READING

Para Maestro Gandrung Banyuwangi Tampil Awali 2020

Para Maestro Gandrung Banyuwangi Tampil Awali 2020

BANYUWANGI-Membuka tahun 2020, Taman Gandrung Terakota (TGT) mempersembahkan penampilan para maestro Gandrung Banyuwangi, Rabu (01/01/2020). Sendratari dalam Festival Lembah Ijen kali ini berjudul Sang Pewaris Legenda Gandrung dengan menampilkan rentetan nama Gandrung senior Banyuwangi yaitu Gandrung Poniti (77), Temu Misti (65), Dartik (65), Supinah (55), dan Sunarsih (55).

Tak hanya menampilkan senior dan maestro Gandrung saja, penari Gandrung Terop yang masih eksis turut berlenggak lenggok menampilkan pertunjukan terbaik yaitu Gandrung Reny asal Cluring, Saudah asal Banjarsari, Lina asal Ketapang, Lis asal Olehsari, Lusi asal Taman Sari, dan Zulfa asal Rogojampi. Mereka adalah tonggak estafet kesenian Gandrung Terop berkembang hingga kini.

Gandrung Terop merupakan istilah saat pertunjukan gandrung dipentaskan di sebuah acara perkawinan atau khitan dengan menggunakan terop (tenda hajatan). Biasanya, penampilan Gandrung Terop dimulai pukul 21.00 WIB hingga menjelang Subuh tiba.

Sendratari dimulai dengan menceritakan tokoh Mbah Semi atau Mas Sutrani asal Desa Cungking, pewaris omprok (mahkota) gandrung dari gandrung laki-laki terakhir yaitu Mbah Marsan. Mulanya tarian Gandrung memang ditarikan oleh laki-laki. Saat penjajahan Belanda, Gandrung menjadi sarana penyampai pesan dan penyalur logistik bagi para gerilyawan, terutama saat Perang Puputan Bayu tahun 1771. Jauh sebelum itu, kata “gandrung” merupakan bentuk syukur masyarakat Blambangan kepada Dewi Sri sebagai dewi padi karena dikaruniai wilayah agraris yang membawa kesejahteraan.

Baca Juga: Blue Fire Ijen Banyuwangi

Tahun 1895, Semi muda berani membuat perubahan dengan memilih jalan hidup menjadi seorang Gandrung. Dalam babak ini, Gandrung Poniti asal Desa Genitri Rogojampi memerankan sosok Mbah Semi yang mewariskan omprok kepada generasi penerus. Saat itu, regenerasi Gandrung diwariskan secara turun temurun di keluarga Mbah Semi. Hingga pada tahun 1970an, seorang Gandrung tak lagi harus dari garis keturunan yang sama.

Babak Demi Babak Gandrung Terop

Skenario sendratari arahan Sanggar Gandrung Terakota Banyuwangi tersebut selanjutnya menceritakan mengenai Gandrung Topengan. Sebuah pertunjukan dalam mengawali pementasan Gandrung Terop yang dipengaruhi oleh Mataraman, baik koreografi, aransemen musik, dan kostum. Babak ini ditarikan oleh dua maestro Gandrung Banyuwangi, Temu Misti, dan Supinah. Tarian di babak ini lebih mirip dengan tarian khas keraton yang tak terlalu atraktif namun memiliki gerak yang lemah gemulai.

Babak selanjutnya merupakan tarian pembuka dalam pementasan Gandrung Terop semalam suntuk, yakni Jejer Gandrung. Jejer Gandrung dimaknai sebagai tarian permohonan izin pertunjukan kepada tuan rumah. Pada babak ini, para penari Gandrung Terop yang masih eksis seperti Gandrung Reny, Saudah, Lina, Lis, Lusi, dan Zulfa menari dengan memohon izin kepada tuan rumah yang digambarkan dengan adanya kursi dan meja si tuan rumah.

