READING

Perjalanan Moeldoko, dari Kediri hingga jadi Pangl...

Perjalanan Moeldoko, dari Kediri hingga jadi Panglima, Pernah Tak Mampu Beli Sepeda

Sama seperti tata wicara seorang jenderal, tegas dan apa perlunya. Hanya, selalu ada sisi-sisi lain ketika menyusuri perjalanan hidup yang kadang terang dan kerap kali redup. Jatimplus.ID menyajikan kisah putra Kediri hingga menjadi panglima.

SURABAYA- “Sengaja, setiap mengawali presentasi di depan mahasiswa, saya akan menampilkan ini. Betapa hebatnya saya,” kata Jenderal TNI (Purn) Dr. Moeldoko ketika membuka kuliah umum bertema Menjadi Pemenang pada Era Revolusi Industri 4.0 di Universitas Airlangga, Surabaya, Sabtu, 10/08/2019.

Di hadapan 6000-an mahasiswa baru, pada acara Pengukuhan Mahasiswa Baru Sarjana dan Vokasi Tahun Ajaran 2019, Moeldoko “menyombongkan diri”, tepatnya memberi motivasi pada para mahasiswa berdasarkan pengalaman riilnya. Perjalanan karir Moeldoko dari awal hingga menjadi panglima TNI dan kini sebagai Kepala Staf Kepresidenan RI.

Moeldoko di hadapan 6000-an mahasiswa baru UNAIR.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Titik Kartitiani

“Setiap memberi kuliah di perguruan tinggi selalu saya tampilkan ini (CV-red), memang sengaja. Saya ingin mengajak anak-anak saya untuk menjadi orang yang hebat,” kata Moeldoko lantang yang disambut tepuk tangan gemuruh para mahasiswa.

Setiap perjalanan selalu memiliki catatan. Di balik orang-orang hebat, tentu ada kisah hebat yang tak selamanya mulus. Kebanyakan berdarah-darah dan jatuh bangun. Demikian pula yang dialami Pak Jenderal ini.

Tak Mampu Beli Sepeda

“Saya dilahirkan di kampung kecil, anaknya orang yang nggak punya. Kuliah nggak bisa. Mungkin kalau saya bisa kuliah,saya tidak jadi jenderal,” selorohnya. Hadirin tertawa.

Moeldoko lahir pada tanggal 8 Juli 1957 di Kediri, tepatnya di Desa Pesing, Kecamatan Purwoasri. Sebuah kecamatan yang terletak paling pinggir di Kabupaten Kediri, berbatasan dengan Kertosono (Kabupaten Nganjuk), hampir dekat dengan Jombang. Sebuah kecamatan yang tak punya penanda kecuali bentangan sawah dan ladang yang menyuplai pangan bagi warga Kabupaten Kediri dan sekitarnya.

Usai memberikan kuliah, seorang mahasiswi baru mengajak berswafoto.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Titik Kartitini

Hal yang sama hingga puluhan tahun berselang, sehingga kelak ketika Moeldoko muda naik bus, kerap kebablasan karena ketiduran. Kisah ini akan menjadi ide lahirnya sebuah masjid besar, Masjid Islamic Centre Dr. H. Moeldoko.

Moeldoko dilahirkan di tengah keluarga yang tak berkecukupan untuk bisa sekolah sesuai keinginan. Putra bungsu dari 12 bersaudara pasangan Moestaman dan Masfu’ah. Ayahnya seorang Jogoboyo dengan bengkok yang tak terlalu luas untuk menghidupi 12 anak (8 anak yang hidup). Namun semangat yang mengalahkan keadaan. Hal ini dibuktikan oleh Sang Jenderal.

“Saat SMP orang tua saya mau belikan sepeda tidak bisa. Tahun-tahun itu hidup sangat sulit,” kenang Moeldoko. Ia bersekolah di SMP N Papar, cukup jauh bila ditempuh dengan jalan kaki.

Kepala Sekolah yang Percaya pada Siswa Keras Kepala

Kemudian ia meneruskan sekolah di SMA Negeri 2 Jombang. Moeldoko mengaku bukan sebagai siswa yang menonjol. Rata-rata sebagaimana murid lainnya. Pada saat penjurusan, Moeldoko masuk jurusan IPS.

Jatimplus.ID mendapatkan keterangan dari staf kepresidenan tentang kisah ini. Ketika masuk IPS, awalnya tak menjadi soal. Saat itu, bahkan ingin menjadi apa pun ia tak terpikir. Melihat keadaan orang tua, yang terbayang melanjutkan profesi orang-orang di desanya. Terjun ke sawah dan menjadi petani kecil dengan lahan seadanya.

Sampai kemudian, desanya kedatangan seorang tentara yang menarik perhatian Moeldoko muda. Moeldoko terpesona dengan penampilan tentara tersebut. Terbersitlah cita-cita untuk menjadi tentara dengan masuk Akmil. Hanya saja, saat itu, jurusan IPS tak bisa masuk Akmil.

Dengan keberaniannya, ia memohon izin kepala sekolah untuk memindahkan di jurusan IPA. Tentu saja kepala sekolah tak berkenan, sebab ia sudah sesuai dengan kualifikasi masuk IPS. Moeldoko bersikeras dan memberi jaminan. Andai dalam satu catur wulan ia tak bisa mengikuti kelas IPA, maka ia akan rela dikembalikan ke IPS.

