READING

Nyai Khairiyah Hasyim, Perempuan Tebuireng Jombang...

Nyai Khairiyah Hasyim, Perempuan Tebuireng Jombang Yang Pernah Didatangi Bung Karno di Mekkah

Sebagai wujud hormat, sebuah Universitas di Arab Saudi mengabadikan namanya. Nama Kampus Khairiyah diambil dari nama Nyai Khairiyah Hasyim. Bahkan Bung Karno saat berhaji pernah secara khusus menemuinya, sekaligus memintanya pulang ke tanah air.  

JOMBANG- Siapa Nyai Khairiyah Hasyim?. Tidak lain putri Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari pendiri Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Lahir tahun 1906 (versi lain 1908), Khairiyah merupakan anak kedua dari pernikahan Mbah Hasyim dengan Nyai Nafiqah binti Kiai Ilyas (Pesantren Sewulan, Madiun).

Ada sembilan saudara kandung Nyai Khairiyah yang empat diantaranya merupakan perempuan. KH Wahid Hasyim (No 5), ayah Gus Dur, dan KH Yusuf Hasyim atau akrab dengan panggilan Pak Ud (No 10), termasuk dua diantara saudara laki lakinya.

Sebagai putri ulama besar, Khairiyah tumbuh di tengah lingkungan pondok pesantren. Seperti yang lain, sejak kecil tidak lepas dari perhatian Kiai Hasyim Asy’ari, ayahnya. Diberi bekal pendidikan ilmu pesantren.    

Masa lajang Khairiyah berhenti di usia remaja. Saat menginjak umur 15 tahun, Bude Gus Dur ini dinikahkan dengan Kiai Ma’shum Ali asal Gresik.

Kelak Kiai Ma’shum suami Khairiyah dikenal sebagai penulis kitab Al-Amtsilah al-Tashirifiyyah. Rumah tangga baru berjalan dua tahun, Mbah Hasyim memerintahkan menantunya (Kiai Ma’shum Ali) untuk pergi ke tanah suci.

Baca Juga : Gus Solah Serukan Usut Rasisme Papua

Selain menyempurnakan rukun Islam, ke Mekkah juga untuk memperdalam ilmu agama kepada para ulama di Haramain. Disana Ma’shum Ali mengangsu ilmu kepada Syaikh Mahfudz Al-Termasi, Syaikh Baqir Al-Jukjawi, Syaikh Umar Hamdan Al-Mahrusi dan Syaikh Umar ibin Sholeh Al-Samarani.

Tradisi ini pernah dilakukan Mbah Hasyim saat masih muda. Selain ulama Timur Tengah, pendiri Nahdlatul Ulama itu juga berguru kepada Syaikh Mahfudz Al-Termasi atau Al Turmusi (Tremas, Pacitan)  dan Syaikh Ahmad Khatib Al- Minankabawi (Sumatera Barat). Keduanya merupakan ulama besar asal Indonesia.

“Setelah kembali ke Indonesia, Kiai Ma’shum dan Nyai Khairiyah dibelikan tanah di Dukuh Seblak, Desa Kwaron, Jombang. Kemudian mendirikan Pesantren Seblak,”tutur KH A Halim Mahfudz, cucu Nyai Khairiyah, Minggu (25/8/).

Dari pernikahannya dengan Kiai Ma’shum Ali, Nyai Khairiyah memiliki dua puteri, yakni Nyai Abidah dan Nyai Jamilah. Sayang, rumah tangga itu tidak berumur panjang. Pada 8 Januari 1933, Kiai Ma’shum meninggal dunia dikarenakan penyakit paru paru yang diidapnya.

Cukup lama Nyai Khairiyah menyandang status janda. Kesendirian itu berakhir setelah Kiai Muhaimin asal Lasem, Jawa Tengah, meminangnya. Usai menikah, pada tahun 1938, Khairiyah diboyong suaminya ke Mekkah. Sebab saat itu Kiai Muhaimin masih nyantri disana.   

Tidak mensia siakan kesempatan yang ada. Seperti halnya sang suami, di Mekkah, Khairiyah juga berusaha memperdalam ilmu agama yang dimiliki. Dia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk berguru kepada ulama Mekkah.

Baca Juga : Di Makam Gus Dur Mahasiswa Papua Menyanyikan Indonesia Raya

Dalam perjalanannya menggembleng diri dengan pengetahuan, dibantu sang suami, pada tahun 1942, Khairiyah mendirikan madrasah Kuttabul Banat. Sebuah tempat belajar (di Mekkah) yang mengkhususkan murid wanita. Sebuah terobosan yang tidak mudah dilakukan. Mengingat pendirian sekolah khusus wanita di tanah suci relatif sulit.  

Yang membuat banyak orang takjub, para santriwati yang menimba ilmu bukan  hanya dari Indonesia. Banyak penduduk asli Saudi Arabia yang datang untuk belajar. Madrasah Kuttabul Banat merupakan bagian dari Madrasah Darul Ulum asuhan suaminya sendiri.

“Atas prestasinya itu, Nyai Khairiyah mendapat penghargaan dari Pemerintah Arab Saudi. Karena jasanya itu, kemudian didirikan Universitas Khairiyah di Arab Saudi oleh Aminah Yasin Al-Fadani,”terang Kiai Halim.

