READING

PLTS Wali Barokah Kediri: Menangkap Matahari, Mema...

PLTS Wali Barokah Kediri: Menangkap Matahari, Memanen Energi yang Ramah Bumi

Sudah saatnya, mengubah sumber energi dari yang tak terbarukan menjadi sumber energi terbarukan yang lebih hemat dan ramah lingkungan. Dengan PLTS, sebuah pondok pesantren di Kota Kediri bisa menghemat hampir separuh abonemen listrik untuk pondok yang menaungi 4000 orang santri. Penghematannya mencapai Rp 60-an juta/bulan. Hemat dan menjadi tempat belajar alih teknologi.

KEDIRI- Heri Purwanto, teknisi, berada di ruangan Inverter Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Pondok Pesantren Wali Barokah, Kecamatan Kota, Kota Kediri, Jawa Timur. Siang itu, awal November 2019, kepada Jatimplus.id, Heri menunjukkan layar monitor yang menggambarkan arus listrik masuk dari PLTS dan arus listrik yang keluar (dipakai) di area pondok pesantren. Tergambar di sana, jumlah arus listrik yang masuk dan yang dipakai real time.

“Biasanya kalau sudah jam 3 sore, baterai akan penuh,” kata Heri. Baterai penuh artinya ketika matahari terbenam, listrik yang tersimpan di baterai bisa digunakan.

Ruang inventer merupakan ruang untuk mengubah arus DC dari sel surya menjadi arus AC yang bisa digunakan untuk keperluan sehari-hari. Secara sederhana alur PLTS di Ponpes Wali Barokah dimulai sel surya yang dipasang di atap (rooftop) menerima sinar matahari. Kemudian sel surya ini mengubah sinar matahari menjadi arus DC yang dialirkan ke inverter. Instalasi inverter mengubah arus DC menjadi arus AC yang masuk ke meteran listrik atau bisa langsung digunakan (on grid). Lainnya mengalir ke baterai (off grid) untuk memenuhi kebutuhan listrik ketika malam hari.  

Heri menjelaskan, PLTS Rooftop Wali Barokah menggunakan sistem gabungan on grid dan off grid. Sistem on grid tidak perlu menggunakan baterai. Hingga saat ini, haga baterai untuk sel surya masih tinggi dan membutuhkan perawatan khusus. Perkara baterai ini kerap kali menjadi kendala bagi PLTS di pulau-pulau terpencil. Sebab harus memesan dulu di perusahaan luar negeri.

Namun kelemahannya, PLTS on grid tak bisa menyimpan arus listrik sehingga PLTS tak berfungsi pada malam hari sehingga tetap menggunakan pasokan listrik dari PLN.

Ruang inverter di bawah atap sel surya, tempat pemanatauan arus sekaligus mengubah arus DC menjadi AC. FOTO: JATIMPLUS.ID/Adhi Kusumo

“Kami menggunakan sistem hibrid, jadi gabungan on grid dan off grid. Baterai yang kami punya sebanyak 40 baterai,” kata Ronny Gadhafi Fatah, tim pengelola PLTS.  

Dengan sistem ini, PLTS ini mampu menghemat 40% abonemen listrik yang dibayarkan ke PLN. Ponpes yang menampung 4000-an orang santri ini membayar listrik antara Rp 130jt-Rp 140jt/bulan.

Tempat Belajar tentang Perubahan

“Kalau dihitung secara ekonomi, PLTS ini akan BEP setelah 5 tahun,” kata K.H. Soenarto, Ketua Ponpes Wali Barokah. Ia mengatakan, total biaya pembuatan instalasi PLTS ini mencapai Rp 10 milyar. Dana tersebut berasal dari iuran warga LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) dan sumbangan dari para alumni ponpes yang punya keinginan agar ponpes maju. Tak hanya soal pendidikan namun juga ponpes turut serta dalam perubahan sumber energi.

“Kalau pakai batu bara terus pasti akan habis. Kalau energi matahari, hanya akan habis kalau kiamat tiba,” kata Soenarto. Kerap kali listrik dari PLN mati. Bila sudah mati, genset yang digunakan dengan biaya yang tak sedikit. Pun tak bisa menutupi semua kebutuhan listrik.

Sebagian besar listrik dari PLN masih menggunakan batu bara sebagai bahan bakarnya. Bahan bakar fosil merupakan sumber energi tak terbarukan selain juga tak ramah lingkungan. Ponpes merasa perlu untuk turut andil dalam perubahan teknologi untuk mengatasi krisis energi sekaligus menjaga bumi ciptaan Allah SWT.

Ide itu terealisasi pada Oktober 2018 ketika PLTS ini mulai beroperasi. Sejumlah 638 lembar sel surya terpasang di atap gedung ponpes setinggi 17m. Masing-masing sel surya berukuran 42x46m dengan berat 23kg. Oleh sebab itu, untuk memasang sel surya ini di atap, dibangun konstruksi baja terlebih dahulu sehingga mampu menampung berat total lebih dari 14,7 ton. Sedangkan untuk kemiringan atap agar optimal menerima sinar matahari, bangunannya sudah tepat, tak perlu diubah.