Demikianlah, keputusan kepala sekolah untuk percaya pada murid yang keras kepala menjadi pintu awal perjalanan Moeldoko. Ia masuk IPA dan bisa mengikuti pelajaran seusuai janjinya. Dari sanalah ia masuk berhasil masuk Akmil.

Di Akmil, Moeldoko mengukir prestasi. Tahun 1981, ia menjadi lulusan terbaik dan mendapatkan Adhi Makayasa dan Tri Sakti Wiratama. Adhi Makayasa merupakan penghargaan yang diberikan langsung oleh presiden pada lulusan terbaik.

Nggak gampang mendapatkannya. Berdarah-darah tentunya,” kenangnya yang disambut tepuk tangan para mahasiswa. Prestasi demi prestasi pun diukir di jalur militer. Mulai dari Sesko AD Terbaik tahun 1995, Sesko TNI Terbaik tahun 2001 (Karmil), Strategi Perang Semesta Terbaik 2007, dan Lemhannas Terbaik 2008.

Moeldoko, lulusan terbaik Akmil tahun 1981.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Titik Kartitiani

Pretasi itu pun diikuti dengan jabatan bergengsi yang dipercayakan negara kepada Moeldoko. Mulai dari Panglima Daerah Militer Tanjungpura, Panglima Daerah Militer Siliwangi, Wakil Gubernur Lemhannas RI,  Kepala Staf TNI AD, Panglima TNI, dan kini menjabat sebagai Kepala Staf Kepresidenan RI.

Dalam hal pendidikan non militer, Moeldoko terus melanjutkan jenjang yang lebih tinggi. Tahun 2001 menyelesaikan S-1 di Universitas Terbuka. Kemudian S-2 di Universitas Indonesia 2005, dan S-3 di Universitas Indonesia 2014. Ketika menyebut UI, para mahasiswa pun kembali bersorak memberikan tepuk tangan.

Moeldoko mengatakan bahwa menurut prediksi, Indonesia akan menjadi negara nomor ke-4 dalam bidang ekonomi pada tahun 2045. Ia menyemangati, jika kini usia mahasiswa baru berusia sekitar 19-20 tahun, maka pada 2045 akan berusia 45-an. Usia matang saat seseorang memegang amanat negara.

“Indonesia adalah milik kalian. Semua dari kita memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi apapun, di mana pun. Teman-teman yang dari Papua, kalian bisa jadi apapun dan di mana pun,” kata Moeldoko. Ia mengatakan berdasarkan pengalamannya. Hal yang nyaris tak mungkin diraihnya ketika masih muda dan dengan segala keterbatasan.

 Ia pun memberi selamat kepada 860-an mahasiswa yang masuk UNAIR melalui Bidik Misi. Sebuah kesempatan yang diberikan negara untuk membantu mahasiswa berprestasi dengan latar perekonomian yang tak mencukupi.

Pemimpin Umum Jatimplus.id Hari Tri Wasono (sebelah kiri atas) dalam sebuah kesempatan makan malam di kediaman pribadi Kepala Staf Kepresidenan RI Moeldoko.

Masjid Moeldoko, Menandai Sebuah Pemberhentian

Kisah di atas disajikan Moeldoko sebelum memberikan materi kuliah umum. Sebuah latar belakang dari sisi yang kerap tak tersampaikan ketika menjalankan tugas negara. Pun bakti yang diberikan Moeldoko selain jabatan formalnya. Ia banyak berbuat untuk masyarakat. Salah satunya sebuah masjid yang menjadi penanda di Jombang.

Jatimplus.ID mendapat kisah dari seorang staf yang kerap mendengar kisah-kisah lain dari Sang Jenderal kesehariannya di istana. Masjid itu, selain dibangun memang bertujuan untuk memberi sarana ibadah umat Islam, ada kisah lain yang menarik.

Ketika masih di sekolah, Moeldoko kerap naik bus dari Jombang atau Surabaya ke Kediri dan kerap keblasan karena ketiduran. Kondektur pun tak membangunkan karena tak ada penanda khusus tempat ia turun. Akhirnya, ia bercita-cita kelak akan membangun sebuah penanda.

Masjid Moeldoko, sebagai penanda sebuah pemberhentian.
FOTO: Dok. Twitter @Moeldoko

Pada tanggal 5 Oktober 2014, Masjid Islamic Centre Dr. H. Moeldoko mulai dibangun hingga selesai 1 Juni 2016. Sebuah masjid berasitektur Turki terletak di  Jln. Raya Kayen, Dusun Kayen, Kecamatan Bandar Kedung Mulyo, Kabupaten Jombang. Moeldoko tak membangun masjid di tempat yang lebih ramai sehingga kalau dihitung-hitung, akan lebih banyak penggunanya.

Namun ia memenuhi janji pada dirinyanya, untuk memberi penanda sebuah jalur panjang tanpa kesan. Ia membuat tanda sebuah pemberhentian penumpang bus yang melewati rutenya dahulu. Kini, ketika bus mendekati Jl Raya Kayen, maka kondektur akan berteriak: masjid…masjid…masjid! Penumpang yang lelap pun tak lagi kebablasan.

Mungkin, salah satu penumpang yang lelap itu, kelak akan menjadi jenderal (Titik Kartitiani).

Print Friendly, PDF & Email

Titik Kartitiani

sunset lover, traveler, writer, and fulltime dreamer :)

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.