READING

Pameran Lukisan Culture Shock Masuk Kampus UNTAG B...

Pameran Lukisan Culture Shock Masuk Kampus UNTAG Banyuwangi

BANYUWANGI – Ruang Auditorium Universitas 17 Agustus (UNTAG) Banyuwangi nampak berbeda. Kursi-kursi besi tergantikan dengan beberapa sekat dari kayu. Pada setiap sisinya, terdapat puluhan bingkai dengan corak warna dan ukuran yang berbeda. Bingkai-bingkai kayu tersebut menampilkan estetika karya dari 34 perupa Bumi Blambangan.

Sekitar 100 lukisan menyajikan berbagai jenis aliran. Dari aliran lukisan abstrak seperti milik Ben Hendro dengan judul Bunga Panca Warna, aliran ekspresionis karya S.Giono yang menggambarkan para pemain angklung, aliran impresionis yang menampilkan kesan pencahayaan yang kuat, aliran naturalis yang merupakan apresiasi seniman pada keindahan alam semesta, aliran futuris karya Abdul Rohim dengan menampilkan keindahan gerak melalui garis dan visual penari seblang, aliran gotik yang menggambarkan kisah ksatria di Banyualit, aliran realis dengan pandangan yang jujur dan apa adanya, hingga aliran surealis yang memunculkan efek kejutan bagi penikmatnya seperti karya Tri Ir yang berjudul Culture Banyuwangi.

Acara yang diinisiasi oleh Forum Perupa Banyuwangi tersebut disambut baik oleh yayasan yang menaungi UNTAG Banyuwangi, yakni Perpenas. Sebab mereka yakin acara kali ini merupakan salah satu bentuk apresiasi agar karya-karya tersebut dapat menjadi media kritis bagi mahasiswa maupun masyarakat. Dukungan penuh juga diberikan oleh Rektor UNTAG Banyuwangi, Andang Subaharianto dalam acara bertema Culture Shock ini.

“Pergerakan dunia ini memang didorong oleh kekuatan kapital, maka ada semacam keterbelahan, ada semacam split. Saya yakin, dinamika masyarakat itu tidak akan bisa dihentikan, akan terus bergerak. Dan Banyuwangi pun juga seperti itu. Saya yakin, karya budayawan dan seniman ini mampu menghadapi dinamika apapun di masyarakat,” terang Andang.

Menurut Andang, dinamika kapital dapat mendikte kehidupan dan tak jarang menyeret orang menjadi pragmatis. Hal tersebut harus dibaca secara idealistik oleh para seniman Banyuwangi terutama dalam karya-karyanya.

Sejumlah pengunjung memadati pameran lukisan Culture Shock. FOTO: JATIMPLUS.ID/Suci Rachmaningtyas.

Hal senada juga diungkapkan oleh perupa kawakan Banyuwangi, Abdul Aziz. Selaku ketua panitia, ia menceritakan alasan mengapa mereka mengusung tema Culture Shock. “Sebenarnya itu kalau di dunia kesenian hampir sama di politik ataupun ekonomi dunia saat ini. Semuanya itu mengalami tekanan psikologis, katakanlah seperti itu. Yang mana hampir semua sektor itu kita gagap, kita kaget. Dalam arti kata, pasar global yang begitu menggebu-gebu menyerang kita, dan kita ndak siap menerima serangan itu,” Ungkap Aziz kepada Jatimplus.ID.

Arus globalisasi yang kian pesat, turut mengubah permintaan pasar akan lukisan siap beli. Hal ini memunculkan home industry yang menjamur di berbagai kota besar, seperti Bandung dan Bali. Permintaan pasar yang kian meningkat menjadikan home industry turut mempercepat penciptaan karya-karya lukis. Karya lukis bukan lagi menyoal gagasan dan idealisme yang ingin disampaikan oleh sang perupa kepada masyarakat.

Sejak tahun 2010, Aziz merasakan dampak perubahan itu. Home industry menggilas sisi idealis para seniman untuk memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat. Jika satu lukisan diminati oleh pengunjung, maka home industry akan memasok karya yang sama dengan jumlah banyak. Meski dengan obyek yang terduplikat.

“Misalnya satu lukisan ya, ada orang yang bikin gunung semua. Ada orang yang spesial bikin obyek manusia, ada yang spesial bikin panen sawah sendiri. Sehingga dengan obyek yang sama itu, satu hari dapat 100 lukisan itu bisa. Itu lukisan tangan, jadi satu obyek itu dikerjakan tiga sampai empat orang,” ungkap Aziz,

Bagi seniman yang lama tinggal di Ubud Bali ini, jika seperti itu seni rupa sudah tidak lagi menjadi kebutuhan batin seorang seniman. Sebab menurutnya, hampir di setiap tempat banyak lukisan dengan nafas dan irama yang sama. Benturan budaya ini lah yang merubah sisi idealisme pelukis, yang sebelumnya sebagai mencipta sebuah karya, menjadi seorang penduplikat ulung.

Aziz mengapreasiasi dukungan akademisi dan pemerintah kabupaten Banyuwangi terhadap pameran lukisan kali ini. “Ndak bisa seorang seniman, seniman apa saja lah ya, di Indonesia pada umumnya, tanpa ada campur tangan atau bantuan dari pihak kedua. Terutama pengusaha maupun pejabat. Seperti sekarang ini UNTAG peduli dengan memberi fasilitas. Tapi kehidupan para seniman tanpa pihak kedua terutama pengusaha yang mau membeli karya kami, ya sulit seorang seniman bisa bertahan,” pungkas Aziz.

Pameran lukisan ini dihelat mulai tanggal 1-10 Juli 2019. Meski bertempat di kampus, pameran lukisan ini buka dari pukul 09.00 hingga 21.00 WIB. Menurut Aziz, masyarakat umum tak perlu sungkan untuk melangkahkan kaki masuk kampus, sebab UNTAG membuka pintu selebar-lebarnya bagi siapapun yang ingin mengapresiasi seni dan budaya Banyuwangi.

Reporter : Suci Rachmaningtyas
Editor : Prasto Wardoyo


Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.