READING

Penanggungan, Khayangan Suci Yang Terlupakan

Penanggungan, Khayangan Suci Yang Terlupakan

Penanggungan merupakan gunung berapi yang sudah tidak bernyawa. Tingginya pun relatif tidak seberapa. Hanya 1.659 meter, yakni sedikit dibawah Kelud (1.731 meter), Kawi (2.551 meter),  Bromo (2.329 meter), dan Wilis (2.563 meter). Dibanding Welirang (3.156 meter), Lawu (3.265 meter), Arjuno (3.339 meter) dan Semeru (3.676 meter), Penanggungan terlihat jauh lebih mungil .

MOJOKERTO-Namun tidak demikian dengan ketebalan mitologinya. Penanggungan merupakan gunung penting. Dalam imajeri India, “gundukan” yang menjulang dengan empat kerucut tambahan (Gajah Mungkur, Kemuncup, Sarah Klopo dan Bekel), yakni yang ditafsirkan mata angin kosmis itu, memiliki kedudukan sebagai poros dunia.

Kedudukan itu juga yang membuat Penanggungan menyandang nama Pawitra (sansakerta) yang berarti suci, kudus atau yang membersihkan dari segala klesa (cacat, noda dan dosa).

Versi lain menafsirkan Pawitra sebagai daerah suci yang bebas pajak (Slamet Mulyana, 1979-302).

Tantu Panggelaran menyebut, penciptaan Penanggungan terkait dengan proyek dewata yang hendak menyeimbangkan alam Jawa (Pulau Jawa) yang dilanda khaotis, yakni terus menerus berguncang.

Oleh para Dewa, Gunung Meru atau Mahameru yang berada di India, dipindah ke Jawa. Ditancapkan sebagai “paku bumi”.

Sayang, pekerjaan evakuasi gunung dengan metode terbang itu tidak berjalan sempurna. Pucuk atau puncak Mahameru terpelanting jatuh diluar kehendak dewata. Puncak yang pertama jatuh itu diyakini menjadi Gunung Penanggungan. Sementara bagian lain yang berceceran menjadi Wilis, Kelud, Kawi, Arjuna, Kemukus dan Welirang.

Sisa bagian terbesar ditancapkan di sebelah timur dan menjelma sebagai Gunung Semeru. Tantu Panggelaran adalah prosa yang bercerita tentang kisah penciptaan manusia Jawa.

Teks yang bersifat etiologis itu ditulis dalam bahasa jawa pertengahan era Kerajaan Majapahit. Sejarawan Dr Th Pigeaud menyunting dan menerbitkannya pada tahun 1924 di Leiden Belanda.

Persemayaman Raja Dewata

Arif Budi Santono, aktivis komunitas Sambang Panji dan Mojokerto Heritage Society, merasa penasaran. Dia mengaku sudah tiga kali “menziarahi” situs Candi Dharmawangsa. Memorinya masih basah. Namun kedatangannya kali ini bersama rombongan tidak juga menemukan petunjuk jalan ke sana.

Semak dan ilalang sudah disibak. Belukar juga direbah rebahkan. Namun jejak jalan ke Dharmawangsa tidak juga ditemukan. Buntu. “Saya sudah tiga kali ke Candi Dharmawangsa. Saya yakin ini rute yang dulu saya lewati, “tuturnya.

Candi Dharmawangsa berada di lokasi kerucut Gajah Mungkur (salah satu kerucut tambahan Penanggungan) sisi timur atau utara puncak Gunung Penanggungan. Dibangun pada masa akhir Kerajaan Majapahit abad 14 dan 15, candi itu memiliki teras berundak yang berjumlah lima. Ilalang yang tumbuh subur membuat badan candi susah terlihat utuh.

Dharmawangsa merujuk pada nama Sri Dharmawangsa Airlangga Anantawikramotunggadewa Raja Kerajaan Kahuripan (Sebelum pecah menjadi Jenggala dan Panjalu atau Kadiri) atau dikenal Airlangga. Seorang raja yang dikenal toleran dalam keyakinan agama, yakni melindungi agama Hindu Syiwa dan Budha.

Karena tidak juga menemukan titik terang Arif mengajak rombongan berkunjung ke situs lain, yakni Candi Wayang. Kendati demikian, tekad mencari Candi Dharmangsa masih belum padam.

