READING

Peringati Hari Santri Nasional, Ponpes di Kediri B...

Peringati Hari Santri Nasional, Ponpes di Kediri Berbagi Resep Melawan Radikalisme

KEDIRI- Islam merupakan agama yang jauh dari kekerasan, kekejaman dan kelaliman. Seperti yang terfirman dalam QS. Al Anbiya:107, Islam hadir sebagai rahmat untuk semesta alam. Begitulah inti pesan bedah buku Fiqih Kebangsaan 2 dalam rangka peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2019  di Pondok Pesantren, Al Amien, Ngasinan Kelurahan Rejomulyo Kota Kediri.

Di acara yang bekerjasama dengan PCNU Kota Kediri dan Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbuparpora) Pemkot Kediri itu, hadir langsung tim Lembaga Bahtsul Masail (LBM) Himpunan Alumni Santri Lirboyo (Himasal) selaku penyusun buku.

 “Ibarat air, Islam justru menyejukkan bagi siapa saja yang dialirinya, ”terang Ahmad Muntaha AM, salah satu penulis sekaligus menjadi pembicara. Kerahmatan Islam bukan hanya untuk para muslim. Dalam kitab Al Ibriz Lima’lifatil Quranil Aziz Bil Lughotil Jawiyyah, KH Mustofa Bisyri “berhujjah” bahwa kasih sayang Nabi Muhammad SAW juga mengalir kepada siapapun termasuk masyarakat non-muslim.

Umat Islam bisa melihatulang gambaran rahmatan lil alamin pada sejumlah peristiwa perang zaman Rasulullah. Mulai kejadian Piagam Madinah, peristiwa Hudaibiyah, hingga Fath Makkah atau pembebasan Kota Mekah. “Di era saat ini, seorang Muslim juga diperintahkan untuk peduli lingkungan, alam dan binatang. Tidak hanya antar manusia saja, ”tambahnya.

Namun dewasa ini ada juga sekelompok muslim di Indonesia yang memahami konsep Islam dengan tafsir yang beda yang itu sekaligus menimbulkan kerancuan. Mereka bersikap sangat keras terhadap umat lain dengan QS. At Taubah: 5 yang di dalamnya menyebut seorang Muslim berhak membunuh kaum musyrikin ketika sudah habis bulan-bulan Haram saat itu, sebagai dasar.

Padahal ayat tersebut tidak seharusnya ditelan mentah-mentah. Karena ayat tersebut hanya berisi perintah membunuh di suatu masa yakni ketika sudah habisnya bulan-bulan Haram. Tidak ada penjelasan keharusan membunuh karean alasan kekufurannya.

Makanya kemudian turun QS. Al Mumtahanah: 8 sebagai jawaban yang menyebut “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.

Dari pesan yang begitu gamblang itu, Imam Al Hakim pun menjelaskan dalam kitab Al Mustadrak ‘ala Ash-Sholihain bahwa Allah memberi perintah memerangi orang-orang musyrik jika mereka mengobarkan peperangan terlebih dahulu. Bukan karena mereka tidak mengimani Islam.

“Karena pada dasarnya Islam tidak bisa dipaksakan seperti yang tertuang dalam QS. Al Baqarah:256 ,” bebernya.

Agama juga berkait erat dengan kehidupan bernegara. Imam Al Ghazhaliy dalam karyanya Ihya’ ‘Ulum ad-Din menganalogikan agama dan negara sebagai saudara kembar. Agama sebagai pondasi dan negara sebagai penjaganya.

“Negara harus bisa menjaga kebebasan warga negaranya untuk bisa menjalankan ibadah sesuai keyakinannya. Untuk semua agama yang diakui. Tidak hanya satu agama saja, ”tegasnya

Islam merupakan agama pertama yang menganut konsep kebebasan beragama. Dan negara pun telah mengejawantahkan kedalam UUD 1945, yakni pasal 28E dan 28I tentang Hak Asasi Manusia, dan pasal 29 tentang agama, serta tercantum dalam TAP MPR tentang pancasila, UU ketenagakerjaan hingga KUHP.

Sebagai WNI ada kewajiban menjalankan amanah undang-undang dan falsafah yang sudah dibuat. Penerapan  amar makruf nahi mungkar tidak berlangsung sembarangan. Pelaksanaanya harus proporsional sekaligus tidak menimbulkan kemungkaran yang lebih besar, termasuk tidak menjatuhkan wibawa pemerintah serta tidak gegabah memvonis kufur pihak-pihak tertentu.

Adanya motivasi negatif  yang biasanya menjadi faktor pemicu kesalahan, seperti riya’, salah memaknai sebuah perintah agama, termakan berita hoaks, memiliki ambisi kekuasaan, fanatisme buta dan memiliki bibit kebencian sejak awal.

“Dampaknya bisa menimbulkan perpecahan, kegaduhan, pembodohan dan merusak citra agama itu sendiri,  “tandasnya.

KH. Anwar Iskandar, pengasuh Ponpes Al Amien mengatakan, Fiqih Kebangsaan 2 ini cukup penting untuk dibedah. Ini agar para santri yang nantinya menjadi calon-calon kiai bisa memahami Islam dan kehidupan bernegara dengan benar.

“Negara ini bukan negara agama. Jadi sistemnya kebangsaan bukan yang lain, ”terangnya usai memberikan sambutan.

Sebagai calon pemimpin, para santri harus faham sejak dini. Bahwa yang perlu diperangi bukan ideologi pancasila, namun radikalisme, liberalisme hingga komunisme yang mengancam Pancasila. Jika tidak memahami ini dengan baik,  ia khawatir akan mudah terpapar oleh radikalisme dan menjadikan panutan yang salah.

“Ini bagian dari cara pesantren, cara NU dalam menjaga negara, ”tandasnya.

Tidak hanya para santri ponpes Al Amien, beberapa elemen masyarakat juga hadir. Mulai dari anggota Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Kota Kediri, OSIS-OSIS dan lembaga swadaya masyarakat. Hadir pula Dr. KH. Abdul A’la. M. Ag. Guru besar UIN Sunan Ampel Surabaya sebagai pembanding. (Adv)

Reporter : Dina Rosyidha
Editor : Mas Garendi

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.