Listrik dibutuhkan oleh 4000-an santri yang belajar di Ponpes Wali Barokah.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Adhi Kusumo

“Kediri punya waktu penyerapan efektif 5,4 jam. Termasuk lama,” tambah Heri. Dengan paparan sinar matahari tersebut, instalasi PLTS ini mampu menghasilkan 250.000 watt/hari. Sementara kebutuhan ponpes rata-rata sebanyak 394.000 watt/hari.

Memang belum mencukupi secara keseluruhan. Namun “keberanian” ponpes untuk membangun PLTS ini mampu memberikan makna, tak hanya soal mencukupi kebutuhan energi dan penghematan namun juga memiliki dampak sosial.

Soenarto menjelaskan, banyak tamu singgah ke Ponpes Wali Barokah untuk melihat dan studi banding. Mulai dari sesama pengelola pondok, instansi pemerintah, dan juga swasta untuk melihat dan belajar. Ponpes Wali Barokah menjadi tempat edukasi khususnya soal energi terbarukan.

“Hal seperti ini yang tak bisa dinilai dengan uang,” kata Soenarto.

Saking seringnya dikunjungi selama setahun ketika PLTS ini mulai beroperasi, akhirnya tim PLTS memiliki alur yang rapi untuk membawa para tamu. Mulai dari alur kedatangan dengan melakukan perjanjian terlebih dahulu. Setelah datang ke ponpes, tim PLTS akan memandu mulai dari mengenakan helm pengaman, naik ke ruang inverter, hingga ke lokasi sel surya. Jam kunjungannya pun sudah diatur sedemkian rupa sehingga aman bagi pengunjung yaitu maksimal pukul 17.00 WIB.

Bila berkunjung pada pagi dan sore, pengunjung akan bisa menyaksikan pembersihan sel surya yang dilakukan setiap hari. Petugas pembersihan ini dilengkapi dengan pengaman untuk bekerja di ketinggian.

Ponpes Wali Barokah menjadi tempat studi banding tentang PLTS.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Adhi Kusumo

Merawat Panel Surya di Ketinggian

Menapak bagian atap sel surya itu, hamparan Kota Kediri terlihat jelas. Di bawah menara ponpes, petugas kebersihan melakukan tugasnya ketika matahari belum terik. Pagi pukul 06.00-08.00 WIB dan sore pada pukul 15.00-17.00 WIB. Badannya terikat sit harness untuk memastikan keamanannya.

“Setiap hari, satu petugas ini hanya mampu membersihkan satu blok ini,” kata Ronny menunjukkan satu blok yang terdiri dari beberapa panel dan dibatasi oleh trek baja untuk akses. Esok harinya pindah ke blok sebelahnya, sehingga tiba giliran di blok awal kira-kira 10 hari kemudian.

Menurut pengalaman Ronny ketika melakukan perawatan PLTS ini, polusi udara ternyata sangat berpengaruh dalam perawatan. Bila ingin memasang sel surya dalam jumlah yang besar, perhatikan sekeliling apakah ada sumber polutan yang menghasilkan polusi udara selain debu.

“Kalau debu, disiram air sudah bersih. Tapi kalau ada polutan lain yang menyebabkan debu melekat di permukaan, ini akan menjadi masalah tersendiri,” tambah Ronny. Petugas kebersihan harus ekstra sehingga waktu lebih lama. Sel surya harus dalam keadaan bersih sehingga bisa menangkap sinar matahari optimal.

Tentang perawatan, selain kebersihan, Heri menambahkan tentan baterai. Ada dua baterai yang umum digunakan yaitu baterai basah dan kering. Baterai basah memerlukan ketelatenan untuk mengecek agar tak rusak. Memang lebih praktis dengan baterai kering, hanya harganya lebih mahal.

Instalasi PLTS hingga kini dirasa masih mahal sebab masih mengandalkan pasokan impor, baik sel surya dan baterainya. Padahal, pemerintah sebetulnya sudah punya target untuk memanen listrik dari sel surya sebanyak 6,5 gigawatt-peak (GWp) pada tahun 2025.

Dalam Peraturan Presiden Nomor 22 Tahun 2017 tentang Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) menyebutkan adanya kewajiban agar bangunan pemerintah memasang panel surya minimal 30 persen dari luar atap yang dimiliki. Selain itu, bangunan rumah mewah, kompleks perumahan, dan apartemen wajib memasang panel surya minimal 25 persen dari luas atap yang dimiliki.

Setidaknya, ponpes ini sudah memulainya dengan swadaya. Ketika meninggalkan atap dan turun melalui tangga darurat, terlihat bagaimana listrik tak bisa dipisahkan dari ponpes ini. Bukan hanya untuk penerangan di malam hari, namun kegiatan belajar mengajar pun tak lepas dari listrik. Selain itu, lebih jauh lagi, masuk ke dalam dapur ponpes tempat ribuan piring nasi dimasak setiap hari.

Bila pasokan listrik dari PLN terhenti (listrik mati) beberapa jam saja, rantai produksi ini akan terganggu. Ribuan orang terganggu maka ponpes harus menyalakan genset. Kini, satu masalah itu teratasi, genset tak lagi digunakan. Selebihnya, ponpes berencana untuk memperluas lagi panel surya ini (Titik Kartitiani).

Print Friendly, PDF & Email

Titik Kartitiani

sunset lover, traveler, writer, and fulltime dreamer :)

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.