READING

Pasangan Inses, Adilkah Dihukum Pengusiran?

Pasangan Inses, Adilkah Dihukum Pengusiran?

Puluhan warga Desa Lamunre Tengah, Kecamatan Belopa Utara, Sulawesi Selatan, mengamuk. Mereka mengusir AA (38) dan BI (30), sepasang kakak adik, untuk  meninggalkan kampung. Warga murka begitu tahu keduanya terlibat hubungan inses (sedarah) yang telah menghasilkan dua anak. Bahkan saat ini BI telah mengandung buah hati mereka yang ketiga.

Suasana mencekam. Sejumlah aparat kepolisian dan TNI bersiaga penuh menjaga rumah AA dan BI. Sementara diluar rumah, warga terus berduyun duyun berdatangan. Tak henti henti menyuarakan tuntutanya. AA dan BI hari itu juga harus angkat kaki dari kampung halaman. Warga tidak ingin melihat wajah keduanya lagi.

Selain berusaha menenangkan, aparat berusaha melakukan pendekatan persuasif. Memberikan opsi pandangan dan pertimbangan. Sebab bagaimanapun kedua kakak adik itu berada di rumah orang tua mereka sendiri. Namun semua berakhir dengan jalan buntu. Warga menolak kompromi.

Untuk menghindari hal hal yang tidak diinginkan, AA dan BI terpaksa dievakuasi. Begitu juga dua buah hati hasil hubungan terlarang mereka, yakni bocah laki laki berumur 2 tahun dan adik perempuannya yang berusia 1 tahun. Mereka semua diamankan di mapolsek setempat.

“Hari ini kami semua bersama TNI telah mendekati masyarakat dan mereka sudah aman. Mudah mudahan terus aman dan kami tempatkan anggota disini untuk mencegah hal yang tidak diinginkan. Sampai saat ini kami tetap melakukan penjagaan, “kata Wakapolres Luwu Kompol Abraham Tahalele seperti dikutip Kompas.com Sabtu 27/7/2019).

AA bekerja sebagai kuli batu. Sedangkan BI berjualan makanan ringan, cemilan. Oleh AA cerita soal hubungan terlarang yang selama ini ditutupinya rapat rapat itu akhirnya dibuka. Hubungan yang diharamkan agama dan hukum positif (UU Perkawinan) itu sudah berjalan sejak tahun 2016.

AA berstatus perjaka dan  belum pernah menikah. Sementara adiknya janda tanpa anak. Pernah dua kali menikah namun dua duanya berakhir perceraian. Tinggal serumah, membuat hasrat kelakian AA bangkit. Ironisnya BI menyambut dengan tangan terbuka.

Status keduanya sebagai saudara kandung membuat hubungan itu tersembunyikan secara alamiah. Sampai BI mengandung dan melahirkan anak pertama, warga belum tahu. Begitu juga saat melahirkan anak kedua, warga juga belum curiga.  

Hubungan sedarah itu terkuak setelah tetangga melihat perut BI membuncit, mengandung benih AA yang ketiga. Entah bagaimana ceritanya, warga akhirnya tahu jika BI sudah berstatus janda. Dari pernikahan keduanya itu, BI diketahui tidak memiliki keturunan.

AA mengaku ia dan adiknya saling mencinta. Cinta yang berbungkus nafsu terlarang itu dijalaninya dengan penuh kesadaran.  “Itu terjadi karena kami tinggal serumah dan saya tidak mampu lagi menahan nafsu, “tutur AA di depan aparat kepolisian.

Terlarang dan Dilaknat

Sikap warga Desa Lamunre Tengah, Kecamatan  Belopa Utara, Sulawesi Selatan mengsuir AA dan BI tidak bisa ditawar. Kakak adik itu harus segera angkat kaki dari kampung halaman. Tidak hanya melanggar hukum agama. Perbuatan mereka juga dianggap mengotori kampung. Informasinya, kakak adik dan kedua anakanya itu memilih pergi ke Makassar.  

Secara hukum pidana, pelaku pernikahan sedarah memang bisa dijerat pasal perzinahan. Itu jika salah satu diantaranya masih terikat pernikahan dengan orang lain. Dan jika perkawinannya tercatat di KUA, secara administrasi harus dibatalkan. Bahkan pihak yang membantu dikeluarkannya surat nikah juga bisa dijerat hukum.