“Kita turun dulu ke Candi Wayang. Setelah beristirahat kita kembali kesana (Dhmarmawangsa), “katanya kepada rombongan.

Begitu menjejakkan kaki di area Candi Wayang, puncak Penanggungan langsung terlihat gamblang. Candi Wayang berada di area terbuka. Dipahat dari batu asli setempat (gunung), peninggalan kuno itu memiliki tinggi sekitar 1,5 meter.

Pada panel kiri terdapat arca Dwarapala (arca penjaga gerbang) yang terpahat pada dinding batu.

Di sebelahnya terlihat sejumlah anak tangga dengan lebar sekitar 40 cm. Nama Wayang diambil dari letak relief yang berjajar seperti halnya penataan wayang kulit atau wayang golek.

Sayang, sebagian besar reliefnya, termasuk figur bertopi yang mengarah pada tekes Panji, telah rusak.

Karakter bangunan candi dan bangunan berundak di Penanggungan sendiri tidak banyak memiliki pola hias atau relief seperti candi peninggalan masa Majapahit awal.

Pola hias seringkali bertempat di lengan sandaran pada relung. Seringkali hiasan kepala kijang atau kalamrga, yakni lambang hubungan antara manusia dengan dewa.

Hal itu mengindikasikan pendirian bangunan berundak dan candi di Penanggungan lebih pada pemujaan nenek moyang.

Sebelum melanjutkan pendakian, tidak sedikit pendaki Gunung Penanggungan menjadikan Candi Wayang sebagai lokasi peristirahatan sementara. “Saya dua kali seminggu kerap kesini. Sudah hobi, “tutur Gunawan (25) salah seorang pendaki yang tengah beristirahat di komplek Candi Wayang.

Setelah merasa cukup melepas penat, Arif kembali mengajak rombongan menziarahi Candi Dharmawangsa. Namun lagi lagi usahanya tidak menemukan petunjuk pasti. Setiap menjumpai persimpangan jalan, Arif Budi Santono selalu kebingungan menentukan arah.

M Nur Badri, salah satu rekan dalam rombongan, akhirnya memutuskan perziarahan (ke Candi Dharmawangsa) dilanjutkan lain waktu. “Mungkin hari ini kita tidak berjodoh ke Dharmawangsa, “ujarnya.

Banyak hal hal diluar nalar bisa terjadi selama pendakian ke Gunung Penanggungan. Mitos itu diyakini sebagian besar pendaki. Apalagi di sejumlah titik lokasi pendakian masih ada sejumlah orang yang menjalankan laku asketis. Sementara waktu melakukan tapa, mengambil jalan sunyi, menjauhi duniawi.

“Karenanya pesan untuk pendaki tidak boleh sombong dan berkata buruk selama proses pendakian. Sebab banyak tempat yang diyakini keramat, “jelas Badri.

Gagal ke Candi Dharmawangsa, rute selanjutnya menuju Candi Gajah. Waktu tempuh tidak sampai 30 menit. Candi Gajah berbentuk punden berundak dengan posisi tepat di bukit Gajah Mungkur.

Seperti umumnya komponen candi di kawasan Penanggungan lainnya. Punden berundak di Candi Gajah  ini juga memiliki altar pemujaan

Altar utama berada di tengah dan altar pengapit berada disebelahnya dengan posisi sedikit ke belakang. Ukuran altar utama lebih besar.

Selain kedua altar itu (utama dan pengapit), terdapat juga altar lain (altar kecil) yang bertempat di muka tangga masuk. Fungsinya sebagai tempat upacara sebelum menggelar pemujaan di bangunan pusat.

Adapun nama gajah merujuk pada dua relief gajah yang mengapit persis dibawah altar pemujaan. Pahatan gajah ini bergaya realis. Di area Candi Gajah dan candi penanggungan lainnya (Candi Wayang, Candi Dharmawangsa, Candi Kerajaan Gua Gama 4, dan Candi Griya), enam orang juru kunci bekerja bergantian.

Seluruh Candi dan Punden Berundak di kawasan Penanggungan memiliki dua orientasi, yakni cthonis (ke arah gunung) dan kosmis (ke arah mata angin).

Selaian merawat dan membersihkan area  candi, para juru kunci juga mengawasi tangan manusia yang berniat jahil. “Kalau malam yang jelas banyak babi hutan berkeliaran, “kelakar Siyono yang memangku tanggung jawab.

