READING

Dituding Tak Perawan, Pesenam SEA GAMES 2019 Kapok...

Dituding Tak Perawan, Pesenam SEA GAMES 2019 Kapok Jadi Atlet

KEDIRI- SAS (18) sudah tidak lagi menempati mess pusat pelatihan senam lantai di Gresik. Semua barang miliknya telah ia kemasi, dan untuk sementara waktu pindah ke sebuah rumah kos kosan di Gresik.

Menurut Ayu Kurniawati, putri sulungnya sudah empat hari tidak masuk sekolah. SAS memilih mengurung diri dalam kamar. Ia belum siap bertemu teman temanya di SMAN 01 Kebomas Gresik.

Pengeluaran paksa dari tim senam lantai  SEA GAMES 2019 dengan tuduhan sudah tidak perawan masih membuatnya terguncang. Tuduhan yang hanya didasarkan hasil interogasi karena ia memiliki pacar, belum bisa ia terima.

“Kami terima kalau dikeluarkan karena alasan indispliner. Embel embel tidak perawan itu yang kami tidak terima,” tutur Ayu Kurniawati saat ditemui di rumahnya di Kelurahan Lirboyo, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri.

Dalam curhatnya kepada Ayu, SAS beberapa kali mengutarakan keinginannya pindah sekolah. Putri pasangan Satrio Utomo dan Ayu Kurniawi itu merasa sudah tidak kerasan berada di  lingkungan lamanya dan ingin segera pulang ke  Kota Kediri.

“Ia ingin pindah sekolah ke Kediri. Itu yang saat ini sedang kami fikirkan,“ katanya.

SAS mengenal senam lantai sejak kelas dua sekolah dasar. Bakatnya menonjol. Karena melihat itu, sejak kelas 4 SD KONI Jawa Timur merekomendasikannya pindah ke pusat pelatihan senam (Persani) di Gresik.

Demi cita cita menjadi atlet, keluarga rela melepasnya. Di usia 10 tahunan SAS tinggal di mess pelatihan dan praktis jauh dari keluarga di Kediri. Hal itu berlangsung sampai ia duduk di kelas 3 SMA.  

“Kami biasanya menjenguk sebulan sekali. Atau waktu libur dia yang pulang ke Kediri,“ papar Ayu.

Di luar kegiatan sekolah hari hari SAS  habis hanya untuk latihan dan latihan. Di bawah pelatih yang menempanya dengan disiplin keras ia berhasil membuktikan diri sebagai atlet unggulan.

Medali emas di Kejurnas Jambi disabetnya. Kemudian juga perunggu di kejuaraan olahraga Asian School 2017 di Singapura. Setidaknya 49 medali dari kejuaraan tingkat daerah dan nasional berhasil ia kumpulkan.

Sejumlah medali yang diraih atlet senam SEA GAMES 2019 asal Kota Kediri yang dipulangkan paksa karena tuduhan tidak perawan. FOTO :JATIMPLUS.id/mas garendi

Sebagai atlet asal Kota Kediri, SAS telah mengharumkan nama Kediri. Sebagai warga Jawa Timur, ia juga membuat bangga Provinsi Jawa Timur. Begitu juga sebagai bangsa Indonesia.

Menurut Ayu, anaknya dua tahun menjadi atlet Pelatda dimana setiap bulan mendapat honor Rp 4 juta dari negara. Baru baru ini SAS masuk ke dalam tim pelatnas yang disiapkan berlaga di ajang SEA GAMES 2019 Filiphina.

“Selama dua bulan ini (Oktober dan November 2019) sebagai pelatnas, mendapat gaji Rp 6 juta setiap bulan,“ ungkapnya.

Namun impian menjadi atlet yang terus mengharumkan nama bangsa dan negara itu rontok setelah pelatih meminta Ayu menjemput pulang SAS karena alasan sudah tidak perawan.

Pelatih yang menghubunginya via telepon itu bernama Zahri. Disampaikan bahwa selaput dara SAS robek seperti bekas diperkosa. Selain itu, bang Zahri begitu biasa dipanggil, juga mengatakan SAS berpacaran dan kerap pulang malam.

Di depan Ayu, SAS mengakui memang memiliki pacar. Namun hubungan asmara itu ia jalani tanpa mengindahkan batas norma. “Anak saya juga sempat meminta ke pelatih untuk dilakukan uji keperawanan, namun ditolak,“ katanya.  

Melihat kenyataan itu Ayu tidak menyerah. Ia menghubungi  Indra Sabarani, penanggung jawab atlet Persani Jawa Timur, dan mengatakan tudingan tidak perawan itu tidak memiliki dasar medis.

Atas seizin Zahari, Ayu juga membawa putrinya ke dokter kandungan RS Bhayangkara Kediri untuk uji keperawanan. Hasilnya, selaput dara SAS masih utuh.

Namun hasil tes RS Bhayangkara Kediri itu ditolak Indra Sabarani yang kemudian meminta dilakukan tes ulang di RS Petrokimia Gresik. Ayu langsung menolak.  

Sebagai ibu yang melahirkan ia tidak rela alat vital anaknya kembali dimasuki alat yang itu menurut SAS menyakitkan. Dengan ditolaknya hasil tes RS Bhayangkara Ayu justru merasakan ada sesuatu yang ganjil.

Ia mengatakan legowo jika pemulangan anaknya didasarkan atas alasan indisipliner. “Tapi kalau alasan tidak perawan itu menyakitkan. Sebab anak ini memiliki masa depan yang panjang. Nama baik anak saya ini harus dikembalikan,“ ungkapnya.

Selain malu, SAS juga sudah terlanjur patah hati. Kepada Ayu, remaja putri itu mengatakan hanya ingin menuntaskan sekolah, lalu mencari pekerjaan. Impiannya menjadi atlet sudah ia kubur dalam dalam.    

Karenannya kalaupun diberi kesempatan kembali lagi di tim pelatnas, SAS akan menolak. “Anaknya sudah menyatakan tidak mau lagi menjadi atlet. Sudah tutup buku,“ tutur Ayu dengan mata berkaca kaca.

Seperti diketahui, sejumlah pihak menyesalkan pemulangan SAS karena alasan tidak perawan. KONI Kota Kediri tidak tinggal diam dan berupaya membawa persoalan ke Gubernur Jawa Timur.

Sementara Imam Mukhlas, kuasa hukum SAS mengatakan pihaknya telah mengirim surat pengaduan kepada Presiden Joko Widodo, Kemenpora, KONI dan Persani. Imam mengatakan kalau memang yang menjadi alasan pemulangan karena indispliner, kenapa pelatih harus mengeluarkan pernyataan kliennya tidak perawan.

Anehnya lagi saat pihaknya mempertanyakan alasan virginitas, pihak pelatih berkelit dan buru buru berdalih pengeluaran SAS karena indispliner. “Kalau memang alasannya indispliner, kenapa menyampaikan alasan virginitas?“ tanya Imam. (Mas Garendi)

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.