READING

Novian, Lelaki Banyuwangi Yang Menyulap Sampah Men...

Novian, Lelaki Banyuwangi Yang Menyulap Sampah Menjadi Secangkir Kopi

Pada tahun 2016, Novian mendirikan kegiatan edukasi untuk anak-anak di wilayah perumahan Agus Salim Residance Banyuwangi. Kegiatan yang diberi nama Padepokan ASR itu mengajak anak anak mengenal lingkungan sekitar sekaligus bagaimana mencintainya.

BANYUWANGI- Jauh waktu sebelum Padepokan ASR terbentuk, lelaki yang bernama lengkap Novian Dharma Putra (34) itu sudah dikenal sebagai aktivis sampah yang liat dan pantang menyerah. Berbagai kegiatan mengenai sampah dia geluti.

Jerih payah yang dilakoni kurang lebih 5 tahun itu diganjar sejumlah penghargaan bergengsi. Diantaranya ISO-14001 Environmet Management System Certifications at 2010 (Papa Flow Station PHE ONWJ ) yang dia terima pada tahun 2010 dan 2012.

Pada tahun 2012 dia juga menerima sertifikat Green Proper dari Kementrian Lingkungan Hidup. Kemudian juga dianugerahi award dari Patra Adikriya Bumi Utama Award pada tahun 2016.

Di forum forum diskusi, Novian getol bicara tentang pengolahan, penanggulangan, dan pencegahan sampah. Terutama sampah rumah tangga. Bagaimana sampah terbesar itu bersumber dari manusia dan seperti apa regulasi negara harus mengaturnya.

“Awalnya dulu juga banyak yang mencibir. Namun kami tidak peduli, dan terus berjalan, “kenangnya. Karenanya, begitu ASR berdiri, materi utama yang dibawa ke tengah diskusi juga tentang sampah. Novian melihat anak anak sebagai aset sekaligus penerus cita cita bangsa.

Karena padepokan ASR berlokasi di kawasan perumahan, maka konsep yang ditawarkannya juga berkaitan dengan lingkungan sekitar. “Kita tahu, kalau saat ini banyak lingkungan yang tercemar. Dari situ kami belajar bersama untuk bisa menjadi warga yang bisa mencintai lingkungannya, generasi yang memahami lingkungan tanpa ikut mencemari, “terangnya.

Tidak hanya sekedar berwacana di atas meja. Atau ngobrol dibalik tembok ruang diskusi sembari minum kopi. Novian juga menyediakan waktu untuk turun ke jalan. Dia aktif berkampanye secara langsung.

Pada tahun 2017 sepeda pancal miliknya dimodifikasi. Di bagian belakang sepeda ditempatkan gerobak pengangkut sampah. Satu gerobak untuk sampah organik dan satunya lagi anorganik. Sementara di depan dia pasang sebuah kamera pengintai. Kamera itu sengaja disiapkan untuk orang orang yang membuang sampah sembarangan.

FOTO: JATIMPLUS.ID/widie nurmahmudy

Setiap minggu pagi, yakni di tiap acara  Car Free  Day, Novian berkeliling mengayuh sepeda modifikasinya. Soal bersepeda sudah menjadi hobinya sejak lama. Bahkan pada tahun 2008 pernah mengayuh sepeda sampai wilayah Tarakan, Kalimantan Utara.

Dengan sepeda Novian menyapa masyarakat. Berkampanye sekaligus memberikan edukasi. Tidak hanya anak anak. Tetapi juga kepada orang orang dewasa. “Berbagi pengetahuan mendasar. Mana sampah yang masih bisa berguna dan mana yang betul betul bersifat merusak, “katanya.  

Awalnya dipandang sebagai hal yang aneh. Tidak jarang sebelah mata. Namun semuanya itu tidak menganggu semangatnya.  Ayah dari M. Ibrahim Albasya dan M. Royyan Asshidqi itu menamai programnya “Sustainable Waste Banyuwangi”.

FOTO : JATIMPLUS.ID/ widie nurmahmudy

Hingga disuatu titik terbit gagasan membuat hasta karya dari bahan sampah. Apalagi Novian dikaruniai skill membuat decoupage, yakni seni memotong kertas yang dilekatkan pada media kayu, gelas, kaleng, plastik, dus, daun kering hingga kain.    

