READING

Pingin Tahu Kopi Jegidik? Silahkan Datang Ke Jomb...

Pingin Tahu Kopi Jegidik? Silahkan Datang Ke Jombang

Jombang – Begitu lidah pasar memberi penilaian tinggi kepada biji kopi yang terfermentasi kotoran luwak, varietas kopi baru pun tercipta. Civet coffee. Kopi luwak. PR pertama yang muncul, stok pasar harus terjaga. Karena lidah pasar luar negeri juga menyukainya. Tentu petani kopi tidak bisa selamanya bergantung dari perburuan tai luwak yang berserakan di bawah batang Arabica. Sejumlah pelaku usaha kopi  pun berfikir melokalisir luwak.

Mamalia liar itu dikandangkan dan secara rutin diberi makan biji kopi. Begitulah kira kira ikhwal perjalanan kopi luwak mulai dari produksi manual hingga pabrikasi. Di Kabupaten Jombang, yakni tepatnya di Desa Panglungan, Kecamatan Wonosalam, cerita perjalanan menyerupai kopi luwak tengah dimulai. Di kawasan perkebunan kopi disana, para petani tengah mengembangkan varietas baru yang bernama Excelsa Jegidik.

Apa itu?. Excelsa atau Coffe Dewevrei adalah jenis kopi yang tumbuh di dataran rendah. Daur tumbuh kembang hingga berbuah kopi ini hanya 4-5 tahun. Sedangkan Jegidik adalah binatang sejenis tupai. Jika di dunia kafein dikenal ada empat hewan penghasil kopi nikmat, yakni Luwak (Indonesia), Gajah Dung (Thailand), Kera (Taiwan) dan Burung Jacu (Brazilia), sepertinya Jegidik perlu dimasukkan yang kelima.

Proses fermentasi yang terjadi di kopi Jegidik serupa dengan Kera. Biji kopi yang dihasilkan berasal dari muntahan Jegidik, yakni kopi matang yang dagingnya telah hilang bercampur enzim cairan ludah. Produk alam itu yang dikumpulkan para petani Wonosalam. “Ini binatang sejenis tupai. Kopi dimuntahkan setelah daging buah kopinya dimakan, “tutur Sampiyo petani Wonosalam seperti dikutip dari Indonesiatimes.co

Untuk mendapat produksi rutin kopi Jegidik, sejumlah petani juga memiara Jegidik. Binatang liar itu dikrangkeng dan rutin diberi makan buah kopi. Kendati demikian perburuan muntahan Jegidik di kebun kopi tidak juga berhenti. Seperti apa rasa kopi Jegidik?. Sampiyo berupaya melukiskan sesuai kemampuannya. Begitu air mendidih menimpa bubuk kopi Jegidik, kata dia bau harum khas, sontak meruap.

Begitu juga dengan rasanya. Tidak sama dengan kopi kopi yang sudah bernama. “Yang pasti lebih nikmat. Lebih mantap, “ungkapnya tanpa maksud berpromosi. Meski memiliki potensi menjadi pesaing kuat kopi Luwak, varietas kopi Jegidik masih membutuhkan pengembangan pasar. Strategi pengenalan produk hingga ketersidaan stok masih menjadi PR bersama.

Wakil Bupati Jombang Sumrambah berharap besar kopi Excelsa produksi pegunungan Wonosalam bisa menjadi ikon daerahnya. Jombang tidak hanya dikenal sebagai Kota Santri. Ke depan, dengan Excelsa Wonosalam, Jombang bisa menjadi daerah penghasil kopi yang layak dicicipi. “Kopi Wonosalam, kopi Excelsa harus menjadi bagian promo dari produk Kabupaten Jombang, ‘janjinya. (*)

Print Friendly, PDF & Email

  1. […] ditulis jurnal Appetite dan dipublikasikan indy100.com menemukan korelasi antara kecintaan terhadap kopi hitam dan kecenderungan sadis atau […]

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.