READING

Pengalamanku Tersasar Menggunakan Google Maps

Pengalamanku Tersasar Menggunakan Google Maps

KEDIRI – Memanfaatkan Google Maps sebagai panduan berkendara sudah menjadi kebutuhan di era transportasi sekarang.  Namun tak sedikit pengendara yang justru tersasar saat meminta panduan sistem pemosisi tersebut. Saya salah satunya.

Sebagai pekerja lapangan yang sering menempuh perjalanan luar kota, menggunakan Google Maps untuk memandu perjalanan adalah wajib. Teknologi ini diklaim mampu mengurangi aktivitas bertanya saat kehilangan arah di jalan. Terutama di kawasan yang belum pernah kita lalui sebelumnya.

Seperti  sore itu, saat aku mengiyakan ajakan bertemu dengan beberapa gus di Pondok Pesantren Sidosermo Surabaya. Rencananya aku dan dua temanku berangkat bersama-sama dengan Gus Reza Ahmad Zahid, pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri. Namun karena sesuatu hal, kami memilih berangkat terpisah dan bertemu di Sidosermo jam 20.00 WIB.

Berbekal alamat pondok pesantren yang saya terima via Whatsapp, kami berangkat dari Kediri sebelum waktu Ashar. Alasannya ringan, biar sempat nongkrong sebelum terlibat pembicaraan serius dengan para gus. Toh semua lokasi sudah kita kantongi dan tinggal memasukkan ke dalam mesin pencarian Google Maps, beres.

Perjalanan dari Kediri menuju Surabaya berjalan mulus. Bantuan Google Maps baru kami nyalakan selepas melintasi bundaran Waru Sidoarjo. Aku ketik Pondok Sidosermo di mesin pencarian dan segeralah mesin itu bekerja. Agar tak mengganggu saat mengemudi, audio Google Maps kunyalakan dan tinggal mengikuti perintah.

Karena tak pernah mengenal kawasan Sidosermo sebelumnya, petunjuk Google Maps menjadi satu-satunya panduan kami saat itu. Setiap arahan saya ikuti sesuai instruksi Google Maps, meski menyusuri jalan sempit yang tak muat untuk berpapasan mobil. Tapi kami masih yakin dengan teknologi ini.

Keringat dingin baru keluar ketika hingga matahari terbenam dan kami masih berputar-putar di jalan sempit. Beberapa kali aku harus meminta maaf kepada pengendara lain yang terganggu dengan keberadaan mobilku.

Saran untuk merestart ponsel dan memulai pencarian baru kuikuti. Namun lagi-lagi tak ada tanda-tanda keberadaan Pondok Sidosermo yang kami cari meski seluruh jalur yang ditentukan Google Maps kuikuti.

Puncaknya, Google Maps mengarahkan mobil kami menuju sebuah gang kecil. Gang yang hanya cukup untuk satu mobil jenis SUV yang saya kendarai. Saya masih mengikuti arahan itu meski sempat menyerempet pot bunga di pinggir jalan.

Mendadak kuinjak pedal rem hingga membuat dua temanku di bangku depan dan tengah terjengkang. Gang itu buntu dan hanya menyisakan sebuah lorong seukuran tubuh manusia. Tak ada jalan lain. Sementara Google Maps masih terus memintaku untuk melanjutkan perjalanan. Edan.

Seketika kumatikan mesin pencarian itu dengan umpatan. “Google Maps gila, mana mungkin mobil masuk ke lorong itu,” kataku.

Lantaran tak menemukan alasan lagi menggunakan Google Maps, kuminta kawanku bertanya lokasi Pondok Sidosermo kepada warga setempat. Dan tak butuh proses rumit menemukan pondok yang kucari dari penjelasan warga tersebut.  Rupanya pondok itu sudah cukup dekat dengan rute kami, dan kami terus berputar-putar sesuai petunjuk Google Maps.

Di depan pondok terlihat mobil Gus Reza sudah terparkir. Kami datang melewati waktu yang ditentukan. Pengasuh pondok menyambut kami dan menanyakan alasan keterlambatan. Beliau tersenyum saat kuceritakan sulitnya mencari alamat menggunakan Google Maps.

“Teknologi memang dibuat untuk membantu manusia. Tapi bertanya pada orang lain juga bukan perbuatan memalukan,” katanya tertawa. (Hari Tri Wasono)

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.