihat muka saya berdampingan dengan sang artis. Seminggu!

Seminggu kemudian, saya mengambil hasil cetakan. Hasilnya, jelas muka saya mengenaskan dan wajah Didi Kempot sempurna beraura artis Ibu Kota. Tapi percayalah, foto itu saya letakkan di tempat terhormat di kamar saya. Foto dengan artis!

Waktu itu Didi Kempot adalah pendatang baru di dunia musik tanah air. Lagunya masih berjenis dangdut. Meski artis baru, setiap penyanyi yang sudah berhasil tampil di Album Minggu Kita, acara musik mingguan di TVRI (yang tentunya dinantikan pemirsa se-Nusantara) dijamin akan dikenal seluruh penjuru Tanah Air. Dan paling penting, saya sudah pernah berfoto dengan artis yang biasanya hanya bisa dilihat dari layar kaca. Setelah bertemu langsung, Didi Kempot ternyata lebih bersih dan tampan dibanding saat menonton televisi. Juga pasangan duetnya, Viera yang di televisi berwajah manis tampak biasa dan berkulit coklat jauh lebih putih dan cantik setelah bertemu langsung.

Setelah duet itu, saya tidak mengikuti karya Didi Kempot. Saya hanya tahu dia berganti menyanyikan campursari dengan  lagu-lagu berbahasa Jawa.

Kemudian, Didi Kempot mulai “merasuk” ke sanubari ketika  saya jadi peserta pelatihan kegiatan riset rumah tangga selama sebulan di Hotel Sahid Kusuma, Solo tahun 2000. Ada dua menu lagu yang paling sering diputar yaitu It’s My Life- Bon Jovi dan Solo Balapan karya Didi Kempot. Bahkan dinyanyikan peserta dalam malam kambing guling di setiap akhir pekan. Demikian populernya lagu itu bagi peserta karena kami sedang mengukir memori di sana. Lagu Solo Balapan menjadikan Solo jadi lebih memorable bagi bagi kami tim Jawa Timur.

Bagi saya Didi Kempot adalah bagaimana seorang seniman musik bertransformasi secara positif. Dari penyanyi dangdut menjadi campursari modern. Keberhasilannya merangkul generasi milenia dipadu dengan merekatnya penggemar lamanya. Bahasanya universal, yaitu patah hati. Dan ia berhasil mengkomersialisasi dengan Sobat Ambyar. Setahuku ia tetap di jalur itu. Tak pernah terdengar ia berubah menjadi politisi misalnya, sesuatu yang jamak bagi seseorang dalam mendapatkan keuntungan popularitas menjadi elektabilitas.

Kini, ia mentasbihkan diri di puncak jagat musik tanah air. Konser amal di beberapa  stasiun televisi swasta berhasil meraup lebih dari 7 milyar yang seluruhnya disumbangkan untuk penanganan pandemi Covid-19. Setiap konsernya tumpah ruah oleh ribuan penggemar. Penampilannya di panggung menjadi magnet bagi musisi lain untuk sekadar berharap diajak bergabung dalam panggung yang sama.  Hanya Physical distancing yang menghentikannya. Banyak pentas musiknya yang sedang ditunda. Pun  yang masih direncanakan.

Namun Tuhan bekehendak lain. Selamat jalan Sang Legenda. Mas Didi Kempot pantas menjadi alasan tangis haru jutaan penggemarmu. Belum kering air mata melepas kepergian Glenn Fredly.  Mas Didi pantas menyandang gelar paling terhormat dalam sejarah musik tanah air sebagai The Godfather of Broken Heart.

Penulis: Rahmat atau Rochmad di Kediri

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.