READING

Penampakan Yu Sing di Hutan Joyoboyo Kediri

Penampakan Yu Sing di Hutan Joyoboyo Kediri

Gambaran saya tentang Hutan Joyoboyo di masa lalu adalah kumuh tak terawat, tempat mangkal para penjaja diri, dan wingit (angker). Dulu di tahun 90-an, Kalau tak penting benar atau kalau ada alternatif jalan lain, saya tentu menghindari melewati jalan di depan hutan itu di malam hari.

Namun seiring waktu berjalan, Kota Kediri banyak berbenah. Banyak taman dan ruang publik baru yang dibangun memperindah lanskap kota. Termasuk di area sekitar Hutan Joyoboyo. Kawasan Stadion Brawijaya yang berada tepat di baratnya kini terlihat gagah mentereng.

Jalan raya di depan hutan juga diperlebar dan dipercantik dengan lampu-lampu jalan. Sedangkan Hutan Joyoboyo sendiri sejak tahun 2017, telah dibangun secara bertahap oleh Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Pertamanan (DLHKP) Kota Kediri.

Dengan anggaran total sebesar 10 miliar rupiah, Hutan tersebut disulap menjadi Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang memiliki manfaat sebagai paru-paru kota, tempat rekreasi, dan edukasi bagi masyarakat. Kini lahan terbuka seluas 2,6 hektar dengan water toren peninggalan Belanda sebagai penandanya ini, punya tampilan baru yang asri dan modern.

Tak hanya pohon-pohon rindang, namun hutan kota ini sekarang juga dilengkapi dengan kubah ornamen elektrik, amphiteater, wahana bermain anak, pedistrian, tempat ibadah, sky bridge, teras pohon, balok titian, serta sarana fisik untuk edukasi.

Tampilan ciamik Hutan Joyoboyo yang baru tak lepas dari tangan dingin Yu Sing. “Penampakan” hasil karya estetik Yu Sing bisa kita nikmati sedari kita memarkir kendaraan di lahan parkir. Kita akan disambut dengan ornamen mirip piramid berwarna ungu, jingga, dan kuning yang kalau malam tiba akan memancarkan cahaya elektrik warna warni.

Belum lagi fasilitas sky bridge sepanjang 800 meter yang berkelok-kelok membelah hutan dari selatan ke utara. Sky bridge tersebut dilengkapi dengan tiga tangga di sejumlah sudut untuk mempermudah pengunjung naik dan juga disediakan beberapa teras pohon untuk menambah kenyamanan pengunjung saat menikmati suasana hutan dari atas.

Siapa Yu Sing?

Walikota Kediri Abdullah Abu Bakar atau akrab dipanggil Mas Abu begitu percaya dengan kinerja arsitek lulusan ITB tahun 1999 ini untuk mendesain Hutan Joyoboyo yang baru. Seperti yang saya kutip dari biografinya, pemilik Studio Arsitek Akanoma ini aktif mengikuti sayembara desain dan sempat memenangkan beberapa di antaranya, seperti juara I lomba desain Jakarta Desain Center, juara I desain gedung pusat akademik UNM, pemenang Holcim Award Indonesia 2009, dan pemenang III Futuarc Prize. Bersama tim desainnya, ia juga aktif membantu desain rumah murah di berbagai daerah di indonesia, mengkinikan arsitektur nusantara, serta mengupayakan kampung (kota) lestari.

Ada pendapat menarik dari arsitek pengagum Romo Mangun ini yang berhubungan erat dengan hutan. Sejak dulu kala, hutan selalu dipandang sebagai tempat keramat dan angker atau wingit. Ternyata gambaran itu secara sengaja diciptakan nenek moyang kita sejak dulu dengan berbagai aturan dan larangan adat yang kuat, dibumbui beragam dongeng dan mitos, untuk melindungi keberlangsungan ekosistem hutan.

Namun apakah masyarakat jaman sekarang masih takut masuk hutan atau masih percaya cerita-cerita dongeng? Karena toh deforestasi atau penghilangan hutan untuk lahan pertanian dan perumahan tetaplah marak atas nama pembangunan dan kemajuan jaman.

Yu Sing berpendapat, dibutuhkan nilai luhur baru yang kontekstual dan relevan dengan jaman sebagai penyangga bagi kearifan lokal yang wajib tetap kita jaga demi kelestarian hutan. Yaitu dengan mengakrabi hutan, belajar pengetahuan mengenai hutan dan segala isinya. Sehingga masyarakat bisa mencintai dan merasa ikut memiliki hutan. Untuk itu diperlukan berbagai sarana penunjang agar masyarakat merasa nyaman di hutan.

Tak hanya memfasilitasi kebutuhan wisata semata, melainkan juga untuk pendidikan dan pelestarian segala macam tumbuhan didalamnya. Segala hal itu bisa kita nikmati di Hutan Joyoboyo sekarang. Jajaran pohon trembesi dan mauni di sepanjang jalur pedistrian berpadu harmonis dengan desain modern bangunan penunjang dan pencahayaan yang dirancang oleh Yu Sing.

Ah, rasanya ingin berlama-lama disini, menikmati semilir angin dan aroma tanah humus menguar,  andai saja gerimis hujan tidak segera mengusirku halus untuk pulang …

(Teks dan Foto : Adhi Kusumo)

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.