READING

Peristiwa 27 Juli Diperingati Warga Kota Kediri

Peristiwa 27 Juli Diperingati Warga Kota Kediri

KEDIRI – Tanggal 27 Juli terekam sebagai salah satu hari paling kelam dalam sejarah Indonesia, khususnya Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P). Namun di Kediri, peristiwa 27 Juli justru menjadi hari paling menggembirakan.

Insiden yang terjadi di kantor DPP PDI Jalan Diponegoro 58 Jakarta pada tanggal 27 Juli 1996 memang mengerikan. Ratusan bahkan ribuan kader PDI menyerang kantor mereka sendiri untuk mengambil alih kepemimpinan ketua umum Megawati Sukarnoputri. Mereka adalah massa pendukung Soerjadi yang terpilih menjadi ketua umum partai hasil Kongres PDI di Medan.

Video dokumenter yang merekam peristiwa itu menggambarkan betapa dahsyatnya penyerbuan tersebut. Massa menyerang dengan brutal kawan-kawan mereka sendiri yang bertahan di dalam kantor DPP. Bentrok fisik tak terelakkan, meski hingga kini jumlah korban dalam peristiwa itu tak pernah pasti.

baca juga: Asyiknya Menikmati Sensasi Petik Strawberry di Telaga Sarangan

Sejarah menyebut peristiwa itu sebagai Kudatuli, yang merupakan akronim dari kerusuhan 27 Juli. Hingga kini para aktivis PDI-P masih mengingat peristiwa tersebut.

Di Kota Kediri, peristiwa 27 Juli juga diingat oleh masyarakat. Bedanya, kenangan 27 Juli di kota ini justru menggembirakan sebagai hari lahir Kota Kediri. Prasasti Kuwak yang mengisahkan sejarah peradaban Kota Kediri menyebut hari lahir Kediri jatuh pada tanggal 27 Juli 879 Masehi.

baca juga: Bocah 11 Tahun di Tulungagung Teridentifikasi Gay

Hari ini, Sabtu 27 Juli 2019, warga Kota Kediri merayakan hari lahir mereka yang ke-1140. Untuk menghormati leluhur, pemerintah daerah setempat menggelar ritual kebudayaan Manusuk Sima. Sebuah perpaduan kultur Hindu dan Islam yang dipercaya menjauhkan malapetaka bagi masyarakat.

Bertempat di area Taman Tirtoyoso, Walikota Kediri Abdullah Abu Bakar dan para tokoh pemerintah serta masyarakat mengikuti ritual ini. Menanggalkan kostum dinas yang dipakai sehari-hari, mereka mengenakan pakaian adat berwarna dasar ungu yang menjadi ikon Kota Kediri.

baca juga: Upaya Polda Jatim Mengatasi Polisi Obesitas

Lokasi taman diubah sedemikian rupa hingga menyerupai nuansa kerajaan. Demikian pula para seniman yang memerankan abdi kerajaan dan menarikan tari tradisional. Taman Tirtoyoso dipilih sebagai lokasi ritual karena diyakini menjadi lokasi penemuan Prasasti Kuwak yang mengungkap lahirnya Kota Kediri pada 27 Juli 879 M.

Ritual Manusuk Sima ditandai dengan pembacaan mantera dan pembakaran kemenyan oleh sang makudur atau sesepuh adat. Selanjutnya dilakukan pemotongan ayam cemani atau ayam hitam, yang disambung memecah telur dan menaburkan abu. Ritual ini mengandung makna sebagai pengingat siapapun yang berani melanggar kehendak alam akan mendapat malapetaka.

Usai melakukan prosesi ritual, sang makudur melantunkan doa kepada Tuhan YME agar melindungi masyarakat Kota Kediri dari mara bahaya. Ritual ini ditutup dengan pembacaan Prasasti Kuwak yang berisi sejarah Kediri sebagai tanah perdikan Kerajaan Solo. Karena itu tanggal 27 Juli ditetapkan sebagai hari peringatan lahirnya Kota Kediri.

baca juga: Jika Pertemuan Megawati – Prabowo di Kediri Nasi Gorengnya Akan Lebih Gurih

Dalam momen tersebut, Abdullah Abu Bakar –atau biasa disapa Mas Abu- menyampaikan harapan-harapan besar bagi Kota Kediri. “Kediri telah mengalami banyak transformasi,” katanya.

Dimulai dari penetapan Kediri sebagai ibukota kerajaan, kemudian berkembang dengan memiliki dermaga kapal, Kota Kediri tumbuh menjadi kota dagang dengan relasi Bangsa Arab, Cina, Malaka dan Nusantara.

Transformasi berikutnya terjadi di bidang ekonomi, dimana manufaktur lama yaitu pabrik gula disusul oleh industri rokok yang mengantarkan kota ini menjadi berbasis jasa. “Dari berbagai transformasi ini, yang harus kita syukuri bersama adalah kisah dari perjalanan panjang Kota Kediri yang selalu membawa perubahan dan membawa kebaikan untuk masyarakat,” ujar Mas Abu.

Naskah : Hari Tri Wasono
Foto : Humas Pemkot Kediri

Print Friendly, PDF & Email

Hari Tri Wasono

Freelance journalist | Press freedom is ur freedom

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.