READING

Pasuruan Akan Kekeringan Jika Umbulan Tak Bertahan

Pasuruan Akan Kekeringan Jika Umbulan Tak Bertahan

Air bukan sumber alam terbarukan sebab siklus hidrologi tak selalu mengisi “kantong-kantong” air asal air diambil. Perjalanan dari recharge area (daerah resapan) menuju akuifer yang diambil airnya membutuhkan waktu puluhan tahun. Sementara, pengambilan air ribuan liter/detik sehingga mengosongkan akuifer.

PASURUAN-  Dua tahun lalu, Chandra, perempuan warga Dusun Talang Lor, Desa Winongan Kidul, Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan harus mengangkut air bersih dari desa sebelah. Menurutnya, air tanah berbau dan membekas di baju yang dicucinya. Keruhnya air tanah di desa tersebut kemungkinan disebabkan karena dusun tersebut terletak di area persawahan.

Ironis, sebab tak jauh dari rumah Chandra, terdapat mata air terbesar di Jawa Timur, Mata Air Umbulan (MAU). Pasuruan diberkati dengan melimpahnya air bersih dari sumur artesis. Di kabupaten yang dialiri DAS Rejoso ini memiliki sumber mata air terbesar di Jawa Timur yaitu Mata Air Umbulan. Alix Toulier, peneliti dari Universite de Monpellier, Prancis menyampaikan bahwa tahun 1980-an, debit MAU sejumlah 6.000 lt/detik.

Debit tersebut terus menurun hingga penurunan yang mengejutkan terjadi sekitar 10 tahun terakhir. Menurut data Puslitbang PU tahun 2007-2008, penurunan debit dari 4.051 l/detik, tahun 2018 menjadi 3.278 l/detik.

Kemudian, warga Talang Lor berinisiatif membuat sumur artesis kolektif. Tiga buah sumur artesis itu menyuplai 60-an KK di dusun Talang Lor dengan air bersih. Sumur kolektif merupakan salah satu solusi mendapatkan air bersih dengan biaya murah. Chandra hanya membayar Rp 2.000,- per bulan untuk pemeliharaan instalasi. Sementara sumur artesis memancarkan air bersih 24 jam tanpa perlu tenaga listrik untuk memompa.

Namun di sisi lain, sumur artesis yang terus menerus memancarkan air ini juga mengancam MUA. Masih mending jika sumurnya sumur kolektif. Tak jarang, warga membuat sumur artesis personal sehingga air yang keluar dari mata air semakin banyak.

Pengukuran debit sumur artesis di kawasan Pasuruan
Foto: Jatimplus.ID/Titik Kartitiani

Menurut data yang dikumpulkan Alix dan tim peneliti, jumlah sumur artesis (April 2019) sebanyak 600-an dengan debit rata-rata 4lt/detik dengan kedalaman 60-80m. Bahkan ada yang 35 lt/detik dengan kedalaman 150m. Sedangkan industri mengambil air lebih dalam dari warga yaitu antara 100m hingga 180-an meter.

“Bila tekanan terhadap recharge area masih sama, saya perkirakan, ini baru perkiraan, sekitar 20-50 tahun ke depan, Pasuruan tidak lagi punya sumur artesis. Bahkan kita tidak punya Umbulan lagi,” kata Alix. Fokus penelitian Alix sejak tahun 2016 yaitu pada water balance (keseimbangan) antara air masuk melalui recharge area dengan air keluar baik secara alami (misalnya MAU) dan pengeboran. Simulasi water balance itu memetakan catchment area (daerah tangkapan), recharge area (daerah pengisian), evaluasi tekanan akuifer MAU, dan sumur artesis.

“Air yang masuk dan yang keluar tidak seimbang,” tambah Alix. Air yang masuk melalui recharge area lebih sedikit dibandingkan dengan air yang keluar baik melalui sumur artesis milik warga dan air yang digunakan oleh industri.

Kebanyakan sumur-sumur tersebut dibiarkan mengalir 24 jam/hari, baik digunakan maupun tidak. Hal ini menyebabkan cepatnya MUA mengering sementara warga tak menyadarinya.

Lereng utara Bromo merupakan kawasan recharge area di Mata Air Umbulan
Foto: Jatimplus.ID/Titik Kartitiani

Air yang Masuk ke Tanah Belum Tentu Mengisi Mata Air

Air itu memancar dengan sendirinya dari rekahan bumi yang terlihat di sepanjang perjalanan dari Keboncandi menuju Umbulan. Ada yang sedang digunakan warga untuk keperluan sehari-hari, ada pula yang masuk ke saluran irigasi, selebihnya mengalir nonstop 24 jam di permukaan tanah. Penduduk beranggapan bahwa air yang muncrat dari sumur-sumur artesis itu akan kembali ke tanah, mengisi kantong-kantong sumur. Jadi tak masalah ketika air memancar begitu saja, toh akan kembali lagi ke sumur-sumur mereka.