Sementara kasus inses yang terjadi pada AA dan BI berbeda. Keduanya tidak pernah menikah secara resmi. Baik AA maupun BI juga tidak terikat perkawinan dengan orang lain. Artinya pasal 284 KUHP tentang perzinahan tidak berlaku. Disisi lain, keyakinan masyarakat atas dampak yang terjadi atas hubungan terlarang itu demikian kuat.

Masyarakat melihat inses sebagai perbuatan yang dilaknat Tuhan. Tidak hanya menabrak hukum alam, tapi juga melawan aturan keilahian. Secara sosial dosa pelaku inses nyaris tidak termaafkan. Wujud nihilnya ampunan itu berupa sanksi pengusiran. Apalagi setelah melihat hukum positif gagal menjerat.

Aparat seringkali tidak berdaya menghadapi fenomena ini. Mereka biasanya hanya mengambil langkah penyelamatan. Namun tidak mampu menghentikan desakan pengusiran warga.

Begitu krusialnya soal perkawinan sedarah itu yang membuat masyarakat Jawa membuat bentengnya sendiri. Dalam tradisi Jawa mengenal istilah pancer wali, yakni garis keturunan ayah. Di dalam sebuah keluarga besar Jawa, umumnya  melarang menikahkan keturunannya dengan saudara yang berasal dari garis ayah.

Misalnya menikahi saudara sepupu, anak dari saudara kandung ayah, sangat dilarang.  Apalagi pernikahan kakak adik saudara kandung. Dalam Islam, khususnya sudah terang benderang dilarang. Dalam tradisi Jawa, pernikahan sedarah sering disebut sebagai perkawinan sungsang. Bila dilakukan biasanya akan terjadi bencana genetika, dimana keturunannya tumbuh sebagai manusia abnormal.  

Dalam kisah mitologi fiksi, kisah pernikahan inses selalu berakhir dengan kekacauan. Secara tidak langsung, fiksi pun telah memperingatkan bahayannya inses. Sebut saja pernikahan Sangkuriang dengan Dayang Sumbi, ibu kandungnya. Atau kisah Oedipus Sang Raja dalam mitologi Yunani, yang dalam ilmu psikologi melahirkan istilah oedipus complex.  

Inses Dalam Kacamata Medis

Sikap hati hati dan bahkan larangan keras masyarakat Jawa terhadap pernikahan inses terjawab di dunia medis. Secara medis pernikahan inses akan membentuk DNA anak yang dilahirkan menjadi abnormal.

Catharina Pipit Hapsari mengatakan, DNA anak hasil hubungan inses memiliki keragaman yang sangat minim. Hal itu mengingat kemiripan  DNA kedua orang tuanya. Kurangnya variasi DNA ini menimbulkan kualitas kesehatan yang buruk.

Bahkan, kata dokter Kota Kediri itu, anak hasil inses berpotensi besar terkena penyakit genetik yang bersifat langka. “Terjadi peningkatan autosomal recessive disorders atau terkena penyakit genetik/turunan lebih besar, “ujarnya kepada Jatimplus.id.

Dengan bahasa sederhana, masyarakat awam menandai anak hasil inses cenderung gopok, yaitu gampang sakit. Pondasi kesehatannya rapuh. Imunitas tubuhnya loyo. Singkat kata, sepanjang hidup anak hasil inses tidak pernah benar benar merasa sehat.  

Efek lain dari perkawinan inses adalah meningkatnya infertilitas pada orang tua dan keturuannya. Kemudian cacat lahir seperti asimetris wajah, bibir sumbing, kerdil,gangguan jantung, kanker, berat badan saat lahir rendah, pertumbuhan lambat dan kematian neonatal.   

Mengutip artikel The effect of consanguinity on neonatal outcomes and health, Journal Human Hereditary, 2014, kehamilan hasil perkawinan sedarah juga beresiko lahir prematur, hambatan atau penurunan pertumbuhan.

“Terjadi kelainan kongenital (kelainan sejak bayi), diare kronis bawaan dengan hilangnya klorida dalam rubuh, degenarasi retina, pertumbuhan rambut yang sedikit dan bercabang, penyatuan jari, hingga resiko kematian, “terang Pipit.

Bencana genetika menjadi sunatullah atau hukum alam yang tidak bisa dihindari keturunan dari perkawinan sedarah. Anak anak yang lahir dari hasil inses seolah telah dikutuk. Sepanjang hidupnya terjerat abnormalitas tak berkesudahan. Beban itu masih diperberat dengan turut menanggung hukuman sosial yang menimpa orang tuanya, yakni menjalani pengusiran. Adilkah?. (Mas Garendi)

print

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.