READING

Penyerangan Markas Pagar Nusa Hari Ini Tak Terbukt...

Penyerangan Markas Pagar Nusa Hari Ini Tak Terbukti

KEDIRI – Kepolisian Resor Kediri Kota memastikan tidak ada penyerangan markas Pagar Nusa oleh perguruan silat Setia Hati Terate (PSHT) hari ini. Provokasi yang dihembuskan di media sosial itu hanya ingin mengadu domba NU dan PSHT.

Kapolresta Kediri Ajun Komisaris Besar Anthon Haryadi memastikan kabar penyerangan markas Pagar Nusa di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri adalah hoax. Tak hanya memastikan situasi aman, polisi juga telah berkoordinasi dengan pimpinan PSHT dan Pagar Nusa untuk mencegah provokasi. “Broadcast di medsos itu hoax. Tidak ada aksi rencana penyerangan sama sekali,” kata Anthon Haryadi, Kamis 24 Januari 2019.

baca juga: Akhir Drama Hilangnya Wabup Trenggalek

Broadcast yang menyebar sejak satu pekan lalu di sejumlah platform media sosial cukup mengerikan. Berbunyi “Ojo Lali Dulur, 24 Januari 2019, Hitamkan Nganjuk Dan Acak-Acak Pusat Pagar Nusa Gasmi Di Lirboyo – Kediri”.

Meski sekedar hoax provokasi, namun polisi telah melakukan koordinasi dengan pimpinan PSHT dan Pagar Nusa, khususnya Gasmi. Gerakan Aksi Silat Muslimin Indonesia (GASMI) adalah organisasi yang mewadahi para pesiat Nahdlatul Ulama. Ketuanya adalah salah satu pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Badrul Huda Zainal Abidin atau Gus Bidin.

baca juga: Gerombolan Garasi Pencipta Imaji

Dalam pertemuan dengan kedua organisasi, Anthon memastikan tak ada satupun yang bertanggungjawab atas beredarnya pesan provokasi tersebut. Karena itu ketua PSHT cabang Kediri segera menginstruksikan kepada anggota melalui ketua ranting untuk mengendalikan diri. Langkah serupa juga dilakukan dengan berkomunikasi kepada Ketua GASMI di Ponpes Lirboyo.

Anthon melanjutkan, pertemuan itu juga ditindaklanjuti oleh Ketua PSH Terate Winongo Madiun Gus Khuluq, yang datang ke Lirboyo untuk bersilaturahmi kepada Gus Bidin. Diikuti pula perwakilan Pagar Nusa Kediri, Gus Muhtadi, kedua pihak sepakat untuk tidak merespon provokasi yang telah menyebar luas di media sosial.

Broadcast itu memang terbukti hoax. Hari ini situasi di lingkungan Pondok Pesantren Lirboyo Kediri tak menunjukkan tanda-tanda penyerangan sama sekali. Para santri tetap menunaikan kewajiban belajar tanpa terusik kabar penyerangan oleh pendekar PSH Terate. Bahkan hampir seluruh santri tak mengetahui tentang rencana aksi tersebut.

Ini lantaran aturan pesantren Lirboyo yang melarang santrinya memegang telepon atau mengakses internet. Sehingga broadcast yang menyebar melalui aplikasi media sosial tak berpengaruh apa-apa. “Tidak ada apa-apa di sini,” kata salah satu santri.

Sementara itu broadcast yang berisi ajakan penyerangan terhadap markas Pagar Nusa diduga masih terkait dengan bentrok kedua perguruan silat di Nganjuk pada Minggu 24 Juni 2018 lalu. Kedua massa terlibat bentrok saat berpapasan konvoi di Desa Batembat, Kecamatan Pace, Nganjuk.

Tak berhenti di situ. Meski Kepolisian Resor Nganjuk memastikan akan melakukan tindakan hukum kepada pelaku pembuat onar, hal itu tak mencegah para pendekar untuk menuntut balas. Polemik ini makin runyam setelah ditemukan sebuah atribut bergambar lambang organisasi Pagar Nusa dibakar orang tak dikenal. Situasi sempat kembali memanas meski pada akhirnya bisa diselesaikan polisi.

Ketua Umum Ikatan Pencak Silat Nahdlatul Ulama (IPSNU) Pagar Nusa Emha Nabil Haroen mengaku telah mengetahui broadcast provokasi tersebut. Nabil memastikan kabar tersebut sebagai hoax dan terus memantau dari Jakarta. “Itu provokasi yang tak ingin melihat para perguruan silat damai,” katanya kepada Jatimplus.ID.

Konflik antar pendekar yang terjadi selama ini, menurut Nabil, sebenarnya lebih banyak dipicu persoalan pribadi. Mereka yang bertikai kemudian membawa nama perguruan silat masing-masing dan berkembang menjadi pertikaian antar-perguruan. Apalagi kemudian aksi ini diikuti anggota perguruan silat lain sebagai bentuk solidaritas dan membela kehormatan lembaga.

Konflik anggota Pagar Nusa dengan anggota PSHT di lapangan menjadi contoh masih banyaknya kesalahpahaman pendekar akan arti solidaritas. “Karena itu, kami akan mengajak para pemimpin perguruan membuat kesepakatan bersama tentang cara menindak anggota yang terlibat pertikaian. Salah satunya menyerahkan kepada polisi,” tegasnya. (*)

print

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.