Pamer Burung Di Pasar Splindit Malang

MALANG – Riuh celoteh burung menyambut langkah kaki saya memasuki gapura bertuliskan “Pasar Burung Kota Malang”. Orang-orang lebih akrab menyebutnya Pasar Splindit, lantaran tak jauh dari situ dulu di masa kolonial Belanda terdapat hotel bernama Splendid, tepatnya di persimpangan Jalan Tumapel, Klojen, Kota Malang. Pasarnya sendiri mulai terbentuk sejak tahun 1960-an, berawal dari para pedagang yang sering berkumpul di tempat ini untuk berjualan dan mengadakan lomba burung berkicau. Lambat laun semakin berkembang dan ramai dikunjungi orang-orang yang ingin membeli burung peliharaan. Kini selain berbagai jenis burung, Pasar Splindit juga menjual ikan hias, kucing, anjing, tupai, dan kebutuhan hewan peliharaan seperti pakan dan sangkar. Karena koleksinya cukup lengkap dan letaknya di tengah kota, Pasar Splindit ini banyak dikunjungi oleh warga Kota Malang sendiri maupun wisatawan yang ingin mencari tempat wisata alternatif yang unik dan berbeda.

Pembeli boleh menawar burung yang diinginkan sampai terjadi transaksi.

Sinar matahari pagi menerobos di antara kurungan burung yang digantung berjejer di depan pertokoan yang masih tutup. Jatuhnya bayangan dari kurungan-kurungan di dinding, seakan membentuk dunia alternatif dari ramainya pasar pagi itu. Saya menjumpai salah seorang penjual burung, namanya Pak Muran. Usianya sudah cukup sepuh, yaitu 63 tahun. Namanya tidak seperti nama Jawa pada umumnya, karena beliau aslinya Balikpapan. Dulunya Pak Muran berprofesi sebagai mekanik sebelum banting stir menjadi penjual burung yang telah ia tekuni selama 15 tahun. Tangannya masih cekatan menyemprotkan air ke kandang, supaya burung lovebird jualannya aktif bergerak.

Pak Muran sudah 15 tahun berjualan burung di Pasar Splindit.

Lovebird atau burung cinta adalah salah satu dari spesies genus Agapornis (dari bahasa Yunani agape yang berarti cinta dan ornis yang berarti burung). Badannya kecil, sekitar 13 sampai 17 cm dengan berat 40 hingga 60 gram. Nama mereka berasal dari sifatnya yang suka berdekatan dan saling menyayangi. Pak Muran mempunyai beberapa jenis lovebird. Yang berwarna hijau tua atau josan dihargai sekitar 300 ribuan. Sedangkan yang pastel ijo atau nama kerennya pasjo, dijual dengan harga 250 ribu rupiah. Pembeli boleh menawar hingga terjadi kesepakatan harga. Selain lovebird, Pak Muran juga berjualan burung hantu dan ayam cemani.

Pembeli sedang memilih burung lovebird yang dijual di lapak Pak Muran.

Burung hantu yang dijualnya adalah dari jenis celepuk reban. Untuk anakan, harganya sekitar 50 ribu. Burung hantu kini memang sedang naik daun. Banyak anak muda menggemarinya. Bahkan ada komunitasnya di kota-kota besar. Padahal tak mudah memelihara burung hantu. Burung yang termasuk ordo Strigiformes ini sebenarnya termasuk golongan burung pemakan daging (karnivora) dan hewan yang aktif di malam hari (nokturnal). Sayangnya tidak semua pemeliharanya paham dengan karakter si burung hantu. Pemiliknya memberi makan buah-buahan dan memamerkannya di siang hari bolong, akhirnya banyak dari burung ini stres dan tak berumur panjang di tangan pembelinya. Padahal burung ini termasuk burung yang dilindungi dan tidak untuk dipelihara oleh perorangan, karena termasuk satwa liar dan menjadi predator alami bagi tikus sawah.

Selain berbagai macam jenis burung, disini juga menjual hewan peliharaan lainnya seperti kucing, anjing, tupai, ayam cemani, dan lainnya.

Kalau ayam cemani, biasanya dicari oleh orang-orang tertentu untuk keperluan yang berhubungan dengan ritual, upacara adat, atau hal-hal mistis. Jenis ayam asli Indonesia yang keseluruhan bagian tubuhnya berwarna hitam hingga organ dalamnya ini, konon menjadi klangenan para jin dan bisa mendatangkan keberuntungan bagi pemiliknya. Karena itulah di pasaran, ayam cemani bisa dihargai ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Menurut penelitian seorang ilmuwan dari Swedia bernama Leif Adersson, warna hitam ayam Cemani adalah akibat kondisi genetik langka yang disebut fibromelanosis, yaitu bermutasinya sel dalam ayam cemani hingga membuat seluruh tubuhnya menghasilkan pigmen hitam. Saya menjumpai beberapa ekor ayam cemani yang juga dijual oleh Pak Muran di lapaknya. Untuk yang jago dijualnya 350 ribu, sedangkan yang betina dijual 250 ribu.

Pengunjung juga bisa membeli pakan burung di Pasar Splindit.

Dulunya Pasar burung ini berada di kawasan Comboran. Namun karena terlalu padat dan menimbulkan kemacetan, akhirnya berpindah di tempat yang sekarang, mulai tahun 1993. Kini Comboran sendiri lebih terkenal sebagai pasar barang loak atau bekas. Di Pasar Burung Splindit terdapat sekitar 500 orang pedagang, baik yang mempunyai lapak atau pedagang yang berjualan di trotoar sepanjang jalan Brawijaya hingga kedua sisi jembatan di atas Sungai Brantas. Pasar ini buka dari pagi hingga sore hari. Ada ratusan varian jenis burung dijual di tempat ini. Burung-burung tersebut berasal dari Pulau Jawa dan luar pulau, misalnya dari Kalimantan, Nusa Tenggara, Papua dan Sumatera. Hal tersebut menunjukkan luasnya akses pasar Splindit dengan penjual atau pembeli dari luar Jawa. Disini juga tempat bertemunya penangkap burung maupun peternak yang khusus datang menawarkan burungnya kepada pemilik lapak di pasar ini.

Suasana pagi di Pasar Splindit Malang.

Menurut cerita Pak Muran, kebanyakan pedagang di Pasar Splindit berasal dari Gunung Gebang, Kabupaten Malang. Mereka betah berdagang disini karena secara rutin pihak pasar melakukan kontrol dan penyemprotan untuk mencegah tersebarnya penyakit di kalangan satwa yang diperjualbelikan di pasar ini. Dengan membayar restribusi 2500 per hari, para pedagang merasa nyaman berjualan karena area pasar bersih, terbebas dari penyakit, dan yang terpenting adalah lokasinya strategis, mudah diakses oleh siapa saja. Bagi yang belum pernah ke Pasar Splindit, pasar ini terletak di sebelah barat jalan raya Majapahit, yaitu sebelum Balai Kota dari arah Alun-alun Merdeka, kiri jalan. Banyak wisatawan yang sering terlihat di pasar burung ini, karena lokasinya dekat dengan beberapa hotel populer seperti Hotel Tugu, Splendid Inn, Hotel Montana Satu, Hotel Kartika Kusuma, Hotel Olena Garden, ataupun Riche Hotel. Selain itu, tempat wisata juga banyak bertebaran di area ini. Seperti alun-alun, balaikota, dan kampung wisata Kayutangan.

Foto dan Teks oleh Adhi Kusumo

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.