READING

Patjar Merah, Sebuah Pasar Perlawanan Buku Mahal d...

Patjar Merah, Sebuah Pasar Perlawanan Buku Mahal di Malang

Ini bukan tentang cerita novel sastrawan Matumona. Kisah lelaki dengan belasan nama alias. Pajar Merah Indonesia yang mewakafkan hidupnya untuk meloncat dari satu negara ke negara lain, demi membebaskan bangsa yang terjajah. Ini tentang acara pasar buku murah.  

MALANG- Kebetulan juga bernama Patjar Merah. Memang tidak menyebut bazaar. Melainkan pasar. Lengkapnya “Patjar Merah, Festival Kecil Literasi dan Pasar Buku Keliling”. Meski maknanya kurang lebih sama, namun saat melihat woro woronya di media sosial, kata “pasar” terasa lebih merakyat.

“Kesan yang muncul adalah kesahajaan”. Itu yang saya rasakan pertama kali. Setidaknya ada tiga flyer promosi yang diunggah di medsos dan secara cepat disambar para pengunyah buku, dan lalu disebar ke para sekutu pustaka. Flyer itu berdesain vintage. Menggunakan warna yang redup. Muram. Kombinasi merah hitam dengan setting temaram.

Sepintas mengingatkan pada selebaran promo film di medio 80an. Lembaran kertas yang disebar petugas gedung bioskop dari jendela Colt T 120 mata bagong yang melaju ogah ogahan. Lalu anak anak sekolah dasar berlari lari mengejar dibelakangnya. Mereka yang lahir tahun 70an tentu pernah mengalami itu.

Meski terkesan kuno, saya merasa justru disitulah keunikannya terasa semakin menggigit. “Sangat beda dan unik. Setidaknya bila dibandingkan dengan bazaar buku yang lain”.

Tidak hanya menawarkan daya tarik buku bagus dan murah. Di flyer digital Patjar Merah terlihat juga sejumlah nama penulis beken tanah air. Mereka akan hadir di acara. Taruh saja nama sastrawan Seno Gumira Adjidarma (SGA). Siapa yang tidak tahu pencipta tokoh Sukab yang gondrong itu.

Kemudian Yusi Avianto Pareanom, pereka kisah novel Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi yang sekaligus majikan penerbit Banana yang kondang itu. Terundang juga Puthut EA, Kepala Suku Mojok.co, yang akan mengulas buku mutakhirnya, “Buku Catatan Untuk Penulis”.

Ada juga novelis Bernard Batubara yang mewakili penerbit Shira Media, Alvi Syahrin dari penerbit Gagas Media, dan Reda Gaudiamo serta sederet nama lainnya. Tidak puas hanya memandangi flyer, saya memutuskan harus datang ke lokasi. Karena ini kesempatan yang langka.

Kediri-Malang memang bukan jarak yang dekat. Belum lagi urusan lain yang harus dikalahkan. Namun gagal hadir akan selamanya dihantui penyesalan sebagai golongan merugi. “Meskipun lumayan jauh saya harus datang, “ucap saya dalam hati.

Festival kecil literasi dan pasar buku itu bertempat di bekas gedung bioskop Jalan Kelud, Kecamatan Klojen Kota Malang. Sebuah tempat yang presisi dengan tema vintage yang diusung. Gedung bioskop yang hanya berjarak sekitar 2 kilometer dari alun alun Kota Malang itu dikenal sebagai bioskop rakyat.

Harga karcisnya murah. Film yang diputar juga jadul. Kalau tidak India era Amitabh Bachan, ya film Indonesia era kejayaan Eva Arnaz, Ineke Kosherawati, Malfin Shaina yang banyak mengumbar adegan ranjang. Film akan diputar setelah pentas dangdut dengan para biduanita berpenampilan seronok selesai beryanyi.

Di bagian kursi penonton tidak terpasang atap pelindung. Karenanya, bioskop Kelud terkenal dengan sebutan biokop misbar. Akronim dari gerimis bubar. “Dan mengambil lokasi di bioskop Kelud sebuah pilihan yang pas dengan tema klasik yang diangkat”.

Gedung bioskop tua telah disulap menjadi surga buku. Beragam buku dari bermacam penulis dan penerbit bertaburan. Puluhan ribu judul. Sebagian besar buku bermutu, layak baca dan koleksi. Dan hebatnya lagi dibandrol murah. Harga yang membuat setiap pengunjung terserang lapar buku.

“Namanya juga mumpung murah, ya diborong saja, “kata Pungky mahasiswi Malang yang tidak ingin menyiakan kesempatan. Di tas belanja mahasiswi asal Sulawesi itu tampak novel sastrawan Triyanto Triwikromo. Terlihat juga buku karya Gola Gong serta Erick Thohir yang berjudul “Pers Indonesia di Mata Saya” .

Harga setiap buku yang diborong Pungky rata rata  Rp 10 ribu sampai Rp 17 ribu. “Melihat buku murah rasanya kalap. Duit di rekening bisa bisa terkuras, “selorohnya sembari tertawa. Selasa sore (30/7) itu Mas Aik dari Buku Mojok tampil sebagai pembicara.

Patjar Merah di bekas Gedung Bioskop Kelud Kota Malang. FOTO; JATIMPLUS.ID/moh fikri zulfikar

Penulis “Nanti Kita Sambat Tentang Hari” itu dikerubuti para penggemarnya. Para remaja milenial. Mereka yang biasanya hanya bisa silatuhami di media sosial, bisa langsung sambat kepada penulisnya. Mas Aik bercerita panjang lebar proses kreatif buku itu digagas hingga lahir.  

“Memang dari grup sosmed Nanti Kita Sambat Tentang Hari ini, akhirnya menginspirasi lahirnya buku ini,”katanya. Jangan meremehkan sambat. Karena sambat itu, kata Aik tidak mudah. Sambatan yang kemudian disusunnya menjadi sebuah karya harus mampu mewakili perasaan pembacanya.

Bahkan di sosial media dirinya sampai membuat program Open Donasi Sambat. “Disini lah kami menampung sambatan-sambatan itu. Sehingga saya jadi tahu, sambatan anak sekolah itu akan beda dengan anak kuliahan. Apalagi yang sudah kerja juga,”terang Aik.

Tidak berhenti di donasi sambat. Dalam proses kreatifnya, Aik juga membuka Kuliah Sambat. Di ruang sosial itu setiap sambat dicoba ditemukan solusinya. Walaupun tidak semua terjawab, setidaknya cukup melegakan, karena uneg uneg di hati bisa terlepaskan.

“Dari situlah aku punya bank sambat, lalu aku permanis dengan kata-kata yang indah. Juga tidak lupa karena aku juga graphic desainer sambatan-sambatan itu aku beri ilustrasi agar leih cantik dan menarik,”ungkapnya. Sayangnya acara seperti Patjar Merah tidak berlangsung lama. Di Kota Malang, festival literasi dan pasar buku keliling ini hanya berlangsung 9 hari, yakni 27 Juli-04 Agustus 2019.

Sastrawan SGA (Seno Gumira Adjidarma) yang hadir di acara melontarkan pujiannya. Dikatakanya, “Patjar Merah adalah sebuah perlawanan. Perlawanan pada pola pola pameran buku yang monoton, pada gedung yang mewah dan nyaman, pada buku yang mahal dan harganya tidak terjangkau. Perlawanan sejenis ini harus banyak dan dilakukan beramai ramai”.

Reporter : Moh Fikri Zulfikar
Editor : Mas Garendi

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.