READING

Nikmatnya Menyantap Nasi Pecel Sexy Killers

Nikmatnya Menyantap Nasi Pecel Sexy Killers

Ketika teks jurnalisme kian membosankan, Dandhy Laksono berbicara lewat fim dokumenter (Questioning Everything, Kreativitas di Dunia Yang Tidak Baik Baik Saja).

MALAM itu laki-laki bernama lengkap Dandhy Dwi Laksono menjadi bintang kejora. Begitu rampung diskusi, para peserta langsung ramai ramai merubungnya. Dan foto bersama ternyata tidak cukup memuaskan. Banyak yang mengulang dengan meminta swafoto berdua. Tentu sudah bisa ditebak. Pasti untuk sesegera mungkin diunggah di media sosial. Dipasang sebagai status Facebook atau foto profil di aplikasi WA.

Siapa sih yang tidak berminat foto bareng sutradara film dokumenter Sexy Killers yang kondang itu? Film yang lagi trending topic dan menjadi buah bibir semua lapisan. Karya visual yang baru dirilis sepekan sudah ditonton 20 juta pemirsa dan itu akan terus bertambah. Seperti halnya saat berdiskusi, Dandhy meladeni semuanya. Termasuk nomor ponsel juga tidak pelit ketika diminta.

“Ayok…ayok,” katanya langsung mengiyakan saat seorang mahasiswi berjilbab permisi menyela meminta foto bareng. Padahal si mbak juga sudah ikut foto bersama. Dandhy memilih menjeda sejenak obrolan, lantaran si peminta foto pamitan akan segera balik ke Tulungagung. Begitu juga saat serombongan mahasiswa meminta foto secara khusus, dia juga kembali langsung beranjak dari duduknya.

Dandhy tetaplah Dandhy. Lelaki asal Lumajang, Jawa Timur. Selain usia dan badannya yang makin subur, tidak ada  yang berubah darinya. Bicaranya tetap lugas, blak blakan, namun selalu berbasis data. Persis sama dengan teks narasi yang terunggah di akun medsosnya. Ceplas ceplos. Meski lidahnya kental mengucap “loe” “gue”, beberapa kali dia memilih menggunakan diksi bahasa Jawa. Pun itu masih terdengar lanyah dan medhok di telinga.  

Enake mangan sega pecel iki, Rek,” selorohnya begitu ruang acara diskusi yang digelar Miss June Cultural Center itu mulai sepi. Sebagai orang yang cukup lama hidup di Jakarta dan sehari hari berlidah betawi, Dandhy masih begitu njawani. Humble dan egaliter. Juga tidak elitis. Dia bisa dengan ringan duduk sejajar di antara  para mahasiswa peserta diskusi.

Sebagai bintang ia juga tidak terlihat jaim. Sok keren. Atau sok penting. Dia tidak gampang menengok gadget. Tidak sedikit-sedikit menjenguk layar ponsel. Tertawanya juga lepas. Begitu juga dengan pisuhan khas zona arekan-nya masih fasih terdengar. Dalam perbincangan singkat soal menu makan, sempat muncul opsi soto dan rawon. Dandhy memilih nasi pecel.

Mungkin karena malam itu dia berada di Kota Blitar. Kota masa kecil Soekarno tempat acara seabad haulnya (Bung Karno) beberapa tahun silam pernah diinapinya. Atau mungkin karena ini Blitar, maka kurang afdol kalau tidak bersantap nasi pecel.

“Tapi ini tempatnya di pinggir trotoar lho, Mas?” kata Juni Martoyo panitia acara diskusi. Sebagai penanggung jawab acara mungkin Juni sudah menyiapkan perjamuan yang dirasanya lebih pas. Meski teman lama, dia melihat Dandhy sebagai narasumber yang datang dari jauh. Dengan lugas Dandhy menjawab tidak ada masalah dengan tempat. Dia bisa menyantap makanan di mana saja.

