READING

Operasi Patuh 2019, Tantangan Bus Sekolah di Kota ...

Operasi Patuh 2019, Tantangan Bus Sekolah di Kota Kediri

KEDIRI – Operasi Patuh 2019 dilakukan serentak di seluruh wilayah Indonesia mulai hari ini. Di Kota Kediri, operasi ini sudah berjalan sejak beberapa pekan lalu dan menjaring banyak pelajar sebagai pelanggar lalu lintas.

Razia kelengkapan kendaraan bermotor yang dilakukan Satuan Polisi Lalu lintas Polres Kediri Kota ini menyasar kendaraan roda dua. Di wilayah Kota Kediri, razia ini kerap dilakukan di Jalan Diponegoro, markas Satlantas di Jalan Brawijaya, dan kawasan bundaran Sekartaji menuju Jembatan Brawijaya.

baca juga: Kisah Mubarok Menikah Dengan Berseragam Banser

Menurut pantauan Jatimplus.ID, razia ini banyak menjaring para pelajar yang mengendarai kendaraan roda dua. Dengan berbagai jenis pelanggaran seperti kelengkapan surat kendaraan dan SIM, mereka tak bisa mengelak saat disodori surat tilang oleh petugas.

baca juga: Tokoh Persekutuan Gereja Papua Silaturahmi ke Ponpes Tebuireng

Banyaknya jumlah pelajar yang mengendarai sepeda motor ini sekaligus membuka fakta minimnya fasilitas angkutan sekolah di Kota Kediri. Menurut data Dinas Perhubungan setempat, jumlah bus sekolah yang melayani keberangkatan dan kepulangan pelajar di Kota Kediri hanya tiga unit. Jauh di bawah jumlah pelajar yang setiap hari memenuhi jalanan hingga memicu kemacetan.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Kediri Muhamad Ferry Djatmiko mengatakan kemampuan armada sekolah untuk mengangkut para pelajar memang jauh dari kebutuhan. Dengan jumlah bus sekolah yang hanya tiga unit, masing-masing armada memiliki 37 bangku dengan 27 kursi penumpang dan 10 penumpang berdiri. “Rata-rata daya angkut penumpang setiap pemberangkatan 60 pelajar,” kata Ferry.

baca juga: Kiai Lirboyo Islam Tak Mengenal Hukum Kebiri

Minimnya daya tampung bus ini memaksa para pelajar berjubel di dalamnya. Tak hanya berdiri, mereka juga berdesakan dengan siswa lain agar bisa terangkut menuju sekolah. Menurut Ferry, prosentase daya angkut bus tersebut mencapai 200 persen melebihi kapasitas bus.

Dengan kondisi ini, potensi pelajar yang tidak terangkut di setiap rute yang dilalui sebanyak 125 anak. Sehingga jumlah pelajar yang tak bisa naik bus sekolah setiap harinya mencapai 375 pelajar. Cukup mengenaskan.

Di luar keterbatasan itu, Dinas Perhubungan Kota Kediri telah berusaha mengoperasikan tiga bus sekolah mereka cukup maksimal. Untuk memudahkan para pelajar mengetahui pergerakan bus, dinas ini meluncurkan program aplikasi yang bisa dioperasikan melalui gadget yakni Traker. “Jadi pelajar bisa mengetahui posisi bus dan tak terlalu lama menunggu di pos pemberhentian,” jelas Ferry.

Demikian pula dengan jam keberangkatan bus diatur seketat mungkin agar tepat waktu. Rata-rata tiap bus sekolah yang beroperasi memiliki waktu tempuh selama 30 menit berangkat dan 43 menit untuk kembali. Ketepatan waktu ini dibutuhkan untuk memastikan pelajar tak terlambat tiba di sekolah.

Meski berdesakan dan mengadu untung untuk sekedar mendapat tempat agar terangkut, jumlah pelajar yang menunggu bus sekolah di tiap pemberhentian tak pernah surut. Selain tepat waktu, layanan transportasi ini juga gratis. “Sudah seharusnya ada penambahan armada untuk membantu adik-adik sekolah,” kata Ferry.

Selain meringankan biaya operasional ke sekolah, keberadaan bus sekolah juga diharapkan bisa menekan tingkat kecelakaan dan kemacetan di jalan raya. Terlebih hingga saat ini masih banyak pelajar yang belum mengantongi Surat Izin Mengemudi dari kepolisian.

Penulis: Hari Tri Wasono

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.