READING

Panas Dingin Hubungan Gus Dur dan Gus Sholah

Panas Dingin Hubungan Gus Dur dan Gus Sholah

JOMBANG– KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur terpilih untuk pertama kalinya menjadi Ketua Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dalam Muktamar NU ke-27 di Situbondo pada tahun 1984. Selanjutnya Gus Dur terus menjadi tampuk pimpinan NU hingga tahun 1999  baru digantikan KH. Hasyim Muzadi.

Gus Dur berhasil membangun wacana pemikiran keagamaan baru di kalangan nahdliyin. Sehingga begitu besarnya pengaruh Gus Dur sampai-sampai muncul fenomena Gusdurian sebagai wadah pengikut Gus Dur. Bila dilihat dari sisi positifnya maka ini bisa dijadikan apresiasi atas kepemimpinan Gus Dur. Namun bila melihat secara kritis hal ini menimbulkan diskusi satu arah. Karena wacana pemikiran yang ada hanya monologis, dengan pemikiran Gus Dur titik berangkatnya.

Di tengah fenomena ini muncul sosok KH. Salahuddin Wahid alias Gus Sholah sebagai penyeimbang dialetika di kalangan nahdliyin. Gus Sholah tak lain adalah saudara se-ayah dan se-ibu dari Gus Dur. Alhasil, kaum nahdliyin memiliki alternatif pemikiran yang bisa diikuti.

Menurut salah satu alumni Tebuireng Syamsul Huda, sejak lama memang susah menyatukan keluarga Tebu Ireng dalam garis politik yang sama. Ini terlihat ketika KH. A. Wahid Hasyim dan KH. Yusuf Hasyim (Pak Ud) aktif di Masyumi dan NU, sementara KH. Kholik Hasyim yang juga pengasuh Tebu Ireng 1953–1965 (12 tahun) memilih jalur lain dengan mendirikan partai sendiri bernama AKUI. Padahal ketiganya merupakan putra KH. M Hasyim Asy’ari.

“Perbedaan politik dzuriyah Tebuireng tetap tidak segaris secara politik. Pak Ud yang juga pengasuh Tebuireng pada periode 1965–2006 (41 tahun) aktif di PPP dan Pak Karim di Golkar. Selanjutnya Pak Ud berbeda lagi dengan putra KH. Wahid Hasyim bernama Gus Dur,” katanya.

Pada tahap selanjutnya, Pak Ud dan putra KH. Wahid Hasyim yang lainnya bernama KH. Salahuddin mendirikan Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU) dan Gus Dur mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Secara politik antara Gus Dur dan Gus Solah ini tidak pernah sejalan, meskipun mereka lahir dari rahim yang sama. Namun secara persaudaraan dan keluarga tetap baik. Dalam acara-acara keluarga mereka berdua terlihat berkumpul dalam forum yang sama.

Salah satu perdebatan besar di antara keduanya terjadi di Koran Media Indonesia pada tahun 1998. Perdebatan sengit lewat tulisan ini berawal saat Gus Dur pada tanggal 8 Oktober 1998 menulis sebuah artikel dengan judul  A. Wahid Hasyim, Islam dan NU.

Saat itu Gus Dur menguraikan sosok Soewarno, ajudan Panglima Besar Jenderal Soedirman. Menurut Gus Dur, Soewarno menuturkan bahwa Mbah Wahid Hasyim pernah berujar tentang hukum Islam yang harus bersandar kepada Pancasila sebagai dasar Negara, atau dengan kata lain, Hukum syariat Islam tidak lebih tinggi kekuatannya dari Pancasila.

Lebih lanjut, Gus Dur mengutip kebijakan KH. Wahid Hasyim saat menjadi Menteri Agama yang sempat membuat kebijakan memperbolehkan perempuan mendaftar pada Sekolah Guru Hakim Agama Negeri (SGHAN). Keyakinan Gus Dur, kebijakan ini menegaskan bahwa pandangan politik Mbah Wahid Hasyim adalah politik sekuler.

Setelah membaca tulisan kakaknya di Koran yang sama pada tanggal 17 Oktober 1998 dengan judul KH. A. Wahid Hasyim, Pancasila dan Islam, Gus Sholah membantah anggapan bahwa KH. Wahid Hasyim adalah sekuler.

Bagi Gus Sholah, persetujuan ayahnya atas dihapuskannya tujuh kata kunci dalam Piagam Jakarta hingga terangkum dalam sila Ketuhanan Yang Maha Esa adalah simbol keteguhan tauhid dalam kehidupan berbangsa dan negara. Artinya, negara tidak boleh sekuler. Perdebatan kakak-adik ini terjadi hingga masing-masing menuliskan tiga tulisan penguat argumentasinya. Keduanya pun sempat diundang salah satu stasiun televisi terkait dengan perbedaan pandangan tersebut.

Gus Sholah terbilang berani. Melawan Gus Dur pada saat itu sama saja berseberangan dengan pengikutnya yang cukup banyak. Namun, secara kapasitas memang hanya Gus Sholah yang bisa melakukannya. Karena dari nasab mereka berdua sama. Tinggal masyarakat menilai dari sisi keilmuan masing-masing.

Sejak 2006, Gus Sholah kembali ke Tebuireng memimpin pesantren yang didirikan kakeknya KH. M. Hasyim Asy’ari hingga hari ini. Sejak kepemimpinan Gus Sholah ponpes Tebuireng mengalami kemajuan cukup pesat. Saat ini tercatat ada 15 cabang Tebuireng di seluruh Indonesia. Gus Dur pun sempat berkali-kali mengunjungi Gus Sholah dan Tebuireng baik sebagai kakak maupun sebagai peziarah.

Terlepas dari adanya perbedaan pandangan politik antara Gus Dur dan Gus Sholah, keduanya adalah saudara kandung yang saling mendukung. Misalnya pada 11 Desember 2009  Gus Dur meminta Gus Sholah maju dalam muktamar NU ke-32 di Makassar tahun 2010. Namun sayang, tidak lama setelah permintaan itu disampaikan, Gus Dur tutup usia pada 30 Desember 2009 dalam usia 69 tahun.

Sejak Gus Dur wafat, ada beberapa kebijakan yang diambil oleh Gus Sholah. Di antaranya yaitu penyelenggaraan haul Gus Dur di Tebuireng. Padahal sebelumnya Tebuireng tidak memperingati haul KH. M. Hasyim Asy’ari. Sehingga acara haul ini adalah kegiatan baru. Ada juga seminar dan bedah kajian Gus Dur, buku-buku tentang Gus Dur gencar diterbitkan oleh Pesantren Tebuireng. Bahkan keduanya pernah menulis buku bersama tentang sosok ibunya “Ibuku Inspirasiku; Nyai Sholichah Wahid.

Alumni Tebuireng yang juga Mudir 1 Madrasah Qur’an Tebuireng, KH. A. Musta’in Syafi’i menjelaskan, bahwa pelarangan haul adalah wasiat Hadlratusussyaikh KH. Hasyim Asy’ari (Mbah Hasyim). Menurutnya, Kiai Hasyim berwasiat agar tidak dilakukan peringatan Haul untuk mengenang hari wafatnya semata-mata karena tidak ingin membuat repot banyak orang, bukan karena mengharamkan peringatan Haul.

“Tidak adanya Haul Kiai Hasyim karena itu sesuai wasiat. Tapi bukan berarti mengharamkan Haul,” tandasnya.

Reporter : Syrarif Abdurrahman
Editor : Prasto Wardoyo

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.