Filosofi Sandal Sisihan

“Saya nambah lagi ah,” kata Dandhy begitu sepincuk nasi pecel pedas di tangannya ludes tak tersisa. Malam itu kami bersembilan meluncur ke Jalan Seruni Kota Blitar. Tempat pedagang nasi pecel biasa mangkal hingga tengah malam. Duduk lesehan di atas trotoar jalan Seruni, kami menikmati pincuk pecel masing-masing.

Di tangan Dandhy pecel dengan lauk tempe, peyek, dan telur dadar itu langsung tandas. Dia kembali berdiri untuk antri bersama pembeli yang lain. “Yang paling banyak omong, banyak makannya,” kelakar Dandhy sambil bersiap menyantap porsi kedua.

Mantan jurnalis 14 tahun malang melintang berburu berita itu memang baru saja dirajam pertanyaan seputar film Sexy Killers. Di forum yang sebagian besar mahasiswa Blitar dan Tulungagung itu berbagai pertanyaan terlontar. Mulai yang kalem normatif sampai tajam menyambit.

Kenapa ditayangkan menjelang pemungutan suara pemilihan umum 2019? Kenapa hanya menyeret orang orang yang berada di lingkaran dua pasang capres cawapres 2019 saja? Apakah Dandhy dan Watchdoc bertujuan meningkatkan elektabilitas pemilih golongan putih (golput) atau ada alasan lain?

Ada juga yang bertanya dari mana data yang digunakan? Siapa yang mendanai, apakah ada pihak berkepentingan yang berdiri di belakangnya, sampai pertanyaan kenapa berjudul Sexy Killers? Siapa si sexy dan siapa yang menjadi killers? Dandhy dengan sangat teteh menjawab pertanyaan satu persatu. Tidak ada yang ditutup-tutupi.  

Seperti yang terunggah dalam teks narasi akun media sosialnya, film Sexy Killers merupakan manifestasi dari penghormatan terhadap HAM, lingkungan, perlindungan kesehatan masyarakat, dan integritas keputusan politik terkait energi yang tidak tercemari konflik kepentingan bisnisnya sendiri. Itulah yang menjadi premis utamanya.

“Dan golput hanyalah  bonus,” katanya dengan tertawa. Sebelum dibuka bebas  di kanal youtube Watchdoc image, Sexy Killers sudah ditonton secara bersama (nobar) dan didiskusikan di 476 titik di Indonesia. Saat ini sudah berapa titik lagi yang menonton, Dandhy mengaku sudah tidak tahu lagi. “Setelah dibuka di youtube sudah tidak terkontrol,” katanya.

Dandhy membebaskan setiap orang menafsirkan Sexy Killers. Siapapun boleh berfikir dengan tafsirnya masing masing.  Sebab anggota Majelis Pertimbangan Organisasi (MPO) AJI Indonesia itu memang tidak  menginginkan tafsir tunggal. Baginya kemerdekaan interpretasi akan mendorong ruang diskusi semakin terbuka. Dialektika akan semakin hidup.

“Tafsirnya bebas. Tidak perlu ada interpretasi tunggal,” tuturnya. Namun jika ingin mengetahui lebih dalam perspektif  dirinya dan Watchdoc, Dandhy menyilakan peserta diskusi menonton karya filmnya yang lain. Sebut saja film Samin versus Semen yang berkisah perjuangan warga Samin Rembang yang menolak pembangunan pabrik semen di daerahnya.

Film Alkinemokiye  yang bercerita soal pemogokan buruh PT Freeport. Kemudian film Kiri Hijau, Kanan Merah, atau Yang Ketu7uh. Untuk menjawab alasan diputar bertepatan dengan momentum Pemilu 2019, Dandhy mengatakan Sexy Killers disunting jauh hari sebelum nama dua pasangan capres dan cawapres muncul. Namun dia tidak membantah kehadiran film yang bercerita soal tambang batu bara dan kerusakan lingkungan memang untuk merampok perhatian publik.

Baginya dialetika di ruang publik perlu dipantik. Bahwa ada persoalan penting di republik ini yang lucunya tidak muncul dalam perdebatan Capres Cawapres 2019. Bisa diartikan inilah cara Dandhy menciptakan ruang diskusi alternatif yang lebih substansial. Di Sexy Killers Dandhy telah menyeret sejumlah nama yang berada di lingkaran dua pasangan Capres Cawapres, yakni baik pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin maupun Prabowo Subianto-Sandiaga Salahudin Uno.

