READING

Peri Kecil Membuka Rahasia Batik Madura

Peri Kecil Membuka Rahasia Batik Madura

Di Madura, ilmu membatik seperti ilmu rahasia para “darah biru”. Darah para pembatik. Kalau tak punya nenek moyang pembatik, maka akan susah untuk mengetahui cara membatik. Seperti “dendam” untuk membagikan ilmu, ketika berhasil mengumpul ilmunya, maka Peri Kecil membukanya pada siapa saja yang ingin belajar.

BANGKALAN- Adalah Lestari Puji Rahayu atau yang akrab disapa Yayuk, pendiri Peri Kecil Batik di Kecamatan Burneh, Kabupaten Bangkalan, Provinsi Jawa Timur. Kini, workshop sekaligus showroom batik itu tak hanya melayani pembeli, namun juga siapapun yang ingin belajar membatik. Yayuk berprinsip, semua orang bisa membatik.  Mulai dari anak-anak SD hingga orang dewasa. Syaratnya adalah niat untuk belajar.

“Dulu satu orang pun saya layani. Bahkan dari satu kelas, datangnya satu-satu. Lama-lama tidak efektif karena workshop kami juga untuk produksi. Maka sekarang baiknya terjadwal dan rombongan agar kami bisa mendampingi optimal,” kata Yayuk.

Lestari Puji Rahayu (Yayuk), pendiri Peri Kecil Batik, di Kecamatan Burneh, Kabupaten Bangkalan.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Titik Kartitiani

Salah satu contohnya murid SD di Bangkalan menjadi pelanggan rutin pelatihan. Khususnya menjelang lomba membatik setiap tahun yang diadakan Pemkab Bangkalan. Mereka akan datang ke workshop Peri Kecil untuk belajar membatik. Selain itu, peserta umum baik mahasiswa dan orang dewasa.

Tak hanya untuk belajar membatik, Peri Kecil juga menjadi tujuan para mahasiswa dan peneliti untuk membuat studi tentang batik Madura. Yayuk melayani semua itu dengan senang hati. Kecintaannya pada batik yang selalu memberinya energi.

Pun energi untuk mengoleksi motif-motif lama. Memang, di Madura, hampir semua motif masih diproduksi hingga kini. Madura adalah “museum hidup” bagi batik madura. Meski sudah ada pengembangan di sana-sini sebab patern batik madura begitu longgar. Yayuk mengoleksi kain-kain lama yang motifnya belum dimodifikasi untuk belajar. Semua itu didanai dengan menyisihkan penghasilannya. Demi sebuah arsip yang mengisahkan perjalanan batik dan konteks pada zamannya. Yang kerap kali menjadi bahan para peneliti.

“Hanya kadang-kadang, mereka (para mahasiswa) datang tanpa bekal sama sekali. Masak kami yang harus mengajari? Hasil penelitiannya, kami tidak dikasih tahu. Paling tidak, meninggalkan arsip agar bisa dipelajari lebih luas,” sesal Yayuk. Demikian dinamika dari mimpi Peri Kecil untuk membuka pengetahuan tentang batik Madura. Mimpi yang dibayar begitu mahal oleh waktu, tenaga, dan tentu saja material.

Yayuk juga mengajari membatik untuk remaja di Kecamatan Tanah Merah, Kabupaten Bangkalan.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Titik Kartitiani

Para Penjaga Rahasia

Ketika Peri Kecil menutup toko, showroom itu menjelma ruang keluarga sekaligus ruang tidur. Sebuah pengalaman pahit ketika showroom-nya pernah dimasuki pencuri dengan kerugian puluhan juta. Akhirnya mereka sepakat, harus ada yang tidur di showroom, malah sekeluarga tidur di sana.

Menjelang lelap, Yayuk akan menemani Bening (11tahun), putri semata wayangnya dan suaminya, Mulat Nur Setyanto, main tebak tebakan motif batik yang dipajang di showroom. Bagi keluarga kecil itu, kisah batik pun menyertai kisah Bening tumbuh. Tak heran, Bening sudah beberapa kali menjuarai lomba membatik selain karena ia gemar menggambar. Semuanya dijalani Peri Kecil dengan proses panjang.

“Saya tidak punya turunan pembatik. Saya belajar membatik tidak langsung utuh semua prosesnya. Sedikit-sedikit saya kumpulkan sebab para pembatik di sini rata-rata tidak mau memberi tahu. Teman-teman pembatik tidak mau memberi tahu karena akan menjadi pesaing baru,” kenang Yayuk. Ia tak patah semangat.

Bermula pada tahun 2002, Yayuk menjadi pedagang batik. Ia menjual batik madura kepada pembeli di luar Madura. Hanya lama-lama ia merasa kurang. Jika hanya menjual batik, ia tak akan “naik kelas”. Mulailah ia belajar membatik.

“Mereka memberi tahu sedikit demi sedikit. Tidak dalam waktu singkat untuk tahu proses utuhnya,” kata Yayuk. Belajar dari Youtube juga dari pembatik di luar daerah, Yayuk tak mendapatkan pengetahuan secara utuh. Pengetahuan tentang tiap tahapan proses membatik ia kumpulkan. Pun pengetahuan tentang pewarna alam dan sintetis.

