READING

Polemik Wisma Persebaya, Kompetisi Internal Jadi K...

Polemik Wisma Persebaya, Kompetisi Internal Jadi Korban

SURABAYA – Mess Karanggayam adalah tempat yang cukup bersejarah bagi perjalanan Persebaya Surabaya. Bangunan bernama Wisma Eri Irianto tersebut menjadi saksi kejayaan Green Force –julukan Persebaya- di persepakbolaan Indonesia.

Sejak didirikan sekitar tahun 1970-an, gedung yang beralamat di Jalan Karanggayam No.1 tersebut menjadi rumah bagi tim Persebaya. Bahkan di tempat inilah kompetisi internal yang menjadi pilar utama lahirnya banyak pemain bintang terus digulirkan.

Bejo Sugiantoro, Anang Ma’ruf, Uston Nawawi adalah beberapa di antara pemain hebat pada masanya yang dilahirkan di Lapangan Karanggayam. Termasuk Andik Vermansah, Evan Dimas Darmono, Hansamu Yama Pranata, yang kini menjadi andalan Tim Nasional Indonesia.

Namun, Sabtu (22/06) sore, kompetisi yang sudah menjadi tradisi dalam melahirkan banyak pemain bintang di Surabaya itu, tidak bisa digulirkan. Pertandingan antara Indonesia Muda (IM) dengan Untag Rosita terpaksa ditunda hingga waktu yang belum ditentukan.

Penyebabnya, Wisma yang diresmikan penggunaannya oleh Wali Kota Surabaya, Dr. H. Poernomo Kasidi pada 25 April 1993 silam, diambil alih oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya. Ruang organisasi dan pintu yang menghubungkan ruang utama dengan lapangan, dikunci.

”Status pertandingan otomatis dibatalkan, karena perangkat sudah siap, pemain juga sudah siap, tapi sampai jam yang sudah ditentukan pintu tidak dibuka,” kata Sekretaris Persebaya Amatir, Supriyono.

Sebenarnya, Pemkot Surabaya melalui Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko), Eri Cahyadi, pernah berjanji akan membuka kembali ruang organisasi dan akses menuju lapangan setelah penyegelan. Tetapi, janji Eri hanya tinggal janji.

”Saya sebagai sekretaris Persebaya Amatir kecewa karena dengan adanya hal ini, pertandingan untuk pembinaan pemain muda Surabaya yang nantinya bisa menjadi pemain Tim Nasional dan pemain Persebaya akan terhenti. Kita juga enggak tahu sampai kapan,” tambahnya.

Kekecewaan juga diungkapkan pelatih Indonesia Muda, Seger Sutrisno,legenda Persebaya ini, mempertanyakan kenapa tiba-tiba mess ditutup. Padahal banyak tersimpan trofi hasil perjuangan pemain Persebaya yang turut menjadi kebanggaan Kota Pahlawan.

”Saya terkejut juga kecewa, padahal ini aset bertahun-tahun, belum ada mess sampai ada mess,” jelas pelatih yang mengantarkan Persebaya U-18 menjuara Piala Soeratin 2018 tersebut.

Seger berharap segera ada solusi, sehingga masalah tersebut tidak berkepanjangan. Dan yang paling penting, kompetisi internal kembali bisa digulirkan sebagai wadah pembinaan para talenta muda di Kota Surabaya.

Raut kecewa juga tampak di wajah Ariel Sharon, jauh-jauh datang dari Dukuh Pakis ke Wisma Persebaya untuk bertanding, tapi lapangan tidak bisa dipakai karena digembok. Padahal Ariel bersama rekan-rekannya sudah bersiap dengan seragam lengkap.

Pemain Indonesia Muda itu sebelumnya tidak tahu bahwa ada masalah di Wisma Persebaya. Dia datang hanya untuk bermain dan mengembangkan talentanya, agar bisa mengikuti jejak seniornya yang sukses di Liga Indonesia.

”Harapannya semoga kompetisi internal bisa berlanjut lagi, agar kami bisa menyalurkan bakat bermain bola,” harap Ariel.

Para orang tua yang ingin melihat anaknya bertanding juga harus mengurungkan niatnya. Sehingga tak sedikit dari mereka yang bertanya-tanya kenapa Mess Persebaya yang selama ini menjadi tempat pembinaan anak-anaknya, ditutup.

”Ini kan nilai positif agar anak-anak berprestasi, bagaimana membina anak-anak untuk internal Persebaya kalau hanya bertanding seperti ini bermasalah,” kata Oviana Johar, salah satu orang tua pemain.

”Kita sebagai orang tua kecewa, karena ini hal positif daripada anak-anak keluyuran ke mana-mana, di sini kan ada tujuannya,” imbuh orang tua dari pemain Indonesia Muda, Gardika Arya tersebut.

Mencari Solusi

Pemakaian Wisma Persebaya menjadi polemik setelah Pemkot Surabaya melakukan pengosongan dan penyegelan yang eksekusinya dilakukan oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) setempat, 15 Mei 2019 lalu. Sejak saat itu, gedung yang berada di belakang Stadion Gelora 10 November tersebut diambil alih pemkot.

Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini menyampaikan, penyegelan dilakukan sebagai upaya pengamanan terhadap aset Pemkot Surabaya. Sebab, setiap tahun, pemanfaatan dan penggunaan aset, salah satunya Wisma Persebaya, harus dilaporkan ke Badan Pemeriksa Keuangan.

”Pengamanan aset sudah menjadi salah satu kewajiban pemerintah kota. Makanya kita ingin menyelamatkan aset pemkot itu. Saya tidak kepingin teman-teman Persebaya tidak punya tempat untuk itu, tapi saya juga mau adil,” ungkap Risma di Balai Kota, 16 Mei lalu.

Risma merasa perlu berlaku adil karena pengamanan aset tidak hanya menyangkut Wisma Persebaya, tetapi juga lahan lain milik Pemkot Surabaya, seperti yang digunakan TVRI maupun Universitas Merdeka Surabaya.

Kepala Bappeko, Eri Cahyadi, yang bertanggung jawab atas penyegelan Wisma Persebaya mengaku tidak tahu jika kompetisi internal harus tertunda akibat pintu dan pagar lapangan digembok. Eri masih perlu berkoordinasi dengan Dinas Pemuda dan Olahraga setempat.

Tetapi, dia menjamin Persebaya Amatir bisa menggunakan tempat itu untuk memutar kompetisi internal. Jika pun ada renovasi terhadap gedung maupun bangunannya, dia membuka opsi bagi pengurus untuk menggunakan lapangan lain milik Pemkot Surabaya.

”Ini urgen karena terkait kegelisahan para orang tua yang tidak bisa melihat anaknya mengikuti kompetisi,” jelasnya.

Eri menegaskan, Pemkot Surabaya tidak akan menjadi penghambat lahirnya talenta muda di Surabaya dengan adanya polemik tersebut. Sehingga kata dia, pihaknya akan secepatnya mencari solusi terbaik. (Sahrul Mustofa)

print

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.