READING

Pesan Anak anak Munir Untuk Presiden Jokowi

Pesan Anak anak Munir Untuk Presiden Jokowi

Jasad Munir Said Thalib sudah 15 tahun terkubur. Namun dalang pembunuh pejuang Hak Asasi Manusia (HAM) itu, belum juga ditangkap.

Pemuda itu bernama Soultan Alief Allende. Salah satu mahasiswa di perguruan tinggi negeri di Kota Malang. Nama Allende mengingatkan pada Salvador Allende, pejuang demokrasi Chile karib penyair terkemuka Pablo Neruda.

Meski berarti pemimpin yang gagah, sejak kecil Alief jarang dipanggil Allende. Mungkin karena dia anak pertama, dan “Alief” merupakan awal aksara hijaiyah, orang orang di sekelilingnya, termasuk orang tua dan adiknya, lebih suka memanggilnya demikian (Alief).

Alief putra sulung Munir, pejuang HAM yang setiap tanggal 7 September kematiannya dikenang semua orang. Mereka yang sekaligus menggugat kapan dalang pembunuh sang pejuang bisa diungkap secara gamblang.

Meski sudah berjalan 15 tahun, peristiwa kematian itu, bagi Alief masih begitu membekas.“Masih terpukul dan sedih,“tuturnya saat hadir di acara talk show Kompas TV beberapa hari lalu.

“Kehilangan seseorang yang benar benar penting.Tokoh nyata yang membangun. Dihilangkan begitu saja dengan cara yang tidak manusiawi, “sambungnya dengan kalimat terbata bata.

Dengan racun arsenik yang konon mampu membinasakan dua ekor gajah, abah Alief dihabisi. Diatas ketinggian lebih dari 40 ribu kaki, di dalam pesawat yang membawanya menuju Belanda, Munir menghembuskan nyawa.

Peristiwa kematian itu seperti baru saja terjadi kemarin sore. Alief terdiam. Memang, tidak terlihat cucuran air mata. Namun setiap berucap, suara pemuda yang sulit mengucap huruf “R” itu terdengar bergetar.

Duka itu masih begitu terasa.Seorang abah yang tiba tiba direnggut paksa dari sisinya. Abah yang jenaka, yang selalu melucu ketika dirinya marah, yang selalu menyempatkan waktu untuk mengantarnya pergi ke sekolah, kini tidak lagi menemaninya.

“Saya pernah menangis karena tidak ketemu mencari rumah teman. Tiba tiba abah masuk kamar dan keluar pakai kerudung, sambil bilang, aku temenmu lif, “kenangnya.

Diusia yang baru berjalan enam tahun, Alief menjadi seorang yatim. Disaat itu Diva Suukyi Larasati, adiknya masih berumur 2,5 tahun. Diva kini duduk di kelas tiga SMA.

Diusia yang dia tahu kehidupan adalah abah, ibu serta adiknya, Alief melihat rumahnya mendadak didatangi banyak orang.

Wajah wajah yang sebagian pernah dilihatnya. Di dalam rumah dia melihat ibunya menangis, kerabatnya menangis, orang orang mengucap duka cita sembari berurai air mata.

Diluar rumah dia menyaksikan banyak karangan bunga. Saat itu jalan Diponegoro 169, Kelurahan Sisir, Kota Batu, dibanjiri ribuan orang. Mereka yang menyatakan duka cita itu mengular dari jalan sampai rumah duka. Panjangnya kurang lebih satu kilometer.

Spanduk dan bendera yang bertuliskan duka muncul dimana mana. Bahkan sebagai bentuk bela sungkawa, Imam Kabul, Wali Kota Batu saat itu, menginstuksikan pengibaran bendera setengah tiang selama tujuh hari.

“Munir milik semua, “kata Deddy Prihambudi, adik angkatan sekaligus kolega Munir di LBH Surabaya seperti dilaporkan Tempo Desember 2014.

Di karangan bunga itu, Alief  yang sejak usia satu tahun divonis dokter menderita autis, bisa membaca kalimat bela sungkawa. Namun nalarnya belum memahami apa itu kematian.

Yang Alief tahu abahnya melanjutkan sekolah ke Amsterdam Belanda. “Pertanyaan gugatan pertamanya (Alief) kepada saya, kenapa ada tulisan berduka cita?. Bukannya abah sekolah?, “kata Suciwati istri Munir yang juga ibu Soultan Alief Allende.

Dalam kondisi hati yang remuk, namun berusaha untuk tetap tegar, Suciwati berusaha menjelaskan serasional mungkin. Penjelasan yang bisa dimengerti pikiran anak anak. Dikatakan kepada putra sulungnya bahwa abahnya tidak akan pernah kembali lagi.

