READING

Pengrajin Rotan Jombang Mati-matian Melawan Pabrik...

Pengrajin Rotan Jombang Mati-matian Melawan Pabrikan

Pengrajin perabot berbahan rotan di Jombang berjibaku melawan gempuran produk plastik. Pemerintah dituntut mampu melindungi mereka dari tekanan kapital besar.

JOMBANG – Usaha kerajinan berbahan dasar alam terus tergerus. Di tengah sulitnya mencari bahan baku, usaha yang telah ditekuni bertahun-tahun harus tunduk melawan hegemoni pabrikan pengolah plastik.

Di Jombang, Jawa Timur, persoalan ini dialami sejumlah pengrajin rotan. Salah satu yang bertahan di tengah situasi sulit adalah Ma’arif di Desa Tambakrejo Kecamatan Jombang. Pengrajin berusia 40 tahun ini memproduksi perabot rumah tangga berbahan rotan sebagai usaha utamanya. “Harus berinovasi agar mampu bertahan dengan pabrikan,” katanya kepada Jatimplus.ID, Jumat, 17 Januari 2020.

Ma’arif bukanlah pengusaha besar. Untuk merakit rotan menjadi perabot, ia memanfaatkan rumah tinggalnya menjadi bengkel. Beberapa produk yang diciptakan antara lain vas bunga, piring, pot bunga, meja, kursi, dan peralatan lain.

Rotan yang diolah dibeli dari pabrik. Sebelum menjadi pengrajin, Ma’arif dulunya adalah pekerja pabrik rotan. Ia tertarik keluar dari pabrik dan menjadi pengrajin dengan berbagai alasan. Salah satunya ingin mandiri.

Setiap hari tangan terampil Ma’arif merangkai rotan sendirian. Sifat rotan  yang lentur dan elastis memudahkan untuk dirajut dan dianyam hingga membentuk sesuatu. Jika sedang banyak order, ia dibantu istrinya di tahap finishing.

Usai dirakit, Ma’arif memberikan warna sesuai pesanan pelanggan. Untuk barang yang dipesan konsumen perempuan, ia memberikan warna pink sesuai selera mereka. Seperti vas bunga dalam rumah atau tempat aksesoris yang bertambah lebih cantik dengan sentuhan warna pink.

Menjalankan usaha rotan di era sekarang, menurut Ma’arif tak bisa setengah hati. Selain menjaga mutu dan kualitas, ia dituntut mampu berinovasi untuk produk yang diciptakan. “Pesaingnya adalah kerajinan berbahan plastik dari pabrikan yang dijual murah,” keluhnya.

Kemampuan mengolah rotan turut menjadi faktor penting jika tak ingin digerus pasar. Karena itu Ma’arif juga mampu membuat benda-benda luar rumah (out door) berbahan rotan. Selain indah, benda itu juga harus kokoh.

Dengan keuletannya, Ma’arif mampu membentuk pasar konsumen yang pasti. Selain dari Jombang, pelanggannya berasal dari Bali, Bekasi, dan beberapa daerah di Jawa Tengah. Mereka mengenal produk Ma’arif dari lapak online yang dikelola.

Perlahan-lahan Ma’arif juga mengembangkan pasarnya ke kebutuhan pernikahan. Ia memasok souvenir berbahan rotan yang dibentuk kecil-kecil. Setiap produk memiliki harga berbeda, sesuai ukuran, bentuk, dan tingkat kesulitannya.

Salah satu contoh souvenir murah yang diproduksi adalah piring rotan atau asesoris kecil dengan harga Rp. 3.500. Sedang barang termahal yang dibuat bisa mencapai ratusan juta.

“Harga rotan yang naik turun menjadi kendala usaha ini. Selain peran pemerintah untuk melindungi usaha kecil dari gempuran pabrik,” katanya.

Reporter: Lufi Syailendra
Editor: Hari Tri Wasono

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.