READING

PAD Pajak Kota Kediri Meningkat dari Bisnis Kuline...

PAD Pajak Kota Kediri Meningkat dari Bisnis Kuliner

KEDIRI- Kota Kediri memang tidak kaya akan obyek wisata alam yang bisa dijadikan magnet untuk menarik pengunjung dari luar kota. Meski demikian, nyatanya kota yang hanya memiliki luas 63,4 km persegi ini tetap bisa mengoptimalkan pendapatan asli daerahnya (PAD) melalui pajak.

Memang yang dijadikan Pemerintah Kota (Pemkot) Kediri sebagai tulang punggung adalah sektor perdagangan dan jasa. Ada banyak pelaku usaha kuliner baik skala besar maupun mikro yang bisa berkembang di Kota Tahu ini. Bisnis penginapan dan perhotelan pun terus didorong agar semakin meningkatkan pelayanannya.

“Wisatanya boleh di Kabupaten Kediri, tapi kita dorong para wisatawan yang datang juga mau mampir untuk makan dan tidur di Kota Kediri,” terang Nurmuhyar, Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disbudparpora) Kota Kediri kepada Jatimplus.ID.

Upaya ini terbukti dari hasil perolehan pajak daerah Kota Kediri tahun ini bisa melebihi target. Pemkot sendiri menetapkan target pendapatan dari pajak di tahun 2019 sebesar Rp 101,65 miliar. Ternyata bisa dipenuhi bahkan melebihi target hingga mencapai Rp 109,7 miliar. Beberapa pos penyumbang pajak yang cukup besar yakni pajak bumi dan bangunan (PBB), pajak hotel dan restoran.

Pajak hotel realisasinya Rp 4,507 miliar dari target semula sebesar Rp 4,22 miliar atau sebesar 107 persen. Sedangkan PBB dari target Rp 26 miliar realisasinya Rp 26,787 miliar atau sudah melebihi target hingga 101 persen. Sementara pajak restoran dari target Rp 19,05 miliar terealisasi sebesar Rp 23,12 miliar atau sebesar 122 persen.

Uniknya, pajak restoranlah yang mengalami kenaikan cukup siginifikan dibandingkan dengan tahun lalu. Jika sebelumnya penerimaan hanya sebesar Rp 13 miliar, tahun ini bisa mencapai Rp 23,12 miliar. Ini berarti ada peningkatan penerimaan sebesar 170 persen.

“Ini menunjukkan bahwa tingkat konsumsi masyarakat semakin meningkat. Entah itu kontribusi dari penduduk lokal maupun pengunjung yang mampir dari luar kota,” tambah Apip Permana, Kabag humas Pemkot Kediri.

Untuk diketahui, kontribusi terbesar pajak restoran berasal dari waralaba besar seperti McDonald’s, Pizza Hut, PT. Sari Burger King, KFC, dan Tea House Kediri Town Square. Restoran pribadi pun tidak ketinggalan. Kebon Rodjo, Grand Panglima, Warung Leko, Warunk Upnormal, dan Warung Gunung juga membayar pajak pendapatannya cukup besar.

Meski tidak masuk kategori besar, Mirasa 2, Rocket Chicken, Bakso Kikil Srengat Indah, Sate Siboen 1, dan Ikan Bakar 99 Singkawang mengalami peningkatan paling pesat dari tahun sebelumnya. Untuk kategori hotel, penerimaan cukup besar diterima dari Hotel Grand Surya, Hotel Merdeka, Hotel Lotus, Hotel Viva, dan Hotel Insumo.

Beberapa sektor industri pun ikut menjadi penyumbang pajak cukup besar. Mulai dari PT. Gudang Garam,Tbk; PG. Pesantren; PT. Panca Permata Pejaten; PG. Meritjan, dan PT.Surya Duta Investama.

Demi meningkatkan pendapatan dari sektor jasa dan perdagangan, Pemkot Kediri menstimulasinya melalui perizinan yang mudah, sehingga banyak pelaku usaha yang tertarik berinvestasi dan membuka gerainya di Kota Kediri. Makanya kini selain ada banyak pusat perbelanjaan, ada banyak franchise besar yang buka gerai di dalamnya.

Begitu pula dengan gedung bioskop yang semakin banyak pilihan. CGV Kediri Mall dan Kediri XXI dengan percaya diri datang menjadi pesaing Golden Theater yang lama sebelumnya menjadi pemain tunggal. Inilah yang menjadi alternatif hiburan yang bisa ditawarkan Kota Kediri.

Pos-pos yang lebih ekonomis pun tidak ditinggalkan. Pemkot melalui Disbudparpora mendorong alternatif-alternatif destinasi wisata lainnya seperti kampung-kampung wisata mulai dari Kampung Wisata Edukasi Tahu di Kelurahan Tinalan, Pesantren; Kampung Jamu di Kelurahan Kampungdalem; hingga Kampung Wisata Edukasi Tenun di Kelurahan Bandarkidul, Mojoroto.

Kekayaan kuliner legendaris milik warga lokal pun ikut dipelihara dan dipromosikan. Taman-taman dan ruang terbuka hijau (RTH) terus dipercantik demi meningkatkan kenyamanan warga Kota Kediri. Bahkan atmosfir kerukunan umat beragama pun terus dijaga sebagai salah satu faktor penting non material agar Kota Kediri nyaman untuk dijadikan tempat melepaskan penat ketika musim libur tiba.

“Jadi, meningkatnya pendapatan Kota Kediri ini tidak lepas dari peran serta masyarakat yang bisa bersama-sama menciptakan suasana yang nyaman dan cozy bagi pengunjung yang datang. Ayok datang ke Kota Kediri selama musim liburan akhir tahun ini,” pungkas Apip sambil berpromosi.

Reporter : Dina Rosyidha
Editor: Titik Kartitiani

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.