READING

Pak Gesang “Bergosip” tentang Mas Didi Kempot, The...

Pak Gesang “Bergosip” tentang Mas Didi Kempot, The Godfather of Broken Heart

Sebagai mahasiswa Solo yang bertampang besi tempa tapi berhati selembut kapuk randu, pernah berasa putus cinta (meski belum pernah nyambung sekalipun), tentu Mas Didi Kempot adalah textbooks yang sangat mewakili rasa di tiap helaan napasnya.

Julukan Godfather of Broken Heart yang akhir-akhir ini berkumandang membawa ingatan tentang dia (yang namanya tak boleh disebut) muncul kembali. Urat nadi kengrantesan (kepedihan tak terperi) itu seperti kembali menyusup di usia yang kini kepala empat (dan beranak satu), pun rambut sudah menyerupai rambut Tante Meryl Streep.

Siang itu, Juli tahun 2000. Matahari terik di langit Solo ketika untuk pertama kalinya saya menyandang kartu pers sebuah tabloid. Saya merasa keren (dan tentu saja akan kenyang) sebagai jurnalis profesyenel sementara masih menyandang status mahasiswa (yang tak kelar-kelar). Tugas pertama saya adalah mewawancarai maestro keroncong, Gesang Martohartono, di Perumnas Palur, Surakarta.

Singkat cerita, dengan sangat “analog” (saat itu belum pakai HP, apalagi GPS), saya sampai di sebuah rumah dengan laki-laki tua sedang membersihkan kadang burung.

Nuwun sewu, betul ini rumah Pak Gesang?” tanya saya pada laki-laki tua bersarung dan mengenanakan singlet.

“Betul. Ada perlu apa?”
“Saya mau bertemu Pak Gesang,” kata saya sangat percaya diri. Ingat, saya punya kartu pers!
“Ada keperluan apa?” tanyanya. Dengan nada sangat bangga, saya tunjukkan kartu pers saya. Sebuah kartu berbahan kertas dengan pass photo ukuran 3×2 dan ditempel dengan lem kertas.
“Oh, saya Pak Gesang, Nak,” katanya sambil mengulurkan tangan. Gelembung kebanggan itu mulai mengempis, sebab ternyata salah sangka. Ia kemudian masuk ke sebuah kamar, berganti kemeja dengan mengenakan peci lalu menyodorkan segelas air putih (yang langsung saya teguk habis. Memang memalukan).

“Maaf, adanya hanya air putih,” katanya dengan halus dan saya buru-buru “ber-tak apa-apa”. Air putih pada saat yang tepat seperti pejumpaan meski selesatan bintang jatuh saat rindu-rindunya, eh.

baca juga: Didi Kempot Kebanggaan Warga Ngawi di Perantauan

Gambaran saya tentang maestro yang berkilauan berbeda jauh dengan yang saya hadapi. Gesang di mata saya tak beda dengan kakek saya. Hanya lagi-lagi saya akan kembali terjengkang ketika ngobrol lebih jauh.

Saya mengaku sejujurnya pada Pak Gesang, bahwa saat itu adalah tugas pertama dan saya sama sekali tak paham musik keroncong namun harus menulis tentang keroncong. Entah bagaimana saya lancar saja mengaku demikian (dan tidak songong lagi, kartu pers segera saya kantongi). Kalau pun sang narasumber menyuruh saya pulang dan belajar dulu sebelum wawancara, sangat masuk akal. Tapi tidak dengan Pak Gesang. Ia menjelaskan dari nol, apa itu musik keroncong dan perjalanannya sebagai musisi.

Saya mencatat dengan demikian cepat (yang kemudian saya pun tak bisa baca tulisan saya sendiri) dan keteteran tentu saja. Saat itu, saya tak punya perekam. Bahkan pulpen yang saya bawa pun macet, Saudara!

baca juga: Lodho Masakan Paling Enak di Jawa Selatan

Pak Gesang dengan penuh pengertian, menyodorkan pensil yang biasa ia buat menulis. Salah satu menulis lagu dan saya menyesal, mengapa pensil itu tak saya kantongi saja. Kan bisa jadi kenang-kenangan, sebab saya kan suka memungut kenangan. Memang, memungut barang berkenangan dan klepto dalam kasus ini berbatas tipis.

Campursari Adalah Keroncong Lengkap

Saya tak akan berbicara soal profil Pak Gesang, namun tentang Mas Didi Kempot. Tahun 2000-an, lagu-lagu ngrantes (pedih) Mas Didi sedang ada di tangga lagu dan terdengar di mana-mana. Lagu-lagu bertema patah hati, kesiksa kangen (tersiksa rindu), hingga lagu-lagu yang sangat geografis laksana legenda dalam lembaran peta. Sebut saja Stasiun Balapan, Tirtonadi, Sewu Kutha, Tanjung Mas Ninggal Janji dll (sekadar catatan, saya pun mengoleksi kaset-kaset beliau, eh. Kaset!)

“Lagu Tirtonadi yang saya karang berbeda dengan Tirtonadi karya Didi Kempot. Tirtonadi menceritakan tentang sebuah desa yang tenang dengan air jernih mengalir,” kenang Gesang yang lahir pada 1 Oktober 1916. Tirtonadi masa kini berupa terminal modern yang bersih yang dimiliki Surakarta. Mas Didi menandainya dengan sebuah lagu campursari berjudul Tirtonadi (1998). Sebuah syair penantian sang kekasih yang berharap datang bersama bus malam, bertahun-tahun lamanya.

Tahun 2000-an, beberapa pecinta keroncong sempat sengit terhadap hits-nya musik campursari. Ada yang menuduh merusak musik keroncong sebagai akar dari musik itu. Namun tidak dengan Pak Gesang.