Celakanya, nama nama yang terseret itu dia tempatkan sebagai biang kerok kasus kerusakan lingkungan akibat tambang batu bara. Dan data yang digunakan Watchdoc, yakni baik data nama maupun data perusahaan tambang batubara merupakan data resmi. “Semua yang muncul merupakan orang orang yang berada  dilingkaran TKN maupun BPN,” jelasnya.

Oleh kelompok yang namanya terseret, Dandhy tahu dan sadar Sexy Killers akan diterima sebagai kabar kebencian. Terutama bagi politisi, relawan pendukung terang terangan maupun tidak terang-terangan kedua pasangan Capres Cawapres. Mereka yang fanatik dengan politik elektoral. Kehadiran Sexy Killers dianggap akan menggembosi tingkat elektabilitas pasangan calon.

“Serangan bernada nyinyir langsung riuh di media sosial, bahkan sampai muncul tagar Sexy Killers bohong. Tapi bagi kami itu tidak menjadi masalah,” kata Dandhy. Sexy Killers merupakan film ke-12 dari proyek Watchdoc yang bernama Ekspedisi Indonesia Biru.  Film yang berangkat dari keinginan Dandhy untuk refreshing, menghindar sejenak dari hiruk pikuk keramaian ibu kota.

Dia berniat keliling  Indonesia. Dan itu benar benar dia lakukan dengan berkendara sepeda motor bebek bekas. Awalnya hanya akan membawa kamera Go Pro dan semacamnya. “Karena niatnya bikin video ringan untuk diunggah ke Youtube kayak para milenial gitu,” selorohnya. Namun kemudian ada yang mengingatkan, dalam menyelam jangan lupa juga minum air. Karena pengalaman itu tidak mudah untuk diulang.

Usianya akan bertambah. Militansi mungkin juga akan berubah. Belum tentu dia memiliki waktu dan tenaga yang sama. Dandhy pun menurut. Segala perkakas yang dia butuhkan untuk perekaman gambar dia lengkapi. Perjalanan yang awalnya santai santai menjadi serius.

Dalam ekspedisinya, dia menginap di mana saja. Di komunitas Samin Pantura maupun di kampung suku Baduy yang sebelumnya sudah dikenalnya akrab. Tidak jarang Dandhy menumpang istirahat di rumah warga, masjid maupun gereja. Dia juga  selalu menyempatkan mampir ke Kantor AJI daerah yang kebetulan menjadi perlintasannya.

Begitu juga untuk makan. Saat perutnya sudah mulai keroncongan, warung, kedai, lapak di perkampungan, dia singgahi. Cerita ini sekaligus menjawab film Sexy Killers dibiayai secara berdikari, yakni dengan merogoh tabungan sendiri. Juga sekaligus menjelaskan tidak ada pihak lain yang berdiri dibelakangnya. “Dalam perjalanan juga kehabisan uang. Solusinya dengan menjual foto foto yang diambil sepanjang perjalanan,” ungkapnya.   

Bagi Dandhy hidup merdeka itu ketika kepala dan punggung tidak menunduk pada kekuasaan dan bebas berkreasi. Dia menyitir pesan yang disampaikan pamannya di kampung Lumajang. Ibaratnya memakai sandal sisihan, yakni sandal yang kiri dan kanan tidak sama, pikiran dan hati orang merdeka tetap merasa tenang. “Jare pak likku, gawe sandhal sisihan ae, tetap tenang,” katanya sembari ngakak tertawa.

Nasi pecel sudah habis. Begitu juga dengan teh hangat, ludes tidak tersisa. Kami memutuskan mengakhiri obrolan. Malam itu Dandhy menginap di Kota Blitar. Dia menolak fasilitas tidur hotel dan memilih melepas penat di rumah panitia acara diskusi film Sexy Killers. Pagi-pagi Dandhy berencana melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta dengan naik kereta api (Mas Garendi).

print

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.