READING

Pantai Payangan Jember Tempat Asik Buat Camping

Pantai Payangan Jember Tempat Asik Buat Camping

JEMBER – Bagi pecinta laut seperti saya, pantai berpasir putih lebih menarik ketimbang yang berwarna hitam. Terlebih jika berada di Pantai Selatan, pengunjung tentu tak bisa mendekati bibir pantai karena ombaknya super kencang. Tapi Pantai Payangan di Kabupaten Jember berbeda. Pantai berpasir hitam ini menawarkan sisi cantik panorama Laut Selatan dari ketinggian.

Pantai ini memiliki tiga bukit yang dipisahkan oleh bentangan pantai berpasir hitam legam. Saya membayangkan suatu saat akan ada fasilitas semacam gondola di antara Bukit Seruni, Bukit Samboja dengan Bukit Suroyo itu, sehingga dapat mengantarkan pengunjung dari satu bukit ke bukit yang lain. Eksotisme Pantai Payangan semakin tersaji saat dinikmati dari puncak bukit-bukit yang berada di Kecamatan Ambulu ini.

Seperti saat berada di Bukit Suroyo, suguhan lanskap Samudra Hindia terbentang luas memanjakan mata dengan paduan horizon biru langit dan lautan. Pemandangan epic tersebut sangat cocok dinikmati sambil camping atau berkemah. Bukit yang berada di paling ujung Selatan kawasan Pantai Payangan ini dapat menjadi opsi berkemah bagi para traveler.

Wisatawan camping di Bukit Suroyo Pantai Payangan Jember (Dok.@travelesson)

Camping di Payangan cocok untuk liburan singkat, jalur pendakian aman. Bisa dapat serunya camping di ketinggian dan view laut yang bagus banget,” ungkap Desy Fatmawati, pengunjung asal Banyuwangi.

Desy mengaku pertama kalinya berkemah di Pantai Payangan bersama sang suami dan beberapa teman. Desy sengaja membawa kompor dan peralatan memasak agar kebutuhan logistik saat berada di puncak tercukupi. Selain itu, peralatan lengkap seperti tenda dan matras perlu dipersiapkan dengan baik. Sebab, kondisi puncak bukit dengan ketinggian sekitar 300 meter mdpl tersebut cukup berangin saat musim kemarau seperti sekarang. Ia pun sempat dihimbau oleh petugas untuk berhati-hati saat akan membuat api unggun agar tak menyebabkan kebakaran lahan.

Tarif untuk semalam camping di atas puncak Bukit Suroyo ini dikenakan harga 10 ribu rupiah per orang. Jika tak ingin camping, tiket masuk pun cukup murah, yakni Rp 7.500 per orang. Tiket masuk bukit ini dikelola oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) MASSAWI sebagai upaya pengelolaan infrastruktur di sekitar bukit. Seperti perawatan anak tangga, pagar pembatas, gazebo, dan petunjuk arah, hingga pembuatan toilet dan mushola.

Persoalan sampah juga diperhatikan oleh anggota MASSAWI agar pengunjung mau sama-sama menjaga kebersihan lingkungan. Di setiap area dari pintu masuk hingga puncak bukit, terlihat puluhan tempat sampah yang terbuat dari karung bekas yang digantung pada beberapa dahan pohon. Selain itu papan himbauan untuk menjaga lingkungan pun dipasang di beberapa titik. Desy juga sempat bertemu dengan para penjaga kebersihan kawasan Bukit Suroyo. Tiap dari mereka secara telaten menghimbau pengunjung untuk mau membuang sampah pada tempat yang telah disediakan.

Salah satunya bernama Imam Suhadi, warga Desa Sukorejo yang dipekerjakan oleh Pokdarwis MASSAWI. Setiap akhir pekan, Imam sengaja menginap di Bukit Suroyo karena jarak rumahnya yang jauh. Tak heran jika jam enam pagi ia pun sudah berkeliling bukit untuk menyisir sampah. Saat bertemu dengan Desy dan rombongan, Imam bercerita tentang kendala yang ia alami. Yaitu adanya monyet di area bukit yang mengubrak-abrik tempat sampah yang terisi sisa makanan pengunjung.

“Kalau sampah dari pengunjung diminta dibawa turun, kadang ada yang malah membuang di tebing. Ini menyulitkan saya, ngambilin sampah di tebing,” ujar Imam kepada Jatimplus.id.

Perjuangan Pokdarwis MASSAWI dalam mengelola bukit Suroyo sejak tahun 2015 membuahkan hasil. Bukit yang dikenal dengan nama lain Bukit Domba ini semakin tersohor di telinga wisatawan, baik domestik maupun luar negeri. Menurut Ketua Pokdarwis MASSAWI, Suto Wijoyo, setidaknya kunjungan dalam seminggu mencapai 500 wisatawan. Namun saat libur hari besar, kunjungan dapat mencapai ribuan dalam seminggu.

Capaian dalam kurun waktu empat tahun itu tentu tidak mudah. Sebagai pioner dalam memajukan pariwisata di sekitar Pantai Payangan, banyak gunjingan dan penolakan yang dialami Suto. Ia bercerita, kawasan Pantai Payangan dulunya menjadi tempat pembuangan sampah hingga kotoran manusia. Saat ia mencoba membersihkan kawasan tersebut, stigma sebagai orang gendeng pun sampai ke telinganya.

“Karena bukit ini tempat rimbun yang gak mungkin ditempati oleh manusia, hanya mungkin monyet aja, saat saya buatkan jalan itu dianggap saya gila. Tapi wajar dianggap gila, wong tidak dibayar, tidak digaji. Namun ada tujuan yang kami simpan, bahwa ini adalah potensi ke depan untuk wisata,” terang Suto menggebu.

Sebagai warga asli Dusun Payangan, Suto yang dulunya berprofesi sebagai nelayan mencoba merangkul masyarakat agar terus berbenah. Meski tidak mudah, namun konsistensi yang ia bangun akhirnya berbuah manis. Pantai Payangan kini ramai dikunjungi wisatawan karena memiliki sebuah teluk yang dikenal sebagai Teluk Love. Disebut demikian sebab bentuk teluk tersebut yang melengkung seperti gambar hati.

Lanskap Teluk Love Jember dari ketinggian. FOTO: JATIMPLUS.ID/Suci Rachamningtyas.

Untuk dapat melihat bentuk Teluk Love secara sempurna, pengunjung harus naik ke Bukit Suroyo dan berjalan menuju sisi Timur bukit. Agar tak terlalu menguras tenaga, disarankan agar mendaki melalui sebelah Barat bukit atau belok ke kanan. Dari arah tersebut, pengunjung dapat menikmati pemandangan pulau Matikan dan Pantai Pasir Putih Malikan atau lebih dikenal dengan nama Pantai Papuma. Selain itu, sensasi kemah di puncak Bukit Suroyo semakin istimewa dengan pemandangan matahari terbit hingga matahari tenggelamnya, lho. Ayo, segera atur jadwalmu untuk ke sana ya! (Suci Rachmaningtyas)

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.