“Tidak. Campursari tidak akan menggusur musik keroncong. Tinggal masyarakat senang atau tidak. Saya harap yang muda-muda mempelajari apapun jenis keroncongnya, kalau saya kan sudah gaek,” harap Pak Gesang saat itu.

Menurut Pak Gesang, campursari merupakan langgam keroncong yang dilengkapi dengan gamelan karawitan (misalnya gender, gendang, dll) sehingga lebih easy listening. Kepopuleran campursari pada masa itu melejit melebih musik keroncong sebagai dasar musiknya. Musik keroncong terdengar klasik sehingga tak cocok dengan generasi muda (yang 19 tahun kemudian sudah sedikit matang-untuk tak mengatakan tua) saat itu.

Demikianlah ingatan saya tentang Pak Gesang yang juga menyukai lagu-lagu Mas Didi Kempot. Pada akhir wawancara, saya bertanya apa keinginan Pak Gesang. Saat itu, ia hanya ingin bisa menyaksikan peringatan HUT RI ke-55, jadi sebulan berikutnya. Keinginan yang begitu sederhana, sebagaimana kesederhanaan hidupnya hingga 20 Mei 2010. Sebelum HUT RI ke-65, Pak Gesang kembali pada Yang Maha Pencipta Keindahan.

“Saya ingin jadi wartawan, Pak. Wartawan Intisari atau National Geographic,” demikian kata saya tanpa ditanya. Memang, wartawan satu ini crigis (cerewet).

“Cita-citamu akan terlaksana. Bapak tahu,” katanya. Saya sempat mendengarkan, Pak Gesang menyanyikan lagu-lagu karyanya saat wawancara itu. Seperti sebuah konser megah, meski di ruang sempit yang padat piagam penghargaan juga foto-foto dirinya yang memotret fotografer asing. Salah satunya foto yang saya tampilkan ini, merupakan karya fotografer Jepang. Sebab wartawan muda dengan semangat baja dan tanpa modal ini tak punya kamera. Betul, modalnya memang “hanya” cita-cita.

Dari Ki Narto Sabdo hingga Didi Kempot

Gesang penganut art for art (seni hanya untuk seni). Dalam proses penulisan lagu selalu menuntut penghayatan dan penjiwaan. Bagi Pak Gesang, satu lagu butuh waktu minimal 3 bulan . Tak heran, jika sepanjang karyanya, Pak Gesang hanya mencipta tak lebih 20 lagu.

Berbeda dengan Mas Didi, lagu-lagunya banyak dan masuk kancah industri. Ia sudah menciptakan 800-900 lagu. Hampir semua lagunya laris manis meski sedih mengiris. Bahkan menurut sebuah wawancara di video Kompas.com (24/07/2019), Mas Didi berencana membuat 1000 lagu yang sangat geografis itu. Kini, lagu-lagu bertema kabupaten dan kota (seperti layaknya wilayah administratif eh), baru 8 lagu. Semuanya bergenre campursari.

Sebetulnya, Mas Didi bukanlah orang pertama yang menciptkan corak musik ini. Menurut penelitian Cahyandaru Kuncorojati, Muhammad Nurul Fajri, dan Nuni Ratqan Amani, Fakultas Ilmu Budaya Dasar, Universitas Indonesia (2009) menulisakan bahwa Ki Nartosabdo, dalang asal Wedi, Klaten, Jawa Tengah yang mulai memopulerkan corak musik campursari ketika ia mementaskan wayang kulit. Hanya syair-syairnya masih “berat”.

Kemudian, Anto Sugiartono alias Manthous (10 April 1950- 9 Maret 2012), penyanyi lagu jawa asal Gunung Kidul, Yogyakarta membawa syair campursari lebih easy listening. Manthous mencoba bereksperimen dengan memasukkan instrumen pengganti bass betot dan gitar klasik dengan memasukkan bass dan gitar elektrik serta keyboard untuk menggantikan seruling dan ukulele. Kehadiran keyboard ini semakin menghidupkan musikalitas campursari. Selain itu Manthous juga memasukkan seperangkat drum untuk menambah kesempurnaan musik campursari.

Seni campursari menurut sejumlah tokoh seni di Jawa timur, merupakan perpaduan nada pentatonis dan diatonis yang dipadukan dengan alat musik tradisional gamelan dan seperangkat alat musik band. Manthous yang merupakan maestro musik campursari menjelaskan bahwa penggabungan unsur pentatonis dan diatonis dalam musik campursari tidak asal campur.

Musik campursari yang diciptakan Manthous, biasanya bernuansa segar dan penuh dengan keriangan. Temanya pun beragam, termasuk tentang cinta. Hanya pangsa pasarnya masih generasi tua. Munculnya album Campursari Gunung Kidul (CSGK) mengawali kesuksesan Manthous. Berkat penemuan kreatifnya itu, Manthous mendapatkan penghargaan sebagai Seniman Inovatif pada tahun 1996, Panasonic Award, dan Ami Sharp Award. Kejayaan Manthous kira-kira sampai 2001, lalu Didi Kempot mulai tenar.

Sejak tahun 2000-an muncullah bentuk campursari yang merupakan campursari gamelan dan keroncong, serta campuran keroncong dan dangdut dari Didi Kempot. Didi Kempot dengan kesedihan yang mengiris dan lagu-lagu bertema “geografis” itu tampil di blantikan musik anak muda. Syair-syair yang sederhana, lugas, dan mengena tepat pada ulu hati (pada hati yang butuh ditemani eaaaaa), menjadikan lagu-lagu Mas Didi sebagai curhat massal atau “sambat nasional” (Titik Kartitiani).

Print Friendly, PDF & Email

Titik Kartitiani

sunset lover, traveler, writer, and fulltime dreamer :)

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.