READING

Pandemi Corona, Ritual Nyepi Tanpa Ogoh-ogoh Dilal...

Pandemi Corona, Ritual Nyepi Tanpa Ogoh-ogoh Dilalap Api

JOMBANG – Patung ogoh-ogoh umat Hindu di Dusun Ngepeh Desa Rejoagung Kecamatan Ngoro Jombang masih berdiri kokoh di rumah warga yang tak jauh dari Pura Amertabuana. Patung raksasa yang rencananya akan dibakar dalam tradisi tawur agung gagal di eksekusi. Tokoh umat Hindu bersepakat menunda pelaksanaan ritual tawur agung  karena larangan untuk  mendatangkan masa dan berkerumun dalam masa pandemi virus corona.

Tidak hanya kegiatan tawur agung dan sembahyang yang ditiadakan, sejumlah ritual yang biasa di laksanakan pasca tapa brata juga tidak akan di gelar. Seperti sembahyang ngembakgeni usai tapa brata dan darmasanti atau berkunjung ke sanak saudara dan sesepuh untuk saling memaafkan juga dipastikan ditiadakan.

Sejak Rabu puku 00.00 seluruh umat Hindu yang berada di sekitar pura sudah melakukan empat pantangan yakni  amati karya atau tidak bekerja atau melakukan aktifitas di luar rumah,  amati lelungan yaitu  tidak  bepergian, amati  geni tidak menyalakan api atau lampu penerangan dan amati lelanguan atau tidak bersenang-senang.

Empat pantangan ini  di lakukan seluruh umat Hindu selama Hari Raya Nyepi Rabu 25 Maret 2020 atau dalam perhitungan kalender Bali, Nyepi jatuh pada tanggal satu bulan ke-10.Tidak heran jika saat ini suasana pura yang bisa digunakan oleh 25 Kepala Keluarga ini sepi. Hanya ada sesajian berupa buah tersusun rapi di depan tempat sembahyangan. Selain itu ada beberapa bekas gelas berisi tirta suci yang sudah digunakan umat Hindu malam sebelum melakukan nyepi di rumah masing masing.

“Sebagai warga negara yang patuh  dengan himbauan pemerintah untuk tidak melakukan kerumunan di tengah wabah corona maka ibadah di pura ditiadakan,” ujar Wijiono, salah satu tokoh agama Hindu setempat kepada Jatimplus.ID.

Tokoh Hindu ini menceritakan bahwa Pura yang dibangun sekitar tahun 1970 ini  memiliki umat sekitar 60 orang atau sekitar 25 KK. Saat ini semua umat melaksanakan tapa brata di rumahnya masing masing. Meskipun kelompok minoritas,  masyarakat rukun menjalankan ibadah meskipun berada di tengah perkampungan umat muslim. Setiap ada kegiatan sosial dan kebudayaan bisa berjalan bersama dalam kerukunan.

Selama tidak ada wabah  pelaksanaan Nyepi  selalu di gelar dengan meriah. Sehari sebelum tapa brata mereka selalu menggelar upacara tawur agung dengan mengarak ogoh-ogoh keliling  perkampungan  warga. Simbol ogoh-ogoh selalu dikaitkan dengan  prrilaku jahat yang akhirnya harus dimusnahkan dengan cara di bakar dalam ritual tawur agung. “Tahun ini patung ogoh-ogoh kita simpan dulu, tidak jadi di arak dan dimusnahkan,”  ucapnya.

Ogoh-ogoh yang biasanya akan dibakar dalam rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi ditunda dibakar karena pandemi virus corona. Foto: Jatimplus.ID/Lufi Syailendra

Ogoh-ogoh ini dibuat warga secara patungan.  Uang yang terkumpul sekitar  satu juta dipakai membuat patung berbentuk raksasa besar dengan lidah menjulur keluar. Wajah sangar berwarna merah ini menandakan keangkara murkaan yang terjadi  di muka bumi. Patung yang menandakan perilaku jahat yang selama ini ada di setiap diri manusia.  Filosofinya dalam setiap diri manusia ada sisi baik dan buruk. Sisi buruk inilah yang akan di musnahkan  untuk menuju penyucian diri. 

Karena gagal dibakar, ogoh-ogoh ini disimpan dulu di depan rumah warga. Mereka juga belum mengetahui sampai kapan pandemi ini berakhir sehingga patung bisa dimusnahkan dalam ritual lainnya. 

Selain kegiatan menjelang tapa brata yang ditiadakan, kegiatan pasca tapa brata juga akan ditiadakan. Yakni kegiatan sembahyangan ngembakgeni yang biasa dilakukan dengan membawa sesajian ke pura. Usai doa  dalam ritual nggembakgeni akan dilanjutkan dengan cara makan bersama.  Dalam ritual ini biasanya seluruh umat mulai dari pria wanita kecil besar akan berkumpul menyambut kemenangan usai melakukan tapa brata selama sehari semalam utuh. Usai ritual doa dan makan bersama berebut sesajian yang di yakini membawa berkah. Umat Hindu biasanya akan melakukan tradisi darmasanti atau berkunjung ke sanak saudara dan sesepuh umat. Kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk syukur dan saling memaafkan satu sama lain di hari raya. “Namun ritual ini kita pastikan tidak digelar dan diminta seluruh umat Hindu sembahyang dan tetap berada di rumah, guna memutus penularan corona,” harapnya.

Reporter: Lufi Syailendra
Editor: Prasto Wardoyo

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.