Pompa Hidram Pembawa Air Bersih

BANYUWANGI – Hampir 20 tahun warga Dusun Tretes, Desa Telemung, Kalipuro, Banyuwangi memanfaatkan air bersih dari sumber mata air. Menggunakan pompa ram hydrolik atau hidram, warga memindahkan air dari kedalaman jurang ke rumah-rumah mereka.

Hidram adalah salah satu jenis pompa air yang bekerja tidak menggunakan tenaga listrik atau bahan bakar minyak. Pompa ram bekerja karena dijalankan oleh tenaga air itu sendiri, dengan memanfaatkan sejumlah besar tenaga aliran air. Pompa ini akan menaikkan air ke tempat yang lebih tinggi.

“Kami menghabiskan 100 pipa ukuran 1 dim untuk mengangkat air dari sumbernya. Menggunakan tandon, air itu dialirkan ke rumah-rumah warga,” kata Syamsi Hadi, warga Dusun Tretes kepada Jatimplus, akhir pekan lalu.

Saat ini sudah ada tiga pompa Ram yang mengangkat air dari dari kedalaman jurang 100 meter untuk dialirkan ke rumah warga. Sebelumnya aliran tersebut dimasukkan ke dalam tandon yang berjarak 500 meter dari sumber mata air.

Menurut Syamsi, pada awalnya sumber mata air muncul dari sisi tebing di desanya. Namun belakangan air tersebut sudah keluar dari dalam tanah, persis di sebelah pohon beringin. Debit air yang keluar dari mata air ini cukup deras hingga memenuhi kebutuhan air bersih ratusan warga di Desa Telmung dan Desa Kelir.

Hebatnya, proses tersebut tak harus menggunakan pompa hidrolik. Hal ini ditopang kondisi topografi dataran sumber mata air yang lebih tinggi dari permukiman penduduk.

Syamsi Hadi, warga Dusun Tretes, Banyuwangi merawat instalasi saluran air. Foto:
Widie Nurmahmudy

Kondisi ini agak berbeda dengan topografi Dusun Tretes yang berada lebih tinggi dari sumber mata air. Dusun ini berada di rentang 100 meter lebih tinggi hingga menyulitkan mendapatkan pasokan air bersih. “Mereka harus turun ke jurang dengan kedalaman 100 meter untuk membawa bak air,” kata Syamsi.

Situasi inilah yang memantik kreativitas masyarakat untuk membangun pompa Ram, sebagai solusi teknologi menikmati air bersih tanpa mengeluarkan biaya besar dan menjaga kelestarian lingkungan.

Dari tiga pompa yang dibangun di lokasi sumber mata air, terdapat 12 titik kran yang berfungsi menjadwal aliran air ke rumah warga. Terdapat sedikitnya 70 kepala keluarga yang bergantung pada aliran air tersebut.

Air itu tak dijual kepada warga. Sebagai gantinya, setiap keluarga pengguna diwajibkan mengganti biaya perawatan instalasi pompa sebesar Rp 15.000. Uang itu dialokasikan untuk biaya perbaikan klep dan pembelian pipa jika terjadi kerusakan atau hilang.

“Dulu iuran hanya Rp 5.000, sekarang sudah Rp 15.000. Ssetiap bulan kami akan mengganti klep yang menjadi pendorong naiknya air,” kata Syamsi.

Sejauh ini proses perbaikan lebih banyak pada penggantian paralon, peralatan mesin yang jebol, dan penggantian klep sebanyak 2-3 kali per bulan. Agar tak menjadi mahal, warga mensiasati dengan penggunaan klep dari ban bekas.

Selain biaya perawatan, nyaris tak ada beban ekonomi yang dipikul warga pengguna air. Sebab secara mekanis pompa ini tak memerlukan tenaga listrik atau bahan bakar minyak. Pompa yang telah dimodifikasi ini diklaim mampu mengangkat air hingga ketinggian vertikal 50-80 meter dengan membawa radius 2 kilometer dalam keadaan ideal. Dengan debit air 30 liter per menit, saluran itu  mampu melayani penduduk hingga satu desa.

“Air ini sangat membantu usaha pembuatan tempe di rumah. Sebab industri ini sangat membutuhkan banyak air,” kata Zamroni, 46 tahun, perajin tempe di Dusun Tretes Wetan. Dengan instalasi ini dia tak harus turun ke dasar jurang untuk mengambil air.

Kepala Desa Telemung, Misdi mengapresiasi inovasi yang dilakukan warganya. Bahkan sebelum pemerintah mengucurkan dana desa, warganya sudah melakukan inovasi pompa air tersebut. “Itu inovasi dari warga yang sudah ada sebelum dana desa muncul,” kata Misdi. (Widie Nurmahmudy)


RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.