Ngopi Pagi di Rumah Belanda

BLITAR – Bingung akhir pekan mau kemana? Yuk ikuti perjalanan kami mengunjungi kebun kopi peninggalan Belanda. Tempat wisata yang satu ini dijamin bikin kamu klepek-klepek deh.

Berada di Dusun Karanganyar, Desa Modangan, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, perkebunan kopi yang menjadi tempat wisata keluarga ini sangat eksotik. Bagaimana tidak, selain kondisi alamnya yang asri dan sejuk, bangunan serta benda bersejarah peninggalan penjajah masih terawat dengan baik.

Salah satunya adalah rumah Loji. Rumah yang dihuni mandor perkebunan di era kolonial ini masih di berdiri megah dengan semua perabotannya. Mulai halaman, teras, ruang tamu, kamar tidur, ruang keluarga, hingga dapur tak berubah bentuk sama sekali. “Rumah ini dipertahankan seperti bentuk aslinya,” kata Nurindah, pemandu wisata yang bertugas di rumah Loji.

Dari seluruh ruangan yang ada, ada satu kamar yang sangat spesial dan dirawat khusus. Kamar tidur yang berada tepat di samping ruang tamu ini berisi penuh benda-benda peninggalan Bung Karno. Mulai dari tempat tidur, lukisan, keris, pakaian, alat tulis, hingga buku-buku yang ditulis sendiri oleh Bung Karno. Benda-benda itu diperoleh dari lelang di Hotel Indonesia yang pernah menjadi tempat tinggal Proklamator.

Kamar tersebut bersebelahan dengan kamar Mohamad Rosadi, sinder (pengawas) kebun yang bekerja di perkebunan itu. Ketika penjajah Belanda angkat kaki dari Indonesia, dialah yang mengambil alih kepemimpinan perkebunan kopi seluas 250 hektar ini. Kini pengelolaannya diteruskan oleh anaknya Herry Noegroho, mantan Bupati Blitar, sebagai pemegang hak guna usaha (HGU).

Produktivitas perkebunan kopi Karanganyar saat ini memang tak secadas dulu. Di era kolonial, perkebunan ini bahkan menjadi penghasil kopi terbesar di Pulau Jawa dengan produktivitas ribuan ton per tahun. Saat ini produksinya tak lebih dari 60 – 100 ton per tahun dengan komoditi robusta.

Pengunjung manca bermain piano di rumah Loji Perkebunan Karanganyar Blitar. Foto Hari Tri Wasono

Di depan rumah Loji terbentang taman bunga dengan air mancur dan bangku klasik sebagai poros utama. Taman itu berhadapan dengan bangunan besar bekas pabrik pengolahan kopi yang menjadi ikon perkebunan Karanganyar. Bangunan pabrik inilah yang menjadi spot foto utama para pengunjung.

Di sudut lain perkebunan terdapat destinasi tak kalah klasik, yakni sisa bangunan pabrik dan kendaraan jaman dulu. Namun demi keamanan, ruang produksi ini tak dibuka umum dan hanya diperbolehkan dipotret dari luar. Meski masih terlihat kokoh, beberapa bagian bangunan yang terbuat dari besi seperti jembatan dan anak tangga sudah mulai lapuk.

Tapi jangan kecewa karena pengelola tempat menyediakan museum yang memajang dokumentasi gambar aktivitas perkebunan. Ada tiga museum yang memiliki koleksi berbeda, yakni museum Pusaka, museum Purna Bakti, dan museum Mblitaran. Tak hanya mengabadikan perkebunan, museum ini juga menyimpan koleksi kekayaan budaya Kabupaten Blitar seperti kain batik, alat musik, pusaka, hingga lukisan dan foto klasik.

Sebagai penutup, sebuah cafe dan restoran yang menghuni bangunan lama menyerupai benteng menjadi tempat elok untuk melepas penat. Selain kopi robusta produksi Karanganyar, berbagai jenis kopi dari berbagai daerah di Indonesia tersedia lengkap. Menikmati kopi di tempat ini serasa terlempar ke era kolonial pra kemerdekaan.

Salah satu sudut foto di perkebunan Karanganyar. Foto Hari Tri Wasono

Hilir mudik turis manca yang sebagian berasal dari Belanda menambah suasana klasik di tempat ini. Selain berwisata, turis manca ini adalah peserta didik kelas pengolahan kopi yang dibuka bebas dengan tarif murah. Pengetahun tentang pembenihan hingga pengolahan paska produksi cukup ditebus dengan tarif Rp 50.000 per hari. “Untuk menginap disediakan kamar tamu dengan tarif Rp 200.000 per hari,” terang Nurindah.

Jika tak ingin buru-buru pulang, ada spot lain yang bisa dinikmati anak-anak. Perkebunan kopi ini menyediakan jalan setapak yang melintasi beberapa destinasi. Selain areal kopi, jalur itu juga menyinggahi stasiun mini cross dan jeep adventure yang siap mengantarkan pengunjung menjelajah.

Perjalanan mengelilingi kebun kopi di lereng Gunung Wilis ini dibagi menjadi dua etape. Etape pendek dengan durasi 30 menit dikenakan tarif Rp 100 ribu dengan kapasitas jeep 5 penumpang. Sedangkan etape panjang dengan waktu tempuh 60 menit dibanderol Rp 300 ribu.

Sayangnya belum banyak pengunjung yang memanfaatkan fasilitas itu. Selain lokasi terminal yang cukup jauh, kebanyakan pengunjung akan langsung menuju area utama pabrik sebagai destinasi utama.

Bagi kamu yang ingin menjajal keseruan tempat wisata ini bisa mengikuti jalur berikut. Dari kompleks Makam Bung Karno lurus ke arah Candi Penataran sejauh 15 kilometer. Selanjutnya bisa mengikuti petunjuk arah menuju perkebunan Karanganyar.

Cukup dengan menebus tiket masuk seharga Rp 10.000 per kepala, plus parkir mobil Rp 5.000, pengunjung bisa mengeksplorasi foto dan pengalaman yang menarik. Termasuk berfoto dengan penjaga loket yang berpakaian ala sinder jaman Belanda. Seru bukan? (*)


RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.