READING

Pedasnya Bebek Teror Yang Bikin Menangis

Pedasnya Bebek Teror Yang Bikin Menangis

KEDIRI – Olahan daging bebek selalu menjadi favoritku saat makan di luar. Apalagi jika diracik dengan bumbu pedas. Alamak, bisa nambah hingga dua porsi.

Bagi kamu penyuka bebek pedas, dosa besar jika tak mencoba bebek teror di Jalan Veteran, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri. Meski berbentuk kaki lima, namun rasanya boleh diadu dengan makanan resto untuk menu yang sama.

Seperti warung kaki lima pada umumnya, tempat makan ini mengandalkan gerobak dan kain terpal sebagai atap. Lokasinya yang berada di teras ruko, tepat di depan Kantor Badan Pertanahan Kabupaten Kediri cukup mudah dikenali. Selain tulisan spanduk yang besar, lampu penerangan di tempat ini cukup mencolok. Dan satu lagi, pengunjungnya paling ramai di antara deretan pedagang kaki lima lainnya.

baca juga: Mengenal Serangga Daun Yang Bentuknya Tak Wajar

Keterbatasan ruang memaksa pengelola warung memaksimalkan tempat duduk pengunjung. Ada yang di atas kursi dengan bangku kayu. Atau memilih lesehan di atas karpet dengan meja kecil seperti tempat mengaji.

Begitu menerima daftar menu dari pramusaji, aku langsung memilih bebek teror. Kenapa? Ya, buat apa pesan ayam goreng atau makanan lain di warung yang terkenal dengan masakan bebek.

Cukup lama menanti masakan yang aku pesan. Bukan karena proses masaknya yang sulit. Tetapi banyaknya pengunjung yang datang lebih dulu membuatku harus sabar menunggu giliran.

baca juga: Naik Kereta Api Gratis, Ini Caranya

Iseng kutengok orang-orang sekitar. Sekedar ingin melihat ekspresi mereka saat menyantap makanan yang sama dengan yang aku pesan. Dan rata-rata bentuknya sama. Wajah merah dengan mulut mendesis mirip ular Sanca. “Wah ini, belum-belum sudah terteror,” pikirku.

Bebek teror Jalan Veteran Kota Kediri. Foto: Hari Tri Wasono

Sekitar 10 menit pesanan yang aku tunggu datang. Seorang pria membawa satu piring berisi nasi, dan satu potongan daging bebek yang “mengerikan”. Bagaimana tidak. Seluruh bagian potongan daging bebek itu bertabur potongan dan biji cabe. Kuahnya juga berwarna merah dengan bau cabe yang menyengat. Busyeet.

Setelah membaca doa dan menenggak air putih, aku dekatkan hidungku ke atas daging bebek. Terbayang betapa pedasnya makanan ini.

Tak langsung membelah dagingnya, kucicipi dulu kuah merahnya untuk mengukur sejauh mana tingkat kepedasan makanan ini. Dan benar saja. Lidah dan rongga mulut berasa terbakar. Ampuuuunnn.

Beruntung tekstur daging bebeknya cukup empuk, hingga tak membutuhkan waktu lama untuk mengunyah. Beberapa bagian yang terasa sangat pedas aku telan cepat-cepat agar tak terasa panas. Soal pedas, bebek teror yang satu ini benar-benar juara.

Tak sekedar pedas, aroma rempah yang dicampur dalam bumbu daging bebek dan kuah juga terasa. Ini yang membuat makanan ini begitu disuka terutama kalangan muda.

Meski dengan mulut melongo mirip ikan mujair, perlahan-lahan potongan bebek dan nasi putih di depanku tandas. Sisa kuah bumbu yang tertinggal di piring kukorek dengan kerupuk untuk memperpanjang sensasi pedas yang mulai mengasyikkan.

Dan sesi makan malam itu akhiri dengan merogoh kocek sebesar Rp 23.000 untuk satu porsi bebek teror. (Hari Tri Wasono)


Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.