Babak Gandrung Semi yang diperankan oleh Poniti.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Suci Rachmaningtyas


Tak berhenti di situ, pertunjukan Gandrung Terop berlanjut dengan babak Repenan dan Paju Gandrung. Dalam babak ini, seorang Gedhok Gandrung yang dibawakan oleh paju Muklis dan Awik membawakan gendhing atau lagu sesuai permintaan dari tamu. Lagu pertama dinyanyikan oleh Gandrung Supinah dengan judul Gandrung. Sementara Repenan kedua dibawakan oleh Gandrung Sunasih dengan lagu Omong Riko.

Dalam babak Paju Gandrung, seorang penari Gandrung akan ditemani oleh beberapa pemaju (laki-laki) sehingga tarian menjadi sangat atraktif. Babak ini sangat menggugah antusias para penonton di Taman Gandrung Terakota sore itu. Terlihat beberapa pemaju senior Banyuwangi, antara lain seorang maestro paju bernama Awik asal Alasmalang Singonjuruh, Suhairi, Gatot asal Kemiren, Momon asal Gladag, Muklis asal Cungking, dan Juwono asal Sukarjo Rogojampi. Mereka adalah tokoh pemaju andal dari generasi penerus para pendahulu, yakni Paju Pekih asal Rogojampi.

Seblang Subuh merupakan babak penutup yang dimaknai dengan tarian permohonan maaf kepada tuan rumah dan para penonton dalam pertunjukan Gandrung. Pada pertunjukan Gandrung Terop, biasanya babak ini ditarikan sekitar pukul 02.30 hingga 05.00 WIB.

Babak Seblang Subuh kali itu ditarikan oleh dua senior Gandrung Banyuwangi, yakni Gandrung Dartik, keturunan langsung dari Mbah Semi dan ditarikan oleh Gandrung Sunasih yang memiliki suara merdu dan paras cantik. Segmen ini juga ditarikan oleh para Gandrung-Gandrung pemula yang turut memperkaya rangkaian sendratari Sang Pewaris Legenda Gandrung.

Di sepanjang babak, selain tokoh dan Pemaju Gandrung yang dominan mengisi acara, rangkaian sendratari juga disokong oleh hadirnya para penggendang gandrung sebagai pembawa suasana. Para tokoh penggendang Banyuwangi turut hadir yakni Jaenal asal Gumuk Agung, Buhari asal Kemiren, Rajuli asal Mangir, Misradi asal Aliyan, Ikhsan asal Gambiran, Anwar asal Olehsari, Adnan asal Cungking, serta sederet penggendang lainnya.

Ruh Taman Gandrung Terakota

Penggagas Taman Gandrung Terakota Sigit Pramono mengatakan bahwa penampilan awal tahun ini merupakan usul dari para seniman dari Sanggar Gandrung Terakota Banyuwangi.

“Sebetulnya bukan dari saya, mereka yang muda-muda ini memberikan apresiasi kepada para penari Gandrung senior. Ada Bu Temu, ada Bu Poniti, Bu Supinah, ada Bu Dartik, Bu Sunasih. Bahkan tadi dijelaskan ada yang menari di istana negara pada tahun 1964, itu berarti kan zaman Bung Karno, ya kan? Mereka senior sekali. Dan juga ada yang beberapa yang melanglangbuana di seluruh dunia. Ini artinya ide yang baik. Makanya saya terima,” ucap Sigit kepada Jatimplus.id.

Di Taman Gandrung Terakota pengunjung sekaligus dapat menyaksikan ratusan patung terakota berwujud penari Gandrung yang tersebar di sekitar persawahan hijau nan asri, tepat di depan amphitheater tempat sendratari dihelat. Menurut Sigit, tempat ini sengaja didedikasikan untuk melestarikan seni budaya di Banyuwangi.

“Karena pada akhirnya, TGT ini kalau bangunan patung hanya wadak atau fisik aja. Yang paling penting adalah ruh yang mengisi TGT itu yaitu kegiatan berkesenian. Ini yang akan kita dorong terus,” terang Sigit.

Reporter: Suci Rachmaningtyas
Editor: Titik Kartitiani


Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.