Sekitar delapan tahun berumah tangga, Khairiyah untuk kedua kalinya kembali menyandang status janda. Pada tahun 1946, Kiai Muhaimin, suaminya meninggal dunia. Sepeninggal suaminya, seluruh pengelolaan madrasah praktis ada ditangannya.

Baca Juga : Organisasi Wartawan Sepakat Tidak Memproduksi Berita Provokatif Papua

Cerita tentang kehebatan Nyai Khairiyah berhembus hingga ke tanah air, dan sampai ke telinga Bung Karno, yang baru belasan tahun memimpin Republik Indonesia. Bung Karno yang pada tahun 1956 pergi haji menyempatkan menemui Khairiyah di Syam.

Dalam percakapan itu, Bung Karno menganjurkan Khairiyah untuk pulang ke Indonesia. Permintaan itu dipenuhi setahun kemudian, dimana Nyai Khairiyah akhirnya pulang kampung  ke Jombang.

“Setelah pulang ke Indonesia, Nyai Khairiyah kembali memimpin Pesantren Seblak. Kemudian berkembang ada pondok putri yang didirikan putrinya Nyai Abidah dan KH Mahfud Anwar, yang tak lain orang tua saya, ”kata Kiai Halim.

Di bawah kepemimpinan Nyai Khairiyah, Pesantren Seblak, Kwaron, Jombang, berkembang pesat. Menurut cerita yang diperoleh Kiai Halim, banyak pemuda muslim yang tengah mencari pasangan hidup, sowan ke Nyai Khairiyah.

Baca Juga : Terduga Teroris di Blitar Baik Hati dan Tidak Lagi Tertutup

Meski perempuan, Nyai Khairiyah juga pernah menjadi penguji  para calon imam salat Jumat di sejumlah masjid di sekitaran Seblak dan Tebuireng. Nyai Khairiyah juga merupakan satu satunya perempuan yang masuk ke dalam jajaran tim Bahtsul Masail NU saat itu.

“Karenanya beliau juga terbiasa berdiskusi dengan kiai-kiai sepuh di Nahdlatul Ulama. Seperti KH A Wahab Hasbullah dan KH Bisri Syansuri, “papar Kiai Halim.  

Di sela kegiatannya di Muslimat NU serta sibuk mengisi pengajian, yakni diantaranya di Pesantren Putri Khadijah, Wonokromo, Surabaya, Nyai Khairiyah juga aktif menulis. Tidak sedikit buah pikirannya tentang Islam muncul di media massa.

Setiap pemikiran dan langkah Nyai Khairiyah selalu progressif. Termasuk diantaranya memelopori pendirian perpustakaan di Ponpes Seblak, Jombang.  Pandangannya tentang kedudukan laki laki dan perempuan dalam agama Islam pernah menghebohkan.

Nyai Khairiyah mengkritik Kitab Uquud Al-Lujain karya Syaikh Nawawi Al-Bantani. Secara terbuka dikatakannya isi kitab tersebut patriarkis, terlalu  memihak kepentingan laki laki, dan sulit diterapkan di Indonesia.

Persoalannya, kitab Syaikh Nawawi disisi lain merupakan rujukan ulama dalam menempatkan posisi perempuan saat berkeluarga.

“Nyai Khairiyah pernah mendapat kritikan tegas dari ulama NU saat ia membuat ide baru pembuatan celana panjang untuk perempuan. Ia beralasan jika pakai jarik, aurat perempuan akan terlihat saat jalan, ”ungkap Kiai Halim.

Kebijakan santriwati bercelana panjang diterapkan di Ponpes Seblak, Jombang sejak tahun 1965. Meski pandangan umat Islam saat itu menganggap sebagai tasyabuh (menyerupai) Belanda dan Jepang, Nyai Khairiyah tidak bergeming.

Nyai Khairiyah juga mengenalkan model kerudung rubu’ atau rabbani, yakni kerudung menutup kepala, leher hingga sekitar dada. Di setiap menghadiri acara undangan dan keluarga, selalu dipakainya.

Soal program KB (Keluarga Berencana), Nyai Khairiyah termasuk yang secara tidak langsung  mendukung itu. Dan hal itu berseberangan dengan sebagian ulama yang mengharamkan KB. Nyai Khairiyah berpandangan, KB boleh dilakukan jika banyak anak kesulitan mendidiknya.   

Pada 21 Ramadan 1404 atau 2 Juli 1983, Nyai Khairiyah tutup usia. Tidak hanya keluarga besar Ponpes Tebuireng Jombang. Umat Islam di tanah air juga turut kehilangan seorang ulama perempuan yang getol memperjuangkan nilai emansipasi wanita.

Makam Nyai Khairiyah Hasyim di komplek pemakaman keluarga Ponpes Tebuireng, Jombang. Makam Nyai Khairiyah berada disebelah makam KH Hasyim Asy’ari, ayahnya. FOTO: JATIMPLUS.ID/syarif abdurrahman

“Nyai Khairiyah Hasyim wafat pada 21 Ramadan 1404 atau tepat 2 Juli 1983. Dan dimakamkan di dekat ayahnya (KH Hasyim As’yari) di Tebuireng, ”kenang Kiai Halim.

Reporter: Syarif Abdurrahman
Editor : Mas Garendi

print

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.