Berharap Dalang Pembunuh Abah Ditangkap

Sebuah film pendek berjudul Payung Biru diputar. Pada menit awal hingga sepanjang tayangan, selalu menampilkan visual seorang anak yang kemana mana  membawa payung berwarna biru.

Meski hujan tidak sedang jatuh, payung terus dibentangkan. Di luar kelas, di dalam kelas, dimanapun si bocah berada, selalu  terbentang dengan sebagian wajah tersembunyikan.

Film itu garapan Soultan Alief Allende. Film yang bercerita tentang anak yang menutup diri dari lingkungan sosial karena beban yang menghimpitnya. Termasuk beban kehilangan seorang ayah di masa kecil. 

“Anak di dalam itu bisa jadi saya sendiri, “kata Alief. Rasa kehilangan membuat pemuda yang mengenakan kaos hitam dengan siluet merah gambar wajah abahnya itu (Munir) menjadi pribadi yang tertutup.

Disisi lain menjadi anak seorang Munir baginya juga tidak mudah. Di kampus yang sama dengan abahnya, Alief kerap mendengar pergunjingan dirinya dibanding bandingkan dengan abahnya.

Gunjingan kenapa dirinya tidak seperti Munir yang aktif di pergerakan mahasiswa, terdengar seperti tuntutan. Mengetahui hal itu, sebagai seorang ibu, Suciwati selalu mengatakan Alief harus menjadi diri sendiri.

“Kamu harus jadi diri sendiri. Senyamannya, “tutur Suciwati menenangkan. Sedikit berbeda dengan Diva Suukyi Larasati  yang kini telah duduk di bangku kelas tiga SMA.

Nama Suukyi terinspirasi dari Aung San Suukyi, wanita pejuang  demokrasi asal Myanmar. Putri bungsu Munir ini terlihat periang dan lebih tegar. Sebagai adik, Diva begitu biasa disapa, selalu berusaha menjadi pengobat duka kakaknya.

“Berusaha membuat kakak tertawa. Menunjukkan sesuatu yang lucu lucu. Kadang berhasil, kadang tidak. Kalau gagal, saya biasanya yang menangis, “tutur Diva ringan. Saat kehidupan abahnya direnggut paksa, Diva masih berumur 2,5 tahun.

Meski belum memiliki nalar yang panjang, Diva kecil sempat bertanya kepada Suciwati, ibunya. “Kenapa abah dibunuh?”. Satu pertanyaan yang membuat ibunya syok. Melihat wajah ibunya yang masygul dan tidak segera menjawab, Diva kecil buru buru memeluk dan berbisik, “Jangan sedih bu”.

Sebagai bentuk bela sungkawannya sastrawan Goenawan Mohamad, secara khusus mengirimkan sepucuk surat untuk Alief dan Diva. Surat yang bercerita tentang abah Alief dan Diva  sebagai manusia hebat dan baik. Surat yang akan dibaca kelak saat keduanya sudah menginjak usia 17 tahun.

“Sekarang saya 17 tahun, “kata Diva menanggapi perihal surat itu. Menurut Diva, saat itu dirinya mendengar orang orang pada berbisik tentang pembunuhan. Di rumah yang dibanjiri pelayat itu, telinga bocahnya menangkap pembicaraan abahnya telah dibunuh. Karenanya kata yang asing (pembunuhan) itu kemudian dia pertanyakan.

“Sejak tahu ibu bersedih, saya kemudian tidak bertanya lagi, “kata gadis yang disebut banyak orang memiliki garis wajah mirip abahnya (Munir).

Sebagai anak yang telah kehilangan seorang bapak, Diva berharap kasus yang merenggut nyawa abahnya bisa diusut tuntas. Tidak hanya pelaku lapangannya. Negara melalui Presiden Joko Widodo diharapkan bisa menangkap dalang dari peristiwa pembunuhan itu.  

“Tolong ya Pak Jokowi, ditangkap pelakunya dan dihukum, “harapnya. Harapan senada diungkapkan Alief yang berharap Presiden Jokowi mengusut tuntas kasus pelanggaran HAM, yakni terutama yang menimpa abahnya.

Suciwati, istri munir, ibu dari Alief dan Diva terlihat tegar. Hingga hari ini dirinya terus berjuang mengungkap dalang pembunuh suaminya. Jika negara bersedia jujur mengutamakan keadilan dan kebenaran, pengungkapan kasus Munir menurutnya tidak sulit dilakukan.

“Sebenarnya kasus Munir mudah. Kalau mau jujur membawa keadilan dan kebenaran diutamakan, “katanya. (Mas Garendi)

print

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.