Sampai pada tahun 2009, ia mulai memproduksi batik. Bahkan ia pun menekuni batik pewarna alam yang tak banyak dilakukan di Madura. Hingga akhirnya, Peri Kecil berkembang sampai saat ini. Batik pewarna alam menjadi salah satu unggulan dari Peri Kecil meski tersedianya tidak banyak. Sebab pewarna alam butuh waktu lebih panjang dengan peminat yang sangat sedikit, khususnya para kolektor.

Tidak hanya hasil produksi Peri Kecil, showroom Peri Kecil juga menampung karya para pembatik yang lain untuk dijual. Ada puluhan pembatik yang menitipkan dagangannya di Peri Kecil. Tak hanya itu, Yayuk sempat mendapat pesanan sekaligus “tatangan” dari desainer nasional, Oscar Lawalata, untuk membuat batik khusus dengan tingkat kesulitan yang tinggi.

Proses pencelupan warna alam.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Titik Kartitiani

Ekosistem Batik, Menjadikan Harga Batik Madura Lebih Terjangkau

“Ilmu membatik bukan kita yang membuat. Kenapa tidak membaginya kepada orang lain?” katanya yang menjadikan alasannya untuk berbagi. Ia tak melihat pembatik lain sebagai pesaing. Justru semakin banyak orang yang bisa membatik, akan menciptakan ekosistem batik sehingga harga jualnya bisa terjangkau pembeli.

Perlu diketahui, batik bukan hanya sekadar motif namun juga sebuah proses pembuatan kain. Kain batik harus dibikin dengan malam. Baik malam yang dialirkan melalui canting maupun dengan cap. Bila tak menggunakan malam, maka bukan batik melainkan hanya kain motif batik atau printing.

Dalam proses membatik, dari mulai menyiapkan mori (ngethel) hingga mencelup warna, melibatkan banyak tenaga kerja. Di Bangkalan, eksosistemnya sudah terbentuk.

“Dalam satu rangkaian proses, tidak diselesaikan di bawah satu atap,” terang Yayuk. Ada satu keluarga yang hanya mengethel, ada keluarga lain yang hanya membatik, ada lagi yang mencelup warna. Masing-masing diupah murah per lembarnya namun pendapatan tidak turun. Sebab masing-masing mendapatkan order dengan jumlah banyak dan prosesnya lebih cepat.

“Itulah mengapa batik madura lebih murah dibanding batik daerah lain,” kata Yayuk. Peri Kecil pun bermain di harga Rp 50.000,-/lembar hingga jutaan. Meski banyak pembatik dan penjual, Peri Kecil tetap bertahan. Menurut Yayuk, ada tiga hal yang ditawarkan selain tentu saja batik dengan kualitas bagus.

Pertama, Peri Kecil berusaha memberikan pelayanan yang sebaik mungkin. Harga bisa sama, namun dengan pelayanan yang baik berharap pembeli akan jatuh hati.

Kedua, Peri Kecil selalu punya koleksi terbaru. Bila ada pelanggan yang datang, selalu ada hal baru baik motif dan warna yang ditawarkan. Batik madura memiliki spektrum luas dalam hal pola dan coraknya sehingga leluasa menciptakan kreasi. Memang awalnya, batik madura terkenal dengan warna-warna yang mencolok. Namun lama-lama, mereka juga bisa membuat warna-warna sogan tanpa meninggalkan kekhasan batik madura.

Terakhir, Peri Kecil tak hanya menjual batik namun juga mengajak belajar tentang batik. Orang tak harus bisa membuat batik, namun pengetahuan tentang batik akan memberikan kain yang dikenakan lebih bermakna.

Product knowledge yang mungkin tak dimiliki pembatik lain. Saya belajar tentang ini bertahun-tahun menjadi sesuatu yang saya anggap bisa menjadi nilai jual. Orang membeli batik tak hanya untuk dipakai, tapi juga untuk diketahui,” kata Yayuk.

Product knowledge memang hanya bisa disampaikan pada orang yang betul-betul mempelajari. Yayuk dan dua asistennya akan dengan senang hati menjelaskan baik tentang motif, karakter warna, karakter goresan, dan karakter isian dari setiap lembar kain. Pembeli yang memiliki rasa ingin tahu akan terpuaskan di sini.

Selembar batik madura yang dibawa pulang akan mengisahkan tentang narasi pulau Madura. Bahwa pulau yang terdiri dari 4 kabupaten yaitu Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep memiliki batik masing-masing. Khusus di Bangkalan, ada dua sentra yang terkenal yaitu Tanjung Bumi dan Patenteng. Tempat terakhir ini, meski memiliki kekhasan, sudah tidak memproduksi lagi.

Meski keempat kabupaten itu memiliki batik yang khas, semua cukup dinamai batik madura. Hanya para kolektor yang akan lebih detail untuk melihat dari asalnya. Meski sebetulnya, tiap daerah pun saling terkait. Dalam satu lembar kain terkadang pembuatannya di Tanjung Bumi namun pewarnaannya di tempat lain. Semua itu tetap merangkum kisah tentang Madura.

print

Titik Kartitiani

sunset lover, traveler, writer, and fulltime dreamer :)

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.