READING

Pertama Kalinya Pilkades di Banyuwangi Gunakan Sur...

Pertama Kalinya Pilkades di Banyuwangi Gunakan Surat Suara Braille

BANYUWANGI- Baru pertama kalinya surat suara berbasis huruf braille dipakai dalam pemilihan kepala desa.

Penggunaan di pesta demokrasi level desa diklaim masih satu satunya di Indonesia. Dan Desa Tamanagung, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi sebagai pelopornya.

“Khusus disabilitas ada template huruf braille untuk surat suara. Mereka bisa menggunakan template itu untuk menentukan pilihannya,“ tutur Eko Hariyono wakil ketua pemilihan kades Tamanagung.

Dibuat Manual

Daftar pemilih tetap (DPT) di Desa Tamanagung sebanyak 7.366 jiwa. Sembilan pemilik suara diantaranya merupakan penyandang tuna netra yang secara politik memiliki hak yang sama.   

Penggunaan surat suara braille di pilkades, awalnya dianggap nyaris mustahil. Sebab selama ini hanya dipakai dalam perhelatan pilkada kabupaten/kotamadya, pemilihan gubernur, pemilu legislatif, dan pilpres.

Itupun yang mengadakan Komisi Pemilihan Umum. Namun pihak Desa Tamanagung tidak menyerah. Bagi mereka penyandang tuna netra harus tetap mendapat hak politiknya.

“Sebab hanya dengan surat suara braille penyandang tuna netra lebih mudah menyalurkan haknya,“ terang Eko Hariyono. Surat suara braille diproduksi sendiri secara manual dengan menggunakan kertas jenis glossy.

Adalah pasangan suami istri Windoyo dan Indah Catur Cahyaningtyas, aktivis Aura Lentera Banyuwangi yang ditunjuk sebagai  tim tehnis pembuatan surat suara braille.  

Aura Lentera merupakan lembaga pendamping sekaligus advokasi para penyandang disabilitas. Sejak tahun 2008, KPU dan Bawaslu kerap menggandeng Aura Lentera untuk kebutuhan sosialisasi.

Karena fungsinya diraba, pada permukaan kertas braille buatan Windoyo dan Indah terdapat enam titik simbol yang diantaranya memuat nama desa dan calon kepala desa. Huruf braille sendiri merupakan huruf simbol, bukan huruf timbul.

“Awalnya kami menggunakan print, tapi belum maksimal, karena kertas untuk braille sendiri tidak ada di Indonesia, harus pesan ke luar negeri,” tutur Indah.

“Namun kami bersyukur karena akhirnya semua itu bisa disiasati dengan pengerjaan manual,“ tambahnya saat ditemui di rumahnya di Jl. Agus Salim Taman Baru Banyuwangi.

Sebelum dinyatakan siap pakai, sebanyak 9 surat suara braille itu diuji sekaligus disimulasikan selama dua hari. Hasilnya lolos uji. Kendati demikian saat proses  pencoblosan, penyandang tuna netra tetap didampingi.

Windoyo merasa senang, adanya surat suara braille membuat penyandang tuna netra bisa terlibat langsung dalam pilkades. “Harapannya, ini memberikan ruang bagi para tuna netra bisa terlibat langsung,” ungkapnya.

Reporter : Widie Nurmahmudy
Editor : Mas Garendi

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.