READING

Perlawanan Baru Triyanto Untuk Para Koruptor Blita...

Perlawanan Baru Triyanto Untuk Para Koruptor Blitar

Rabu sore 10 Juli 2019 menjadi hari bersejarah bagi Moh Triyanto. Aktivis Komite Rakyat Pemberantas Korupsi (KRPK) Blitar itu kembali menjadi manusia merdeka. Hukuman 6 bulan atas dakwaan pencemaran nama baik Bupati Blitar Rijanto selesai dijalaninya.

BLITAR- Dahinya menyentuh permukaan aspal jalan. Berbalut jaket kulit hitam dan topi warna senada yang menjadi ciri khasnya, Triyanto langsung sujud syukur. Kepalanya terbenam khusyuk. Cukup lama untuk tidak beranjak. Sementara orang orang yang sejak pagi menanti kebebasannya, terus mengerumuninya.

“Saya sekarang kembali jadi manusia bebas, “kata Triyanto usai menyudahi sujudnya. Triyanto terlihat terharu. Begitu keluar dari pintu gerbang Lapas Klas II B Blitar, matanya terlihat berkaca kaca. Beberapa kali air mata itu diusapnya.

Ditengah kerumunan massa itu tampak istrinya. Wanita berjilbab yang tidak pernah absen membezuk ke penjara. Selama enam bulan, setiap hari tanpa putus. Terlihat juga para aktivis KRPK, yakni organ pemberantas korupsi jaringan ICW Jakarta yang dinahkodainya.

Terlihat para petani, buruh, anak jalanan, guru honorer serta mahasiswa. Semua menyambut kebebasannya. Yel yel pun tidak berhenti bersahutan. Riuh. “Hidup rakyat, hidup petani, hidup buruh, hidup mahasiswa”. Sebuah megaphone diulurkan. Piranti aksi massa yang sudah satu semester tidak disentuhnya.  

“Penjara tidak pernah mengecilkan nyali kita. Tidak menyurutkan langkah kita untuk memerangi para koruptor, “tegas Triyanto dalam orasinya yang langsung disambut sorak sorai. 

Triyanto didakwa mencemarkan nama baik Bupati Blitar. Dia mengunggah informasi pemanggilan Bupati Blitar Rijanto oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di akun facebooknya. Ternyata informasi yang dia peroleh dari komunikasi via WhatsApp itu tidak benar.

Pada 10 Januari 2019 saat melakukan wajib lapor, Triyanto tiba tiba ditangkap dan langsung ditahan. Dalam persidangan hakim menjatuhkan vonis 6 bulan penjara dan pada 10 Juli 2019 dinyatakan bebas.  Namun hingga kini pemberi informasi dan pembuat surat palsu KPK tidak pernah ditangkap. “Bagi saya di lapas ini seperti mondok (di pesantren). Karena banyak pelajaran yang saya dapat, “katanya.

Begitu selesai orasi tubuh kerempeng Triyanto diangkat dan dipanggul. Dia diantarkan pulang dengan long march beramai ramai. Sebelum menuju rumah, Triyanto dibawa ke sungai. Dibersihkan. Sebelum masuk rumah, oleh ibunya disiram air kembang sebagai bentuk ritual Jawa membuang segala sial.

“Saya bangga dengan kawan kawan semua yang hingga kini masih menjaga garis perjuangan, “ungkap Triyanto. 

Pertanyakan Korupsi Yang Macet

Tamu yang datang silih berganti. Karena ruangan yang ada tidak cukup, tamu yang datang mengelompok dengan sendirinya. Sebagian duduk di kursi teras. Sebagian lagi berada di ruang tamu. Mulai petani, buruh, guru honorer dan anak jalanan. Ada juga politisi dan sejumlah unsur birokrasi.

Sebagian besar bertujuan ngretakke, mengucapkan selamat atas kebebasannya dari penjara. Diatas meja tamu tampak cangkir cangkir kopi yang belum lama disuguhkan. Kemudian sepiring besar jeruk serta makanan ringan. Sebagai tuan rumah, Triyanto melayani tamu tamunya dengan hangat.

“Sejak di dalam penjara sampai saya bebas, kawan kawan terus berdatangan. Itu yang membuat saya tidak pernah merasa jatuh dan sendirian, “ungkap Triyanto. Dua bocah kecil wira wiri diantara para tamu. Kadang diam, ikut mendengarkan. Kadang berlari sambil tertawa tawa. Dengan para tamu terlihat akrab.  