Kenyataannya, daur hidrologi sumur artesis tak demikian. Pemahaman bahwa sumur artesis akan terus ada ketika ada air yang kembali ke dalam tanahlah yang menyebabkan hilangnya sumur artesis di Kabupaten Pasuruan bagian selatan. Dahulu kala, sebelum industri masif di Pasuruan bagian Selatan, mereka juga punya sumur artesis. Kini tidak ada lagi.

Kepada Jatimplus.ID, M. Haris Miftakhul Fajar, M. Eng, Dosen Teknik Geofisika ITS yang meneliti soal sistem air Umbulan bersama dengan Alix dkk menjelaskan tentang mekanisme terjadinya sumur artesis dan sistem air di Umbulan.

Menurut kesimpulan sementara (sebab hingga saat ini penelitiannya masih berlangsung), sistem air Umbulan, sumur artesis warga, dan sumur-sumur yang digunakan oleh industri memiliki sistem air yang sama.

“Satu hal yang kami konfirmasi, air yang keluar melalui mata air Umbulan dengan air yang keluar dari sumur artesis memiliki sistem akuifer yang sama karena mereka memiliki fasies air tanah yang sama. Sehingga bisa dipastikan, air tersebut memiliki aliran akuifer yang sama. Memiliki recharge area yang sama,” kata Haris kepada Jatimplus.ID pada pertengahan November 2019.

Karena memiliki akuifer yang sama, seperti hukum bejana berhubungan, maka akan saling memengaruhi. Eksploitasi melalui sumur artesis dan industri tanpa diimbangi dengan masuknya air melalui recharge area akan mengakibatkan turunnya debit air MAU. Apabila diteruskan maka lama kelamaan sumur artesis hilang, industri kehilangan sumber air, dan MAU pun mengering.

Haris menjelaskan bahwa sumur artesis dan air Umbulan merupakan air tanah dalam sedangkan air yang mengalir dari permukaan air merupakan air permukaan. Jadi, air dari sumur artesis dan MAU yang keluar tidak akan kembali menjadi air tanah dalam melainkan menjadi air permukaan.

“Mata Air Umbulan dan akuifer artesis berasal dari air yang ditutupi oleh lapisan impermiabel sehingga air tidak keluar. Kemudian air keluar ketika lapisan impermiabel itu retak,” terang Haris.

Penyebab retakan, ada yang disebabkan karena gejala alam dan buatan. Gejala alam antara lain retakan (sesar, fraktur/kekar) dan pergeseran lapisan bumi atau gempa bumi, maka air memancar keluar sebagai mata air seperti MAU dan mata air Banyu Biru.

Pengambilan sampel untuk melacak fasies air
Foto: Jatimplus.ID/Titik Kartitiani

Retakan alami bisa juga disebabkan oleh akar tumbuhan yang menembus lapisan impermiabel. Retakan ini juga bisa menyebabkan terjadinya mata air. Kadang, dalam satu mata air tak hanya disebabkan oleh satu retakan.

Selain retakan alami, ada retakan artifisial (yang disebabkan manusia) yaitu pengeboran yang menembus lapisan impermiabel sehingga lapisan air yang tadinya tertekan, memancar keluar menjadi sumur artesis.

“Kedalaman 30m-40m sudah mendapatkan air (sumur artesis) dengan debit 1lt/detik-3lt/detik. Umumnya warga mengambil air kedalaman 60m-100m agar mendapatkan debit lebih besar yaitu 5lt/detik-10lt/detik,” jelas Haris.

Jumlah sumur bor ini setiap tahun meningkat. Meski tidak ada perbandingan dengan jumlah sumur bor pada tahun 1980-an, sumur bor pada masa itu tentunya belum sebanyak sekarang. Berdasarkan survei tahun 2017-2018, jumlah sumur bor mencapai 600-an dan akan terus meningkat jumlahnya.

Permasalahan muncul ketika pemanfaatan sumur artesis ini tidak efisien. Air dibiarkan 24 jam keluar baik pada saat dimanfaatkan maupun tidak. Air untuk irigasi misalnya. Meski sawah sudah jenuh, tetap dibiarkan meluber ke mana-mana.

“Jarak 1 meter saja, kualitas air sudah berubah. Misalnya bercampur dengan air irigasi (air sungai permukaan),” kata Haris. Air yang keluar dari sumur artesis merupakan air berkualitas yang siap digunakan untuk segala keperluan termasuk air minum. Ketika menjadi air permukaan, kualitasnya turun.

