READING

Penyebab Bullying dan Apa Yang Perlu Dilakukan Ket...

Penyebab Bullying dan Apa Yang Perlu Dilakukan Ketika Menemukannya

Praktik bullying (merisak) di lingkungan sekolah dari dulu hingga sekarang selalu saja ada dan akan selalu ada. Sepanjang tahun 2019 lalu, diketahui ada sekitar 153 kasus bullying di sekolah yang dilaporkan ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Dan hingga Februari tahun ini sudah ada setidaknya tiga kasus bullying yang mencuat dan menjadi viral.

Mulai dari bunuh dirinya siswi SMPN di Jakarta yang sempat menggemparkan jagat maya karena dilakukan di gedung sekolah. Kasus bullying di salah satu di SMP Malang juga sempat ramai karena korban sampai diamputasi jari tengahnya.

Tidak hanya itu, salah satu siswi di SMP di Purworejo juga viral karena video ketika anak yang ternyata mengalami keterbatasan fisik tersebut dipukuli kakak kelasnya. Dan belum lama ini, puluhan adik kelas di salah satu sekolah seminari di NTT dipaksa kakak kelasnya “mencicipi” tinja meski kemudian ada bantahan dari pihak sekolah yang bersangkutan.

Kegiatan bullying sendiri adalah kegiatan mengintimidasi oleh pihak yang kuat ke pihak yang lemah. Kejadian ini akan selalu ada di setiap generasi karena naluri membully akan ada ketika karakter bossy atau superioritas bertemu dengan karakter lemah dan mudah ditindas.

Tidak hanya karakter saja, ada banyak faktor yang melatarbelakangi mengapa ada sosok-sosok yang senang membully orang lain. Baik itu secara fisik maupun verbal, ataupun dilakukan di dunia maya (cyber bullying). Menurut beberapa sumber disebutkan bahwa sosok pembully biasanya berasal dari lingkungan keluarga yang kurang harmonis.

Karakter kasar dan suka menyakiti ini bisa ditirunya dari sosok yang sering dilihat sang anak. Karakter sulit mengendalikan emosi juga umum dimiliki seorang pembully. Ketika karakter ini bercampur dengan kurangnya sifat empati, apalagi ketika ada keuntungan dari proses membully seperti mendapatkan makanan, uang, dan kekuasaan, maka praktik bully pun tidak bisa dihindari.

Ketika potensi ini selalu ada, maka sudah seharusnya peranan guru maupun orang tua lah yang penting sebagai bentuk pengawasan. Menurut penjelasan dalam www.stopbullying.gov, hal pertama yang bisa dilakukan adalah dengan menanamkan sejak dini bahkan kegiatan membully orang lain adalah perbuatan yang tidak baik.

Lingkungan yang rentan terjadi aktivitas bullying biasanya ada di sekolah. Maka sudah menjadi kewajiban bagi seluruh petugas sekolah untuk bisa menciptakan suasana yang kondusif dan positif agar bullying tidak sampai terjadi.

Para guru juga sebaiknya tidak hanya berpaku pada peningkatan kemampuan akademik saja tetapi juga pada perbaikan karakter dan tingkah laku siswa. Hal ini bisa disisipkan dalam pesan-pesan guru di sela-sela pengajaran di kelas. Suasana juga harus dibangun dengan semangat kekeluargaan dan keakraban.

Seluruh petugas sekolah mulai kepala sekolah hingga tukang kebun dan satpam sekolah juga harus terus memantau kegiatan siswa. Entah di jam istirahat bahkan ketika jam pulang sekolah. Bahkan ajak serta sesama siswa untuk saling menjaga temannya. Laporkan setiap ada kejadian yang mengacu pada kegiatan bullying.

Orang tua pun harus peka ketika sang anak menjadi korban bully. Ada beberapa tanda yang biasa ditunjukkan oleh para korban salah satunya adalah menjadi pendiam dan penyendiri. Bahkan ketika berada di rumah, sang anak akan lebih senang berdiam diri di kamar dan enggan bersosialisasi.

Jika sudah tahap akut, biasanya anak akan merasa berat dan enggan berangkat sekolah. Capaian akademiknya pun menjadi menurun akibat hilangnya konsentrasi ketika berada di sekolah. Ketika orang tua mendapati kondisi ini, alangkah baiknya agar orang tua sesegera mungkin melakukan pendekatan dan komunikasi kepada sang anak.

Lakukan pula kunjungan ke sekolah untuk berbincang dengan wali kelas. Diharapkan dengan komunikasi ini diketahui penyebab perubahan sikap pada anak dan segera dicarikan solusinya sebelum kejadian miris yang terjadi di sekolah-sekolah lain kembali terulang.

Penulis : Dina Rosyidha
Editor: Titik Kartitiani

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.