Keduanya putra Triyanto. Kedua bocah yang masih duduk di bangku sekolah dasar itu tidak tahu ayahnya baru saja bebas dari dipenjara. Sejak awal memang tidak pernah tahu. Setahu mereka, ayahnya sedang sibuk mengurusi pencalonan anggota dewan perwakilan daerah (DPD).

Saat ditahan atas kasus pencemaran nama baik Triyanto terdaftar sebagai calon anggota DPD Jawa Timur tahun 2019. Hanya saja nasibnya belum beruntung. Dalam pemilu serentak dirinya hanya mengantongi dukungan kurang lebih 500 ribu suara.

“Sampai sekarang dua anak saya yang kecil tidak tahu permasalahan yang menimpa orang tuanya. Memang sengaja tidak diberitahu. Karena usianya memang masih anak anak, “tutur Triyanto. Namun berbeda dengan putra sulungnya yang saat ini tengah menempuh pendidikan sekolah taruna di Magelang.

Sejak awal ditetapkan tersangka dan kemungkinan besar ditahan, putra sulung Triyanto tidak pernah merasa kecil hati. Dia memahami resiko yang selalu mengintai ayahnya. Bahkan si sulung, kata Triyanto terus menyemangatinya. Kisah perjalanan orang orang besar, para tokoh bangsa, menjadi teladan. 

Bung Karno pernah ditahan. Bung Hatta pernah ditahan. Begitu juga dengan Sjahrir atau Nelson Mandela. Dan api perjuangan mereka tidak pernah padam. Mereka tetap melawan kesewenang wenangan. “Katanya lagi, seorang aktivis belum paripurna disebut aktivis kalau belum pernah mencicipi sel tahanan, “seloroh Triyanto sembari tertawa.

Selama di dalam sel lapas Triyanto hidup bersama 16 orang narapidana lain. Beragam kasusnya. Mulai perkara pembunuhan, pencurian sampai penipuan. Kendati demikian semua itu tidak menganggu rutinitas Triyanto, yakni terutama membaca buku. Tidak ada yang berubah. Buku buku itu dikirim para pembezuk. Selama di penjara Triyanto menerima kunjungan 50-100 orang per hari.

Melalui para pembezuknya juga, koordinasi gerakan KRPK terus dilakukan. Triyanto terus meng update isu di luar. Termasuk mengetahui kasus dugaan korupsi mana yang saat ini sedang diproses atau jalan di tempat. “Minggu depan kita akan aktif  kembali, “ungkapnya.  

 Sejumlah berkas telah disiapkan. Diantaranya kasus dugaan korupsi KONI tahun 2015 di Kabupaten Blitar. Ada 12 anggota DPRD yang diduga ikut menikmati aliran dana. Sejumlah anggota legislatif sudah dimintai keterangan. Penyidik kepolisian berulangkali berdalih keputusan akan diambil setelah gelar perkara. Namun sampai sekarang tidak ada jluntrungnya.  

“Kasus KONI ini akan kita pertanyakan lagi, “kata Triyanto. Selain itu juga kasus dugaan penyelewengan keuangan di Dinas Pendidikan Kabupaten Blitar tahun 2012. Sebanyak lima orang pimpinan dinas sudah ditetapkan tersangka. Namun hingga kini tidak pernah ditahan. Bahkan beberapa diantaranya masih aktif menjabat sebagai kepala dinas. “Semuanya akan kita bongkar, “tegasnya.  

Bagaimana dengan kasus surat palsu KPK?. Kasus itu kata Triyanto juga akan dia pertanyakan kelanjutannya. Sampai dirinya selesai menjalani hukuman enam bulan penjara, polisi tidak juga menangkap pembuat surat palsu KPK. Padahal pemberi informasi pertama tentang adanya surat KPK yang kemudian diketahui palsu itu sudah dimintai keterangan.

Jika memang tidak diungkap, Triyanto menduga kasus surat palsu KPK sengaja hendak dijadikan monumen misteri. “Dan jangan salahkan masyarakat jika berfikir dalam penanganan kasus itu diduga terjadi konspirasi dan permainan elit kekuasaan, “tegas Triyanto.

Meski menegaskan tidak pernah berubah dan akan terus memerangi koruptor, Triyanto mengaku akan lebih berhati hati. Terutama untuk informasi yang masuk akan lebih disaring lagi. Dia belajar dari kasusnya sendiri dimana dugaan permainan konspirasi terlihat kental.

Sisi postifnya Triyanto mengaku semakin tahu mana yang selama ini benar benar kawan segaris perjuangan dan mana yang pura pura menjadi kawan. “Saya tidak dendam. Tapi saya tidak akan pernah lupa, “katanya yang hingga kini terus berjejaring dengan para aktivis anti korupsi di Jakarta. (Mas Garendi)

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.