Merujuk pucuk Gunung Mahameru (India) yang dianggap tempat para dewa, Gunung Penanggungan juga diyakini sebagai tempat berkumpulnya para dewa. Penanggungan dianggap sebagai khayangan suci.

Pada masa Majapahit akhir, Penanggungan dipercaya sebagai tempat bersemayamnya roh nenek moyang atau roh nenek moyang yang didewakan.

Pendirian bangunan berundak di Penanggungan dapat dianggap sebagai upaya menjalin hubungan magis dengan nenek moyang, yakni raja yang didewakan (dianggap titisan dewa ketika masih hidup).

Hubungan diharapkan mampu menciptakan keseimbangan makrokosmos dan mikrokosmos, yakni memberi kesuburan dan kesejahteraan.

Dalam hal ini yang dianggap Raja Dewata adalah Airlangga yang diyakini sebagai titisan Batara Wisnu. Hal itu diperkuat dengan ditemukannya arca Wisnu dan patung dua dewi di kolam pemandian Candi Belahan di lereng Gunung Penanggungan.

Wisnu melambangkan Raja Airlangga dan dua patung itu adalah istrinya, yakni Sri Samarawijaya dan Mapanji Garasakan. Dalam konsep Raja Dewata berlaku pemujaan pada gunung sebagai tempat persemayaman dewa dewa. Gunung Meru atau Mahameru yang pucuknya menjelma Gunung Penanggungan dianggap sebagai pusat jagat raya.

Maka munculah terminologi Raja Gunung sebagai nama lain Raja Dewata. Dalam Arjunawiwaha karangan Mpu Kanwa (abad 11), Raja Airlangga pernah memanjatkan pujian pada puncak Gunung Indraparwata.

Pada awal Negarakertagama, Mpu Prapanca menyatakan permohonan perlindungan kepada Parwanatha atau penguasa gunung yang tidak lain Hayam Wuruk. Begitu juga dengan Mpu Tantular dalam Sutasoma juga mempersembahkan pujian kepada Girinatha yang artinya Raja Gunung.

Dilereng Penanggungan, yakni terutama disekitar empat kerucut tambahan (Gajah Mungkur, Kemuncup, Sarah Klopo dan Bekel) banyak ditemukan jejak arkeologi situs candi dan pertapaan. Sejarawan Denys Lombard dalam Nusa Jawa Silang Budaya menyebut ada sebanyak 81 situs.

VR van Romondt, arsitek sekaligus arkeolog Belanda yang pertama kali menelusuri Gunung Penanggungan dalam penelitian tahun 1936, 1937, dan 1940, menyatakan ada 80 situs di Gunung Penanggungan.

Sementara pada tahun 2014 tim eksepedisi Universitas Surabaya (Ubaya) yang diketuai Hadi Sidomulyo atau Nigel Bullough mencatat adanya 116 situs (lama dan baru) di kawasan Gunung Penanggungan.

Ekspedisi yang berlangsung mulai tahun 2012 itu juga berhasil mengungkap adanya jalan kuno melingkar yang bisa dilalui kereta kuda zaman Kerajaan Majapahit hingga ke puncak Penanggungan.

Peneliti kebangsaan Inggris itu melakukan napak tilas rute desa desa kuno yang tertera dalam Negarakertagama sejak tahun 1998. Diketahui juga tidak sedikit benda purbakala di kawasan Penanggungan yang menjadi sasaran para pemburu barang antik.

Baru pada 2015, Gubernur Jawa Timur Soekarwo mengeluarkan Keputusan Gubernur Jawa Timur dengan nomor 188/18/KPTS/013/2015 yang menetapkan Penanggungan sebagai kawasan cagar budaya tingkat provinsi.

Karena sudah diputuskan tidak ke Dharmawangsa, dari Candi Gajah, rombongan Arif Budi Santono langsung menuju Gua Gama 4 dan berlanjut ke Candi Griya. Karena terbatasnya waktu, Candi Griya menjadi perziarahan terakhir.

Untuk sampai ke permukiman warga, yakni Dusun Tlogo, perjalanan memakan waktu sekitar tiga jam. Gelap tanah menyambut begitu rombongan tiba  diparkiran kendaraan.

“Sebelum balik ke Mojokerto (Kota Mojokerto), mandi mandi dulu. Atau minimal cuci muka dulu, “tutur Rohman, warga setempat yang juga penjaga parkir kendaraan. (*)

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.