Tak adanya kontrol air, 24 jam tiap hari, sangat merugikan generasi yang akan datang. Sebab air dari sumber artesis yang menjadi air permukaan belum tentu kembali memenuhi kantong-kantong sumur artesis. Hal ini yang tak disadari oleh masyarakat. Mereka berpikiran bahwa air yang mengalir di permukaan tanah akan kembali ke sumber air semula sebab sistem akuifernya berbeda.

Air dari sumur artesis yang tidak digunakan, 40% meresap ke dalam tanah, 30% menjadi air permukaan (air sungai), dan 30% akan menguap.

“Air permukaan ini meresap kembali dengan sistem akuifer berbeda, tidak akan menembus lapisan impermiabel,” tambah Haris.

Untuk mencapai kualitas air murni sebagaimana air yang keluar dari sumur artesis, menurut tesis Haris (2013), air di TNBTS (Taman Nasional Bromo Tengger Semeru) sekitar kaldera membutuhkan 40-60 tahun, untuk mencapai bawah. Recharge area berupa hutan, kawasan yang tak banyak penduduk, tersimpan CAT (Cadangan Air Tanah) air dalam, keluar menjadi mata air (termasuk mata air Umbulan) dan sumur artesis.

Merawat Recharge Area Umbulan

Tim peneliti air dari UGM dan Universite de Monpellier juga memetakan lokasi recharge area. Lokasi ini dipetakan dengan tujuan untuk melakukan perbaikan lokasi recharge area dengan efisien. Alix mengumpulkan data air melalui 3 stasiun hujan di Pasuruan yaitu Kronto (Desa Kronto, Kecamatan Lumbang), Wonorejo (Kecamatan Wonorejo), dan Wonokitri (Kecamatan Tosari). Dari stasiun hujan tersebut, Alix mengambil data curah hujan dan juga melacak fasies air dengan menggunakan isotop.

Pengambilan sampel air dilakukan sejak 2016, kesimpulan sementara yang didapatkan Alix bahwa 75% recharge area berada di lereng Bromo di bawah ketinggian 1300mdpl. Rata-rata berada di ketinggian 500mpl-1200mdpl.

Selain mengetahui ketinggian, penelitian yang dilakukan Alix menunjukkan bahwa kaldera Tengger justru bukan menjadi recharge area utama melainkan berada di lereng-lerengnya.

Mengetahui hasil penelitian sementara seperti itu, maka di wilayah itulah perlu adanya pengurangan tekanan di wilayah recharge area dan catchment area umumnya.

“Meskipun bila menanam sekarang, tidak langsung memperbaiki cadangan air. Namun efeknya bisa dirasakan minimal 40 tahun ke depan,” tambah Haris. Angka ini didapatkan dari waktu yang dibutuhkan air meresap ke dalam tanah sehingga mengisi akuifer sumur artesis.

Hal serupa juga terjadi dalam hal perusakan di kawasan recharge area. Efek yang dirasakan sekarang merupakan dampak dari kerusakan kawasan yang terjadi 40 tahun yang lalu. Bila dirunut, mulai pembukaan hutan yang masif di kawasa Bromo Tengger Semeru terjadi pada kurun waktu tersebut.

Hanya saja Haris berpesan, meski efeknya tidak langsung terasa, namun upaya tersebut harus dilakukan untuk menyelamatkan cadangan air anak cucu mendatang.

Sebagai peneliti, ia memberikan beberapa saran agar warga Pasuruan tetap memiliki sumur artesis. Saran pertama yaitu manajemen sumber air dengan cara mengatur penggunaan sumur artesis. “Pertama perlu dilakukan pendataan mulai dari kedalaman, jumlah air yang diambil, dan peruntukannya,” kata Haris. Data ini bermanfaat untuk memanajemen air yang ada. Memang, pengeboran air untuk perumahan dan air irigasi tidak perlu izin sebagaimana UU namun pengaturan perlu dilakukan agar penggunaan air efisien. Juga untuk menghitung kecukupan CAT Pasuruan.

Selain itu, perlu diadakan perawatan di kawasan recharge area. Haris spesifik menyarankan bahwa perawatan khusus di zona recharge area utama di ketinggian 850mpdl-1500mdpl sebab di kawasan ini memiliki intensitas hujan paling tinggi dibanding ketinggian yang lain sehingga mampu menyuplai air lebih banyak. Dari data isotop, air Umbulan dan air sumur artesis berasal dari kawasan ini (Titik Kartitiani).

Catatan: Liputan ini didukung oleh Ekuatorial dan Internews Earth Journalism Network dan dimuat pertama kali di Ekuatorial.com.

Print Friendly, PDF & Email

Titik Kartitiani

sunset lover, traveler, writer, and fulltime dreamer :)

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.