READING

Pameran Buku Foto Kelas Pagi Kediri Peringati Worl...

Pameran Buku Foto Kelas Pagi Kediri Peringati World Photobook Day 2019

KEDIRI- Momentum World Photobook Day dimanfaatkan komunitas fotografer Kota Kediri untuk berbagi ilmu. Salah satunya melalui rangkaian acara pameran buku foto yang diselenggarakan Kelas Pagi Kediri (KPK) di Coffee Station Kediri. Acara dilaksanakan selama dua hari ini (12-13 Oktober). 

“Ada banyak acara yang kita laksanakan mulai Sabtu sore ini hingga Minggu pagi besok,” terang Adhi Kusumo, salah satu pemrakarsa acara KPK Photobook Day kepada Jatimplus.ID.

Adhi menjelaskan bahwa World Photobook Day sebenarnya jatuh pada tanggal 14 Oktober. Namun acara KPK diputuskan dilaksanakan lebih awal agar para pecinta fotografi bisa lebih leluasa bergabung dalam acara tahunan yang diselenggarakan KPK.

Acara Photobook Day dimulai dengan membuka perpustakaan dadakan di kafe yang berlokasi di Jalan Stasiun No 24, Kelurahan Balowerti, Kota Kediri. Perpustakaan tersebut menyediakan puluhan buku foto yang berisi kompilasi karya fotografer terkenal yang dibukukan.

Buku-buku tersebut dipinjam dari para anggota KPK maupun para relawan yang mau meminjamkan bukunya selama acara berlangsung. “Sekarang sudah ada 50-an buku yang terkumpul,” tambah Adhi yang juga fotografer media online tersebut.

Tidak mudah untuk bisa membaca dan mendapatkan buku foto. Pasalnya buku foto sebagian besar dijual dengan harga mahal dan cenderung langka. Setiap buku bahkan bisa seharga puluhan juta. Makanya momentum pameran buku foto ini diharapkan bisa dimanfaatkan para pecinta fotografi untuk menyerap inspirasi dan ilmu-ilmu di dalamnya.

“Kesempatan mengeksplorasi puluhan buku foto secara gratis tidak bisa didapatkan setiap saat. Silahkan manfaatkan kesempatan ini,” tegas Adhi.

Tidak hanya dipamerkan dan dibaca saja. Buku-buku foto tersebut juga dibedah langsung oleh fotografer profesional. Romi Perbawa dan Mamuk Ismuntoro membedah buku favorit mereka di Sabtu malam (12/10). Sedangkan Minggu siang (13/10), bedah buku diisi oleh Ichwan “Boljug” Susanto dan Adhi Kusumo.

Adhi Kusumo sendiri rencananya akan membedah buku foto favoritnya yakni No Copy Advertising karya Lazar Dzamic. Buku yang dikeluarkan tahun 2001 tersebut secara garis besar berisi tentang promosi, publikasi, dan menjual hanya dengan gambar tanpa kata-kata.

Menurut Adhi, tidak semua orang bisa melakukannya bahkan oleh fotografer profesional sekalipun. Makanya bedah buku Lazar Dzamic tersebut dinilai sangat penting terutama untuk para fotografer yang ingin menyasar dunia bisnis advertising.

“Kita diajak untuk bisa memahami gambar tanpa teks, membaca foto dan kemudian berbicara melalui foto,” tandasnya.

Para peserta Photobook Day KPK juga didorong secara aktif belajar fotografi secara langsung. Makanya pada hari Minggu pagi peserta diajak meng-eksplore kawasan pecinan di Kota Kediri. Tepatnya di sepanjang Jalan Dhoho hingga kawasan Klentheng Tjoe Hwi Kiong yang berada di Jalan Yos Sudarso, Kota Kediri.

Hasil jepretan para peserta kemudian didiskusikan dalam kelas street photography. Bagaimana teknik yang benar dan yang bisa menghasilkan gambar yang bagus. Untuk peserta non anggota KPK bisa ikut kelas ini untuk bisa menambah kemampuan di bidang fotografi.

Tidak ketinggalan, selama seminggu KPK juga mengadakan pameran foto. Temanya Indonesia Kecil di Tengah Kebun Pisang. Foto tersebut berkisah tentang sebuah panti asuhan terpencil di Lumajang. Meski kecil, di sana berisi anak-anak yang datang dari berbagai penjuru Indonesia.

“Makanya kemudian disebut Indonesia Kecil karena di sana semua suku dan agama berkumpul rukun dalam satu bangunan panti asuhan,” kata Adhi.

Lalu sebenarnya KPK sendiri itu seperti apa sih? Adhi yang sudah lama menjadi anggotanya pun menerangkan bahwa sebenarnya KPK adalah perpanjangan dari Kelas Pagi yang diinisiasi Anton Ismael, fotografer kawakan di Jakarta. Kelas memotretnya dilaksanakan di pagi hari secara gratis sejak 2006.

Hingga saat ini hanya ada empat cabang saja di Indonesia yakni di Papua, Cianjur, Yogyakarta, dan Kediri.

“Cabang-cabang di daerah ini muncul karena antusiasme masyarakat lokal. Kita (Kediri-red) relatif paling aktif dibandingkan kelas pagi dari daerah lain,” ceritanya.

Reporter: Dina Rosyidha
Editor: Titik Kartitiani

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.