READING

NKCTCHI (Nanti Kita Cerita Tentang Corona Hari Ini...

NKCTCHI (Nanti Kita Cerita Tentang Corona Hari Ini)

Suatu hari di Bulan Desember, saya mendapat telepon dari salah satu sepupu saya, “Mas, April aku mau nikah, fotoin ya,” katanya dengan semangat dari ujung sana. Tanpa berpikir panjang, saya pun mengiyakan. Padahal jarang sekali saya memotret orang nikahan. Percakapan singkat itu kembali terlintas di ingatan saya pagi ini ketika semobil dengan Devi, sepupu saya itu, saat perjalanan menuju Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Pesantren, Kota Kediri. “Biar ada cerita untuk anak cucu, kalau aku dulu nikah pas ada wabah Corona,” ucapnya ceria. Sesekali dia melempar senyum ke Donny, calon suaminya, yang justru nampak tegang karena akan mengucap ijab kabul.

Pandemi Corona di Kota Kediri membuat semua aspek kehidupan kena imbasnya, akibat pemberlakuan social distancing di tengah masyarakat. Salah satu yang terdampak adalah urusan pernikahan. Untuk KUA sendiri sudah tidak menerima pendaftaran akad nikah lagi mulai bulan ini hingga waktu yang belum ditentukan.

Efek berantai social distancing mempengaruhi lini usaha yang berhubungan dengan pernikahan seperti persewaan gedung, katering, dan salon. Semua calon pengantin mendadak membatalkan acara karena larangan pemerintah membuat acara yang bisa mendatangkan banyak orang. Kalaupun prosesi pernikahan tetap dilangsungkan, itu pun hanya boleh acara pokoknya, yaitu prosesi akad nikahnya saja, agar pernikahan sah secara agama dan negara.    

“Hanya tujuh orang ya yang boleh memasuki Balai Nikah,” ucap salah satu petugas KUA saat menyambut kami di pintu gerbang. “Kedua calon pengantin, dua saksi dari masing-masing pihak, dan satu dokumentasi,” paparnya lugas. Kami pun lalu berhitung siapa saja yang akan ikut masuk balai nikah untuk mendampingi calon pengantin.

Tak berapa lama kemudian, datanglah Pak Modin (penghulu) yang untungnya mengizinkan kami semua ikut memasuki ruangan menemani calon pengantin. Karena toh rombongan kami juga tak banyak, tak lebih dari sepuluh orang. “Tapi duduknya tetap berjarak ya,” kelakarnya sambil mempersilakan kami masuk.

Sebelum memasuki ruangan, kami dipersilakan mencuci tangan dulu dengan hand sanitizer yang tersedia di sebelah pintu masuk. Balai nikah berdinding hijau itu berukuran tidak begitu lebar, berkapasitas sekitar 20 orang. Kami pun mengikuti anjuran Pak Modin untuk menggeser tempat duduk agar tidak terlalu berdekatan satu sama lain.

Suasana terasa hambar dan sedikit tegang. Bukan karena tertulari ketegangan yang dialami Donny, melainkan karena dampak Corona yang menggelayuti seluruh sendi kehidupan kita saat ini. Namun celoteh dan guyonan Pak Dhe atau Bu Lik lumayan bisa mencairkan suasana. Tak lebih dari setengah jam, prosesi akad nikah berlangsung dengan lancar. Alhamdulillah, Donny lancar mengucap janji. Mereka berdua pun resmi menjadi sepasang suami istri. Kebahagiaan yang terpancar di sorot mata mereka berhasil menyingkirkan ketegangan akibat Corona di ruangan ini.

Sesampai di rumah, sepasang pengantin baru disambut oleh keluarga terdekat. Si bungsu menyambut pengantin perempuan dengan pelukan hangat penuh haru. Walau tak ada terop (tenda), kuade (pelaminan), atau gelaran resepsi seperti laiknya acara pernikahan pada umumnya, kebahagiaan tetap menguar lepas memenuhi ruang-ruang di rumah asri penuh tanaman itu. “Gak papa lah ga dirayain, yang penting udah sah,” kata Devi menghibur diri. Sejak Corona mulai mewabah, Devi langsung membatalkan acara resepsi yang rencananya akan dilangsungkan di salah satu restoran paling terkenal di Kota Kediri. Untungnya pihak restoran bisa memahami alasan pembatalan.

Namun untuk acara di rumah, Devi tak tega untuk membatalkannya, karena jauh hari Devi telah memesan makanan ke tetangga rumahnya. Untuk menyiasati makanan yang telah dipesan, ia membungkus makanan tersebut dalam boks, lalu membagikannya ke tetangga sekitar rumah, sekedar untuk berbagi rezeki dan kebahagiaan di masa-masa sulit seperti ini.    

Devi dan calon suami sedang didandani oleh perias yang semuanya mengenakan masker.
Sepasang calon pengantin sampai di Kantor Urusan Agama (KUA).
Hand nanitizer disediakan di dalam ruangan balai nikah.
Social distancing tetap diterapkan di balai nikah dengan menjaga jarak tempat duduk dan membatasi orang yang hadir di dalam ruangan.
Dokumentasi video cukup dilakukan oleh anggota keluarga sendiri untuk menghindari banyak orang terlibat dalam acara.
Prosesi Ijab Kabul yang berjalan lancar.
Pengantin baru disambut hangat anggota keluarga yang menunggu di rumah.
Suguhan untuk tamu di rumah, akhirnya dikemas dalam boks untuk dibagi-bagikan ke tetangga sekitar rumah.

Teks dan Foto : Adhi Kusumo

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.