Semuanya didaur ulang. “Banyaknya botol dan kaleng menginspirasi saya untuk menjadikan lebih bermanfaat, “ungkap pemilik gallery “Tolek Nunoxs Waste” ini. Soal seni decoupage ada ceritanya sendiri. Skill itu diperoleh Novian dari tempatnya bekerja, yakni saat menerapkan ISO 14001: 2004 dalam sistem management lingkungan.

Disitu muncul gagasan kenapa tidak membawa ketrampilan kantor itu ke rumah. Mengolah limbah yang terbuang.  “Belajar tahun 2009. Namun baru tergerak tahun 2014. Pada tahun 2016 baru benar benar menekuni seni decoupage, “kata Novian.

Jualan Sambil Kampanye Sampah

Awalnya untuk kesenangan pribadi. Sampah sampah yang dirangkai menjadi karya seni decoupage hanya untuk memuaskan diri sendiri. Tidak hanya botol botol bekas. Suami Novina Puspita Hati itu juga memanfaatkan kayu kayu limbah.  Potongan potongan yang sebelumnya dianggap tidak berguna.

Di tangan Novian, barang limbah itu menjadi topi, meja belajar, tempat tisu, dan tempat penyimpan uang. Karena dianggap memiliki nilai ekonomi, kerajinan dari bahan bekas itu ternyata laku keras. Tidak melupakan misinya sebagai aktivis sampah. Di setiap kerajinan yang dibuat, Novian selalu menyelipkan pesan kampanye soal sampah. “Karena banyak yang tertarik, usaha itu berkembang sampai sekarang, “kata Novian.

FOTO : JATIMPLUS.ID/widie nurmahmudy

Harga jual kerajinan buatan Novian bekisar Rp 45.000 sampai Rp 100.000. Bandrol yang dipasang tergantung bahan dan ukurannya. Uniknya, untuk transaksi Novian tidak selalu menerima uang. Dia menerima barter sampah tertentu.

Semisal kerajinan seharga Rp 45.000 bisa ditukar dengan sampah plastik berkode panah segitiga yang bertulis PET atau PETE (Polyet-hylene Etilen Terephalate) seberat 6 kilogram. Plastik jenis ini biasanya digunakan untuk botol air mineral. Jika dijual ke tempat rosok dan loakan dengan berat 6 Kg hanya dihargai Rp 18.000.

“Dengan barter sampah plastik ini saya ingin mengedukasi masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan, terutama sampah plastik, “tutur Novian. Selain mengurangi sampah terbuang sembarangan, Novian juga berusaha mengenalkan masyarakat jika sampah juga bisa memiliki nilai seni sekaligus nilai ekonomi yang mahal.

Kopi Bayar Sampah

Tidak berhenti di karya seni decoupage. Novian mulai menekuni kopi. Sejak tahun 2018 dia berkeliling dengan motor gerobaknya untuk menjajakan kopi nusantara. Ada jenis Robusta dan Arabika. Mulai kopi dari daerah Papua, Toraja, Aceh Gayo, sampai Dampit, Telemung, Gombengsari dan Banyuwangi sendiri.  

Novian memberi nama usahanya Mobile Café atau disingkat Moca. Lagi lagi tidak jauh dari sampah. Sama dengan kerajinan decoupage . Selain murni berbisnis, dirinya juga menerima transaksi secangkir kopi dibarter dengan sampah. Dia juga tidak pernah ketinggalan dalam setiap aksi yang terkait dengan kampanye sampah.   

“Tujuannya tetap untuk mengenalkan kepada masyarakat luas bahwa sampah itu masih punya nilai. Ketika tahu punya nilai, mereka akan tergerak tidak membuang sampah sembarangan, “paparnya.  Secara bisnis (kopi) apa tidak rugi?. Novian menegaskan tidak.

Untuk menyiasati kerugian dia menaikkan nilai jual kopinya 5-10 persen. Hal itu sebagai bentuk subsidi. Sampah yang dibarterkan dihargai Rp 2.000-Rp 3.000. Sementara harga secangkir kopi Rp 8000. Di depan pembelinya, Novian mempraktekkan cara meracik dan menyeduh kopi. Mulai dari proses manual grinder sampai menerapkan V 60, Moka Pot, Vietnam drip, French Press, hingga Aeropress Coffe.

Reporter: Widie Nurmahmudi
Editor : Mas Garendi

print

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.