READING

Pelajar Kediri Ciptakan Hand Sanitizer Organik, Ap...

Pelajar Kediri Ciptakan Hand Sanitizer Organik, Apa Kelebihannya?

Kediri – Dua pelajar Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Kediri menemukan formula hand sanitizer organik. Tak hanya meraih penghargaan internasional, penemuan mereka juga diincar pabrikan untuk diproduksi secara massal.

Dua peneliti muda Aulia Fidia Syahrina dan Shona Fa’iqa Febiastuti patut berbesar hati. Kerja keras mereka selama berbulan-bulan di dalam laboratorium membuahkan penemuan besar bagi kesehatan masyarakat. “Kami menemukan formula membuat tissue basah organik yang ampuh membunuh kuman sekaligus aman untuk kulit,” kata Aulia kepada Jatimplus.

Tissue basah yang mereka temukan bisa jadi merupakan hand sanitizer paling aman dibandingkan produk pabrikan saat ini. Jika pembersih lain menggunakan bahan kimia dan alkohol sebagai pembunuh kuman, hand sanitizer ciptaan Aulia dan Shona justru menggunakan bumbu dapur. Bawang merah dan blimbing wuluh.

Dalam komposisi tertentu, bawang merah dan blimbing wuluh mampu menekan pertumbuhan bakteri secara signifikan. Kedua komoditas itu diketahui mengandung senyawa antioksidan, antiseptik, dan pemulung radikal bebas yang jauh lebih efisien dan aman bagi kulit manusia.

Shona menjelaskan, hasil penelitiannya menyebutkan jika hand sanitizer pabrikan masih mengandung polyethylene glycols (PEG) yang kerap memicu iritasi kulit dan peradangan. PEG juga sangat berbahaya jika terkena kulit yang luka. Bahkan di beberapa kasus, PEG juga mengurangi kelembapan kulit dan mempercepat penuaan. “Hand sanitizer kami sama sekali tak mengandung PEG,” tegas Shona.

Tissue basah organik

Pelajar kelas IX ini menjelaskan, pembuatan tissue basah organik ini sebenarnya tak cukup rumit. Bawang merah dan blimbing wuluh yang telah dibersihkan ditimbang dalam ukuran tertentu dengan komposisi 1:1. Keduanya lantas dicampurkan hingga menjadi satu bagian untuk kemudian disaring.

Hasil saringan tersebut kemudian dipanaskan dalam suhu 60 derajat sebagai proses sterilisasi. Hasil ekstrak inilah yang selanjutnya dicampurkan ke dalam kain tissue kering hingga menjadi tissue basah. Untuk mempertahankan kelembapannya, tissue itu dikemas menggunakan aluminium foil kedap udara. Kemasan ini diklaim mampu bertahan hingga empat bulan tanpa bahan pengawet sama sekali.

Tak hanya diapresiasi guru pembimbing serta akademisi kampus Universitas Nusantara PGRI Kediri yang menjadi konselor mereka, penelitian Aulia dan Shona mendapat pengakuan internasional dalam ajang  International Young Scientists Innovation Exhibition di Selangor, Malaysia pada 9-13 Juli 2018. Tissue basah mereka dinyatakan sebagai penemuan terbaik kedua dalam kategori Life Science yang diikuti peneliti muda dari 10 negara.

Kini produk yang diberi nama F2 itu siap memasuki dunia industri dan bersaing dengan produk pabrikan lain. Meski terbilang sempurna, dua pelajar itu masih mengutak-atik komposisi bawang merah dan senyawa aromatik untuk menekan bau yang mengganggu. “Selebihnya, produk kami jauh lebih unggul dan aman dibanding produk pabrikan,” kata Aulia.

Walikota Kediri Abdullah Abubakar menilai kemampuan pelajar saat ini jauh di atas perkiraan. Prestasi yang diraih Aulia dan Shona ini sekaligus menghapus stigma anak muda jaman now yang hedon dan terjebak media sosial. “Ini membuktikan masih ada anak muda yang cerdas, kritis, dan tangguh mencari solusi persoalan lingkungan,” kata Abubakar.

Atas prestasi mereka, Pemerintah Kota Kediri akan membuka ruang bagi peneliti muda untuk menunjukkan karyanya, serta memfasilitasi peralatan laboratorium yang lebih layak. Peran perguruan tinggi yang memiliki tenaga professional dan infrastruktur laboratorium juga diharapkan menambah produktivitas peneliti muda khususnya pelajar.

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.