READING

Perempuan yang (Kembali) Mengenakan Kebaya

Perempuan yang (Kembali) Mengenakan Kebaya

Selasa Berkebaya merupakan gerakan yang akhir-akhir ini marak dilakukan di Jakarta. Mereka ingin kebaya kembali menjadi busana keseharian, menghapus imej bahwa berkebaya sungguh ribet. Tapi betulkah kebaya merupakan busana asli Indonesia?

Bagaimana mendefinisikan busana Indonesia? Akan susah sekali dalam satu kata. Sebagaimana Jepang punya kimono, India punya kain sari, Indonesia? Punya 34 busana bila dilihat dari jumlah provinsi yang ada. Busana ini bisa dilihat dalam busana adat pengantin yang sungguh berbeda dari Aceh hingga Papua. Sejumlah 34 busana itu pun akan ada variasi di satu provinsinya.

Di antara rentang busana yang beragam itu, ada satu yang memiliki kemiripan meski disajikan dalam cutting yang beragam, yaitu kebaya. Busana ini sekilas memang banyak dipakai oleh suku Jawa dan Bali, hanya sebetulnya, range pemakaiannya lebih luas. Rahmi Hidayati, sebagaimana yang ditulis Liputan6.com (21/04/2017) mengatakan bahwa hampir seluruh wilayah Indonesia mulai dari Aceh, Jawa, Bali, Nusa Tenggara sampai Kesultanan Tidore, para perempuannya memakai kebaya. Meski modelnya berbeda-beda, pakemnya tetap sama.

Kebaya pernah menjad busana keseharian perempuan Nusantara zaman dulu hingg tahun tahun 1990-an. Perempuan di Jawa baik kota maupun desa mengenakan kebaya baik di rumah maupun bepergian. Suasana seperti ini masih bisa kita saksikan di Bali. Hanya di tempat-tempat lain mulai jarang.

Kekhawatiran akan lenyapnya salah satu budaya Nusantara inilah memotivasi para perempuan di Jakarta,  lintas profesi untuk membangun Komunitas Perempuan Berkebaya (PB) pada tahun 2015. Jatimplus.ID menghubungi Rini Mertodiharjo, salah satu anggota Komuntas PB yang kerap mengunggah aktivitas berkebayanya di media sosial.

“Jadi pemikiran awalnya adalah kegelisahan. Kok kita itu sudah banyak yg meninggalkan pakaian ibu kita atau nenek kita. Jadi terus kumpul-kumpul dan membentuk komunitas. Aku sendiri ikut gabung sekitar pertengahan 2016,” kata Rini.

Anggota PB dalam keseharian ada yang memang mengenakan kebaya, bahkan ketika bekerja. Hal yang belum bisa dilakukan Rini sebab ia bekerja mengenakan seragam yang bukan kebaya. Di luar seragam, ia selalu mengenakan busana itu. “Karena aku suka berkebaya dan suka pakai kain jarik,” tambahnya.

Di Bali, perempuan masih mengenakan kebaya pada hari-hari biasa, apalagi pada upacara Ngaben seperti ini.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Titik Kartitiani

Mengembalikan Kebaya untuk Busana Keseharian

Pakai kebaya? Kan ribet. Demikian komentar perempuan pada umumnya sehingga kebaya mulai ditinggalkan salah satunya karena kepraktisan. Hal inilah yang ingin “diperjuangkan”oleh PB agar kebaya bisa dikenakan lagi dan mengembalikan kebaya sebagai pakaian untuk aktivitas sehari-hari.

Oleh sebab itu, PB tak hanya kumpul-kumpul syantik dan berkebaya, namun juga melakukan berbagai aktivitas. Beberapa kali BP bikin workshop. Dalam kegiatannya, Komunitas Perempuan Berkebaya ini harus berguna dan menambah pengetahuan anggota.  Jadi selain ketemuan santai, selalu ada sharing atau workshop,  misalnya workshop membatik, seminar tentang saham dari BEI (Bursa Efek Indonesia) dll. Semuanya dilakukan dalam kostum kebaya.

Bahkan kerap kali jalan-jalan di kota maupun ke alam, mereka mengenakan kebaya. Tujuannya untuk menunjukkan, berkebaya tetap bisa aktif sebagaimana nenek moyang kita dulu.

Komunitas ini pun tak hanya aktif mengunggah kegiatan mereka di media sosial, namun juga aktif mengampanyekan mengenakan kembali kebaya kepada khalayak. Salah satunya menginisiasi gerakan Selasa Berkebaya tahun ini. Dimulai dengan mengenakan busana dan berpose di MRT. Lalu perempuan-perempuan ini bekebaya di tempat umum dan tempat kerja. Kehadiran mereka cukup menarik perhatian. Pun ragam kebayanya. Tak hanya kebaya tradisional, namun juga dipadukan dengan kerudung dan jilbab.

Kebaya Asli Mana?

Tentang padu padan kebaya dengan kerudung dan jilbab ini, Jatimplus.ID menghubungi Didi Budiarjo, desain busana kenamaan yang kerap mendesain kebaya selain juga gaun-gaun khas Eropa. Ciri khas dari desain Didi khususnya untuk kebaya, biasanya terlihat simpel sebagaimana kebaya putih yang dikenakan Veronica Tan ketika mendampingi suaminya, Basuki Tjahaya Purnama dilantik menjadi Wagub DKI. Namun, Didi membuat detail yang menakjubkan dari kain kebaya yang hanya bisa dilihat jika dekat.

“Tentunya busana Nusantara sangat adaptif terhadap pengaruh luar,” kata Didi. Ia mengatakan bahwa ada teori dalam pelajaran sejarah bahwa nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari lembah Yunan . Dengan demikian Tiongkok salah satu pengaruhnya. Oleh sebab itu, sulit untuk mengatakan bahwa kebaya asli Indonesia.

Selain itu karena perdagangan, banyak pengaruh lain antara lain pedagang dari Gujarat, India (misalya dalam melipat kain menjadi wiron),  Portugis dalam kebaya renda dan lain-lain.  Sementara dalam teorinya, menurut Didi, kebaya ada yang mengatakan dari Bahasa Arab, “ka abaya”.

“Tapi what is a name? A rose is a rose anyway,” kata Didi. Artinya, apapun namanya, busana berbentuk kebaya sudah lama dikenakan di Nusantara bahkan sebelum nama Indonesia hadir.

Misalnya kebaya buka depan merupakan busana populer di Jawa tidak bisa dipungkiri lagi. Kebaya versi tertutup (baju kurung) banyak dipakai wanita luar Jawa. Di Jawa ada versi tertutup disebut janggan yang dikenakan para abdi dalem keraton hingga saat ini.

“Untuk saya pribadi, nihil novum sub solem, there is nothing new under the sun. Semua saling memengaruhi,” kata Didi.

Silang budaya dan sila nusa inilah yang kemudian menghasilkan kebaya masa kini yang ingin dipopulerkan kembali sebagai busana keseharian. Dalam keberagaman bentuk dan warna. Busana merupakan warisan kekayaan budaya. Jika tak ada yang mengenakan, maka akan hilang bagian dari tradisi ini. Sebab berbusana bukan sekadar tampilan namun juga cara berpikir (Titik Kartitiani).

Print Friendly, PDF & Email

Titik Kartitiani

sunset lover, traveler, writer, and fulltime dreamer :)

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.