READING

Penulis Batu Nisan, Pekerjaan Penting yang Sering ...

Penulis Batu Nisan, Pekerjaan Penting yang Sering Dilupakan Orang

Kematian adalah takdir yang tak bisa dihindari manusia. Untuk itu negara menyediakan petugas khusus yang mengurusi kematian, kecuali penulis batu nisan.

Sekitar pukul 20.30 WIB pengeras suara Masjid Al Ikhlas berbunyi. Dari balik corong, pengurus masjid mengumumkan sebuah berita duka. Salah satu warga Perumahan Persada Sayang Kota Kediri meninggal dunia.

Beberapa menit berikutnya pesan berantai di Grup WhatsApp warga berkelindan tentang kabar kematian itu. Pesan daring ini memperjelas informasi yang disampaikan pengurus masjid yang terdengar samar.

Tanpa dikomando, satu per satu warga keluar rumah dan mendatangi rumah duka. Bapak-bapak mengeluarkan perabot ruang tamu ke halaman dan menggantinya dengan karpet. Tempat itu akan dipergunakan untuk meletakkan jenasah agar bisa disucikan dan disholati.

Di bagian dapur, kaum perempuan sibuk menyalakan kompor, membuatkan minum para pelayat. Sebagian menghibur keluarga almarhum agar tetap tabah dan mengikhlaskan kematian tersebut.

baca juga: Didi Kempot Kebanggaan Warga Ngawi di Perantauan

Hanya berselang satu jam, petugas pengurus kematian atau modin dari kantor kelurahan setempat datang. Dialah yang akan bertugas merawat jenasah hingga siap disholatkan, serta mempersiapkan prosesi pemakaman. Biasanya modin akan memberikan jasa layanan pemakaman lengkap, mulai menyediakan kain kafan hingga menggali kuburan, atas biaya yang dibebankan keluarga almarhum. Tetapi tidak termasuk menulis identitas almarhum di batu nisan.

Meski terlihat sepele, menulis batu nisan adalah salah satu rangkaian prosesi pemakaman yang tak bisa dihilangkan. Bayangkan saja jika makam keluarga kita dikubur tanpa nisan. Atau ditancapi batu nisan tanpa diberi keterangan. Tentu akan menyulitkan untuk mengidentifikasi posisi makam saat ingin berziarah.

Celakanya, tak semua orang bisa menulis di batu nisan. Berbeda dengan media yang lain seperti kertas atau kayu, menulis batu nisan harus digores atau dipahat tipis. “Untuk mencegah tulisan hilang kena tangan atau hujan,” kata Sigit Purnomo, warga Perumahan Persada Sayang yang kerap menjadi juru tulis batu nisan.

baca juga: Perlombaan 17 Agustus Yang Mulai Ditinggalkan Masyarakat

Untuk memahat batu nisan yang terbuat dari marmer atau semen putih tentu bukan pekerjaan mudah. Jika dulu orang menggoresnya dengan pahat besi, Sigit punya alat khusus. Menyerupai bor yang memutar ujung jarum, alat tersebut digerakkan dengan listrik agar tak membuat tangan pegal.   

Biasanya Sigit memulai proses penulisan dengan meminta foto kopi KTP atau kartu identitas almarhum terlebih dulu. Hal ini untuk menghindari kesalahan penulisan nama dan tanggal kelahiran almarhum. Di batu nisan itu akan ditulis nama lengkap, tanggal lahir, dan tanggal kematian.

Sigit mengawali proses menulis dengan membuat tulisan pensil di batu nisan. Hal ini untuk memudahkan menghapus jika terjadi kesalahan ukuran atau tulisan. Selanjutnya baru dilukai atau dipahat tipis menggunakan mata bor kecil yang didesain dan dirakit sendiri oleh Sigit. “Dulu memahat batu nisan cukup berat, karena bahannya bagus. Sekarang kualitasnya jelek, gampang pecah kalau tak hati-hati,” kata Sigit.

baca juga: Kiai Lirboyo: Bulan Dzulhijah Tak Sekedar Potong Kurban

Setelah tergores sesuai tulisan yang dikehendaki, Sigit menambahkan cat minyak atau spidol permanent di area pahatan. Karena posisinya yang menjorok ke dalam, tulisan itu dipastikan berumur panjang dan tak mudah hilang.

Karena peristiwa kematian bisa terjadi setiap saat, Sigit telah memiliki toko penjual batu nisan yang menjadi langganan di area Pasar Bandar Kediri. Pemilik toko tak berkeberatan membuka lapak untuk melayani pembelian batu nisan meski diketuk malam hari.

Meski tak pernah diangkat sebagai asisten modin atau petugas khusus oleh kelurahan, Sigit tak pernah berhitung dalam melakukan pekerjaannya. Dia rela meninggalkan aktivitas untuk membeli dan menulis batu nisan jika mendengar berita duka di lingkungannya.

Pria berkaca mata ini hanya berharap proses pemakaman berjalan lancar, dan memudahkan beban teknis yang dipikul keluarga almarhum.  “Ikhlas saja. Apa sampeyan mau saya tulis juga,” seloroh Sigit.

Print Friendly, PDF & Email

Hari Tri Wasono

Freelance journalist | Press freedom is ur freedom

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.